JENTERA LEPAS PERJALANAN OLAHRAGA INDONESIA

Jentera adalah roda pemintal benang. Jika dia lepas, benang pun akan beruraian kusut. Demikian perjalanan dunia Olahraga prestasi negeri ini.Tetapi, dalam kekusutan itu sebenarnya ada harga sebuah nilai kebangsaan. Sea Games ke 27 yang rencananya akan digelar di Naypityaw Myanmar tinggal hitungan hari. Suka ataupun tidak pesta olahraga antar bangsa Asia Tenggara tersebut bagi negeri ini tetaplah merupakan titik kulminasi dan barometer olahraga prestasi. Ironis, sementara beberapa negara pesaing pada region yang sama kini berani punya obsesi menerbangkan atletnya ke level multi-event yang lebih tinggi.
Dikatakan Ironis karena sesungguhnya pada suatu masa, bangsa ini pernah punya sebuah obsesi tinggi yang mendahului negara – negara elit Olahraga Asia lainnya. 51 tahun lalu bangsa dengan populasi penduduk 250 juta jiwa ini pernah mencanangkan untuk menjadi negara elit Olahraga dunia. Dibidik dengan program yang berorientasi pada kebenaran sebuah proses, bertolak belakang dengan kondisi terkini yang lebih menjagokan jalan pintas.Bertempat di Bandung pada salah satu acara pengukuhan kontingen menjelang Asian Games Jakarta 1962, Presiden Soekarno dalam amanatnya berkata “ Buat apa toh sebetulnya kita ikut – ikut Asian Games ?,Tak lain tak bukan ialah sebenarnya kita ini harus mengangkat kita punya nama. Nama kita yang tiga setengah abad tengelam di dalam kegelapan. Nama kita yang tadinya gilang gemilang, nama kita tadinya yang tertulis di dalam kitab suci yang tertinggi di India, Jabadiuk-Swarna Dwipa (Jawa-Sumatera). Nama kita yang di tulis di kitab – kitab kuno sekarang itu, in de annalen van de geschiedenis van Tiongkok, saudara – saudara, Silifitoze (Sriwijaya). Nama kita yang sampai sekarang masih disebut oleh orang asing di sekeliling kita dengan nama Majapahit “ Selanjutnya Presiden Soekarno dalam amanatnya juga menegaskan  Kemerdekaan Indonesia adalah pintu gerbang untuk masuk ke gelanggang Internasional sebagai bangsa baru, olahraga adalah alat untuk melaksanakan tiga tujuan revolusi Indonesia yaitu : Negara kesatuan Republik Indonesia yang kuat, masyarakat adil dan makmur, dan tata dunia baru. Dengan demikian olahraga adalah alat untuk melaksanakan ampera (amanat penderitaan rakyat).”Engkau adalah olahragawan. Itulah kau punya wilayah, tetapi dedication of life-mu harus untuk Indonesia. Nah, inilah pesan yang aku berikan pada saat sekarang ini, dengan harapan agar kita nanti, bukan saja di dalam pertandingan-pertandingan Asian Games, tetapi seterusnya kita ini membangun suatu nation Indonesia, nation building Indonesia, yang membuat bangsa Indonesia bangsa yang mulia, bangsa yang tegak berdiri, bangsa yang bahagia,” Demikian Presiden Soekarno saat memberikan amanat kepada atlet di Sasana Gembira, Bandung, 9 April 1961.Sukarno pada eranya menempatkan Olahraga prestasi sebagai alat perjuangan, instrument untuk proyeksi keunggulan, harkat dan martabat bangsa melalui sukses pada ajang pertandingan internasional. Setelah melakukan upacara pengkukuhan atlet Indonesia untuk Asian Games, Presiden Soekarno pun melakukan peninjauan langsung ke pelatnas di Bandung. Disana Presiden Soekarno banyak medapat penjelasan dari M.F Siregar yang saat itu menjadi penanggung jawab pelatnas. Tim Indonesia yang dibentuk ini kemudian medapat tantangan untuk bisa mewakili Indonesia di setiap cabang olahraga. Setiap anggota tim harus memiliki rasa kebangsaan yang tebal, rasa perjuangan yang menyala – nyala, bermoral tinggi, berkemauan keras untuk menang dan memiliki sifat – sifat sportif, penuh disiplin dan percaya diri. Semua atlet Indonesia yang akan bertanding di Asian Games diberi target untuk bisa mencapai “ The Big Six Asian “.
PERSIAPAN MATANG
Indonesia terpilih menjadi tuan rumah dalam sidang Asian Games Federation tahun 1958 di Jepang. Sebagai calon tuan rumah Indonesia berupaya maksimal mempersiapkan diri. Persiapan kontingen Indonesia itu dilakukan dengan sistem Pemusatan latihan nasional. Ide itu dicetuskan oleh ketua KONI saat itu dan merupakan cikal bakal Pemusatan Latihan Nasional hingga saat ini. D Suprajogi adalah pencetus sistem Pelatnas pada tahun 1960. Pada saat itu ia menjabat sebagai Menteri Produksi dan Pekerjaan Umum sekaligus sebagai Ketua KONI dan Ketua PB PRSI. Pada saat itu beberapa cabang olahraga melaksanakan pelatnas di Bandung.
Target tinggi pun dipasang, yakni Indonesia harus minimal masuk dalam lima besar. Pada tahun 1959, atau satu tahun setelah Indonesia memenangi pemilihan tuan rumah Asian Games IV, digelar gerakan massal pencarian bakat (talent scouting). Maka dibentuklah Panitia Bibit Provinsi dan Panitia Bibit Kabupaten.
Dari proses pencarian bakat di 20 provinsi diperoleh 419 atlet. Setelah melewati seleksi terakhir, jumlah tersebut berkurang menjadi 333 orang. Mereka inilah yang bakal membela Indonesia dalam Asian Games IV, dengan mengikuti keseluruhan dari 13 cabang yang digelar.Jumlah anggota kontingen sebanyak itu tentu tergolong besar. Sebagai perbandingan, untuk mengikuti 21 cabang dari 42 cabang yang digelar pada Asian Games XVI/2010 di China, Indonesia mengirim 212 atlet.
Sebagian besar cabang diasuh pelatih asing serta beruji tanding di luar negeri, tak heran bila kemudian kontingen Indonesia pada Asian Games 1962 menorehkan hasil membanggakan, yakni menempati urutan kedua dalam daftar perolehan medali.
Jepang, seperti pada tiga Asian Games sebelumnya, menjadi juara umum dengan 73 emas, 55 perak, dan 24 perunggu. Indonesia berada di urutan kedua, walau memiliki perolehan emas terpaut cukup jauh daripada Jepang, yakni 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Posisi ketiga ditempati Filipina dengan 7 emas, 6 perak, serta 25 perunggu.
Bulu tangkis menyumbangkan lima emas untuk Indonesia. Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Tutang, Unang, dan Liem Tjeng Kiang mendapat emas beregu putra. Minarni, Retno Kustiah, Corry Kawilarang, Happy Herowaty, serta Goei Kiok Nio berjaya di beregu putri. Tiga emas lainnya didulang dari tunggal putra (Tan Joe Hok), tunggal putri (Minarni), dan ganda putri (Minarni/Retno Kustiah).
M Sarengat mempersembahkan dua emas dari cabang atletik, lari 100 meter dan 110 meter gawang putra. Mencetak waktu tempuh 10,5 detik untuk lari 100 meter putra, Sarengat sekaligus memecahkan rekor Asian Games. Loncat indah tidak mau ketinggalan dengan satu emas (papan 3 meter putri) berkat Lanny Gumulya.
Sistim Pemusatan latihan nasional yang dilakukan di atas, kelak ditiru oleh banyak negara Asia lainnya. Sementara Indonesia seiring dengan badai politik yang menerpa kemudian menjelma menjadi bangsa instan.
Selain tahapan persiapan kontingen seperti tersebut di atas, selama lebih kurang empat tahun, Indonesia berjuang keras mewujudkan berbagai infrastruktur dan venue yang diperlukan bagi penyelenggaraan Asian Games IV/1962. Sebagai tuan rumah, Indonesia mati-matian ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa bekas negeri jajahan Belanda ini mampu menggelar kegiatan olahraga berskala internasional.
Di depan maket Stadion Senayan Bung Karno menunjuk-nunjukkan tongkatnya ke maket rencana Stadion “Ini…ini akan jadi Stadion terbesar di dunia, ini adalah awal bangsa kita menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia, semua olahraga dari negara-negara di dunia ini, berlomba disini. Kita tunjukkan pada dunia, Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya”.
Kompleks olahraga Senayan pun didirikan di Jakarta. dibangun mulai tanggal 8 Februari 1960  sebagai kelengkapan sarana dan prasarana menuju Asian Games. Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS dan kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.
Di dalam kompleks, terdapat Stadion Utama Senayan nan megah yang mampu menampung 100.000 penonton. Belum lagi Stadion Renang, Stadion Tenis, dan Istana Olahraga (Istora).
Di luar Senayan, untuk menjamu tamu penting dari negara lain, Indonesia membangun hotel mewah, Hotel Indonesia. Persoalan transportasi diatasi dengan membangun Jembatan Semanggi serta jalan raya baru Tanjung Priok-Cawang, Jakarta Bypass.
Beberapa bulan menjelang Asian Games 1962 yang digelar pada tanggal 24 Agustus-4 September, tim inspeksi dari sejumlah negara Asia menyepakati bahwa Indonesia siap menjadi tuan rumah. Penilaian ini tidak keliru karena Asian Games IV akhirnya memang dapat terselenggara dengan cukup baik.
OLAHRAGA DAN POLITIK
Berlangsung dari tanggal 24 Agustus 1962 sampai 4 September 1962, 1.460 atlet berlaga, datang dari 16 negara, dengan 15 cabang olahraga. Asian Games IV sebenarnya mengalami tekanan besar dari Komite Olimpiade Internasional. Pasalnya adalah Indonesia enggan mengundang kontingen Israel dan Taiwan, dampaknya IOC menarik dukungan terhadap Asian Games IV. Asosiasi Federasi Atletik Internasional (IAAF) dan Federasi Angkat Besi Internasional juga menarik pengakuan mereka terhadap Asian Games IV.
Indonesia sebagai tuan rumah ketika itu tidak mengundang tim dari Israel dan Taiwan yang merupakan anggota Federasi Asian Games, dengan dalih untuk menghormati negara-negara Arab dan Republik Rakyat China. Ini menyalahi undang-undang Asian Games Federation. Meski sebelumnya sudah berjanji akan mengundang delegasi dari tiga negara yang kala itu tidak memiliki hubungan diplomatik, yaitu Israel, Republik China atau Taiwan dan Korea Selatan.
Bagaimanapun, Asian Games tetap berlangsung dengan baik. Di tengah ancaman konfrontasi dengan Belanda berkaitan dengan nasib Irian Jaya (Papua), Indonesia membuktikan mampu tetap mempersiapkan Asian Games IV sesuai dengan yang diharapkan. Sarengat dan kawan-kawan juga berhasil menempati posisi kedua dalam daftar perolehan medali, sebuah pencapaian yang entah kapan bisa terulang lagi.
PERKEMBANGAN OLAHRAGA DUNIA
Seiring dengan berjalannya waktu, kompetisi olahraga internasional telah menjadi tempat uji coba dari apa yang dikenal sebagai “ the Global Sporting Arms Race” menggantikan “The Global Arms Race” sebuah istilah yang populer saat era perang dingin antara blok barat dan blok timur.
Ciri utama dari pertarungan olahraga global dan antar bangsa adalah inovasi dan modernisasi seluruh faktor yang mempengaruhi sukses prestasi, mulai dari kebijakan nasional,strategi, organisasi, insfrastuktur, pembinaan atlet jangka panjang dan program latihan, struktur kompetisi, sport science dan industri olahraga. Akibat logis dari itu semua adalah pengakuan olahraga prestasi sebagai profesi yang menuntut spesialisasi berikut edukasi dan latihan yang sistematik termasuk penetapan jalan karir bagi para atlet dan seluruh unsur pendukungnya.   pencapaian sukses olahraga prestasi merupakan hasil (out Come) dari suatu proses keunggulan manajemen olahraga (Managing Excellence In Sport Performance) yang menggunakan pendekatan sistemik serta didukung praktek dan kultur korporasi. Sangat disadari sukses diberbagai kompetisi internasional sudah tidak mungkin lagi dapat dicapai manakala pembinaan olahraga prestasi hanya bertumpu pada konsep volunter (relawan) dan amatirisme. Akibat yang tak terhindari adalah semakin besarnya investasi yang berasal dari pemerintah dan dana dari pihak swasta selaku sponsor sehingga menuntut pengelolaan yang lebih transparan, lebih akuntable dan berkeadilan.
dilingkungan internasional melalui berbagai forum kajian dan seminar disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sukses suatu negara dalam berbagai kompetisi internasional ditentukan oleh seperangkat pilar utama seperti adanya kebijakan nasional, dukungan finansial, laju pengembangan mulai dari tingkatan inisiasi ke partisipasi, pengelolaan proses kegiatan pencarian dan pengembangan bakat menuju tingkatan atlet prestasi, dan puncaknya adalah pembinaan atlet andalan (elit) guna diturunkan dalam berbagai kompetisi internasional. Disisi lain keberhasilan alur pembinaan tersebut akan sangat memerlukan pilar-pilar pendukung seperti fasilitas latihan, kompetensi pelatih, keteraturan struktur kompetisi dan ketersediaan dan aplikasi dukungan sport science.
ORIENTASI PADA PROSES
Seperti telah disebutkan di atas bahwa usai memenangkan pemilihan tuan rumah Asian Games IV, digelar gerakan massal pencarian bakat (talent scouting). Proses pencarian bakat dilakukan di 20 provinsi. Diperoleh 419 atlet setelah melewati seleksi terakhir, dalam sebuah proses yang berdurasi 4 tahun jumlah tersebut berkurang menjadi 333 orang. Sebuah upaya perburuan prestasi tingkat tinggi memang tidak dapat diraih melalui jalan pintas. Setelah keberhasilan pada Asian Games Jakarta, raport olahraga negeri ini kemudian mengalami stagnasi. Peringkat pada pesta olahraga multi even Asian Games merosot.
Kondisi politik di Indonesia pasca Asian Games dan Ganefo menyebabkan terputusnya pembinaan olahraga nasional. Secara politis olahraga tidak lagi menjadi landasan dasar untuk mengangkat martabat negeri ini di dunia internasional.
Semangat juang berlandaskan visi Sukarno yang menempatkan olahraga sebagai alat Nation and Character Building hilang di era orde baru yang mengambil alih tatanan sosial politik pasca Gerakan 30 September ( G30S) Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pasca Asian Games IV 1962 dan Ganefo I 1963, praktis Indonesia tidak terlalu aktif dalam berbagai pesta olahraga. Sementara generasi atlet juga sudah berganti. Penghujung dekade 70 an, kita tenggelam dalam euphoria baru sebagai penguasa Olahraga Asia Tenggara. Adalah South East Asia Peninsula ( SEAP ) Games sebuah pesta olahraga multi even antar negara semenanjung Asia Tenggara yang digelar dengan bingkai tujuan menggalang persahabatan dan meningkatkan prestasi olahraga. SEAP Games diikuti tujuh negara yaitu Thailand,Burma,Malaysia,Singapura,Vietnam,Laos dan Kamboja. Karena satu dan lain hal yang berhubungan dengan kelanjutan penyelenggaraan yang menampakan tanda-tanda kearah kritis maka pada tahun 1975  Malaysia sebagai kandidat penyelenggara SEAP Games mengusulkan perubahan nama sekaligus memasukan Indonesia dan Filipina sebagai kontestan baru sekaligus usulan perubahan nama menjadi SEA Games.
Indonesia seperti disebutkan di atas kemudian tenggelam dalam sukses semu sebagai penguasa olahraga Asia Tenggara.Dikatakan demikian karena SEA Games seolah adalah titik kulminasi tertinggi pencapaian prestasi.  Sesungguhnya SEA Games adalah anak tangga pertama menuju performa tinggi di pesta olahraga multi even pada level yang lebih tinggi sepertia Asian Games dan Olimpik Games.
Gelar penguasa Asia Tenggara pun dalam perjalanannya mulai menemui banyak hambatan, tegusur oleh negara Asia Tenggara lainnya. Sejak tahun 1999 Indonesia tersingkir dari puncak tahta.
Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan wajah olahraga negeri ini, ketika gagal menjadi pengumpul medali terbanyak SEA Games 1985. Program Garuda emas yang dahsyat dalam kemasan namun tanpa implementasi mengemuka. Berlanjut kemudian dengan program Indonesia Bangkit yang tak pernah berhasil membawa prestasi olahraga negeri ini untuk bangkit karena berbenturan dengan banyak variabel.
Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional kemudian muncul pada tahun 2005 merupakan landasan hukum bagi Olahraga, dimana dalam salah satu pasalnya menyebutkan bahwa pemerintah bertanggungjawab terhadap pembinaan prestasi olahraga. Karena pemerintah harus bertanggungjawab, maka pada era Adhyaksa Dault sebagai Menpora dibentuklah program PAL. Sebuah solusi pembinaan atlet secara berkesinambungan, dimana induk organisasi cabang olahraga juga berperan di dalam membina atlet menuju prestasi di berbagai single event dan multi event. Hasil dari PAL akan dikembalikan kepada PB. PAL mulai membawa arah pembinaan olahraga pretasi menjadi meruncing.
Karena upaya peningkatan prestasi tidak memiliki fondasi sebuah “Grand Design”, ditambah pengaruh budaya ganti pejabat ganti kebijakan dalam perjalanan waktu PAL kemudian berganti wajah menjadi Program Indonesia Emas (Prima).
Hasilnya supremasi sebagai pengumpul medali emas terbanyak SEA Games berhasil diraih, ini kali pertama sejak tahun 1997. Meski sesungguhnya jika dihitung secara obyektif sebatas cabang Olimpiade negeri ini kalah 1 keping medali emas dari Thailand yang mengumpulkan 84 medali emas. Pola pembinaan olahraga di Indonesia memang nampak tidak fokus. Seharusnya, negeri ini lebih serius membina cabang – cabang olahraga Olimpiade.
Indonesia punya beberapa cabang olahraga yang sangat potensial di Olimpiade. Di antaranya ialah renang, bulu tangkis serta angkat besi. Dua cabang olahraga terakhir terakhir malah selalu menjadi andalan Indonesia di Olimpiade.
Cabang olahraga Olimpiade idealnya lebih mendapat prioritas. Bukan hanya dari segi pembinaan, namun juga pendanaan. Selama ini, nyaris tak ada perbedaan berarti terhadap cabang olahraga Olimpiade atau non Olimpiade.  Hal itulah yang membuat Indonesia tertatih – tatih pada even sekelas Olimpiade.
BELAJAR DARI CHINA
Harus ada terobosan untuk membangkitkan prestasi olahraga Indonesia dari tidur panjang. Datangnya era reformasi yang membuat negeri ini makin demokratis, ternyata tidak berbanding lurus dengan pencapaian di bidang olahraga.
Indikatornya sangat jelas, sejumlah prestasi kelas dunia yang sempat ditorehkan pada masa lalu, kini  tak kunjung terulang.
Tak usah bicara dunia, di ASEAN saja Indonesia tak bisa banyak bicara.
pada ajang Asian Games ke-16 terakhir di Guangzhou China, Indonesia hanya mampu menempati posisi ke-13 dengan 4 medali emas, 9 perak, dan 12 perunggu. Cabang olahraga yang ditargetkan menyumbang emas, seperti wushu, angkat besi, dan bulutangkis beregu, gagal total. Beruntung, atlet perahu naga putra yang nyaris tidak  berangkat, mampu mempersembahkan tiga medali emas. Satu emas tambahan datang dari bulutangkis perorangan nomor ganda putra.
Pencapaian Indonesia kalah jauh dari Thailand yang menduduki peringkat        9 dengan 11 medali emas dan Malaysia di nomor 10 dengan 9 emas. China di urutan teratas dengan 197 emas. Jelas ada yang salah dengan pembinaan olahraga kita. Untuk itu, harus ada evaluasi total atas sistem pembinaan olahraga kita, yang diikuti dengan penerapan strategi jitu mendongkrak prestasi.
Syarat utama kemajuan olahraga Indonesia saat ini adalah perhatian pemerintah yang lebih serius. Pemerintah harus menjadi motor penggerak, agar semua komponen bangsa terpanggil memberikan sumbangsih. Segudang masalah yang menjadi kendala, seperti kompetisi yang kurang, tidak adanya sistem pembinaan berjenjang, minimnya fasilitas pendukung, dualisme Kemenpora dan KONI, dan sebagainya,  harus segera dibenahi.
Masalah dana yang paling sering disuarakan sebagai kendala utama pembinaan olahraga harus dicarikan solusinya. Harus ada mekanisme pendanaan yang jelas bagi cabang olahraga prioritas  Selain mengandalkan dana dari APBN dan APBD, pemerintah semestinya bisa mendorong pihak swasta untuk lebih berperan dalam memacu prestasi olahraga di Tanah Air. Catatan menunjukan bahwa dari sekian banyak perusahaan nasional, tak sampai sepuluh yang aktif mensponsori kegiatan olahraga. Itu pun umumnya perusahaan rokok.
Padahal, pemerintah bisa “memaksa” swasta berkontribusi sebagai bagian dari program corporate social responsibility (CSR). Keterlibatan swasta tidak saja berpotensi melahirkan bibit-bibit atlet berprestasi, tetapi juga meningkatkan kesehatan masyarakat. Pola seperti ini akan  membuat program CSR lebih bermakna.
Pemerintah harus mendorong agar budaya olahraga makin tumbuh dalam masyarakat. Analisis menunjukan bahwa negara yang budaya olahraganya kuat, umumnya prestasi olahraganya tinggi.
Kehebatan prestasi olahraga China dibangun di atas fondasi budaya olahraga masyarakatnya yang kuat. Di   negeri ini sulit kita temukan lapangan atau taman-taman olahraga yang kosong dari kegiatan olah fisik warganya.
Negeri ini harus bisa memetik pelajaran dari China, yang mampu berdiri tegak di kancah olahraga internasional. China mampu menyelaraskan kemajuan ekonominya dengan pencapaian prestasi atlet-atletnya. Tak salah hipotesis yang menyebutkan bahwa prestasi olahraga paralel dengan pencapaian bidang-bidang lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Lepas dari hipotesis tersebut, pencapaian olahraga China 10 tahun belakangan ini sesungguhnya tidak terjadi begitu saja. Peningkatan prestasi mereka dibangun sistematis dengan menetapkan  “10 Arah Pembangunan Olahraga Nasional”. Melalui program ini, China antara lain menetapkan kerangka kebijakan olahraga nasional; menyiapkan reformasi industri olahraga dan menerapkan strategi jangka panjang dan menengah; meningkatkan partisipasi dan kesempatan berkegiatan olahraga; serta mendukung penelitian dan pembangunan olahraga serta mempromosikan pencapaian-pencapaian tertinggi dalam olahraga. “Grand Design”       seperti inilah yang tampaknya perlu kita miliki bila ingin diperhitungkan di pentas-pentas olahraga internasional.
Sesungguhnya negeri ini mampu karena kondisi tersebut di atas, pernah digelar dalam bentuk dan kondisi sesuai dengan jamannya, sebelum berantakan digerus oleh gelombang politik. Dibutuhkan kemauan dari semua elemen peningkatan prestasi, untuk kembali menempatkan olahraga sebagai alat perjuangan, instrument proyeksi keunggulan, harkat dan martabat bangsa. Satu – satunya cara untuk itu adalah proses pembinaan harus kembali pada paradigma yang berorientasi pada proses.Tanpa hal tersebut negeri ini hanya akan tertipu oleh fatamorgana prestasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s