CAMPUR TANGAN TUHAN

Cerita ini membekas cukup dalam dan sebelumnya pernah diturunkan dalam bentuk artikel pada blog terdahulu, setara dengan beberapa peristiwa yang pernah penulis alami sebelumnya. Sebut misalnya pengalaman mencekam di terpa angin dahsyat akibat Avalanche (salju longsor) saat berada di ridge/gigir pada perjalanan menuju Base Camp Annapurna IV Himalaya tahun 1990. Beruntung ada jurang selebar panjang lapangan sepak bola yang memisahkan lintasan Avalanche dengan posisi penulis dan salah seorang Sherpa (pemandu). Begitu dahsyatnya kejadian tersebut sehingga penulis saat itu termenung cukup lama sambil membatin “seandainya”. Peristiwa lain adalah saat nyaris tenggelam dalam lumpur di tengah hutan belantara Lampung, beruntung rekan seperjalanan Iwan Abdul Kadir yang berjalan beberapa meter  di depan tanggap terhadap teriakan dan dengan sigap melemparkan tali yang menyelamatkan penulis. Butuh waktu beberapa menit terdiam, menghabiskan sebatang rokok sambil membathin “apa jadinya bila tadi sendirian”. Peristiwa tersebut “ga momment banget” karena saat itu kondisi di hutan lumayan temaram menjelang senja.
Peristiwa lainnya lebih dikenal karena sempat jadi topik hangat, pada medio tahun 2009 lalu.Semua penggemar Manchester United yang ada di Indonesia saat itu tentu sangat kecewa ketika The Red Devils batal berkunjung. MU sebenarnya sudah berencana menyambangi Indonesia untuk melakukan tur Asia. Namun mereka membatalkan kunjungannya akibat bom yang meledak di Hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton.
Akibatnya Jakarta gagal berpesta, dua ledakan dahsyat di salah satu titik paling strategis ibukota memupus khayalan jutaan penggemar fanatik Manchester United negeri ini yang sudah terlanjur menghitung mundur hari menuju tanggal akbar 20 Juli 2009. M.U memutuskan menjauh dan memilih berlama – lama di Kuala Lumpur yang saat itu  punya atmosfir yang jauh lebih nyaman dibandingkan kondisi Jakarta.
“Dikepung teror bom”, “teror bom Jakarta”, begitu rata – rata judul yang dijagokan sebagian besar media cetak dan elektronika negeri ini untuk mendongkrak tiras. Clinton strategi yang digadang-gadang berikut 6000 personil pengamanan yang akan digelar sebagai perisai pengaman laga akbar dibuat terhenyak di pagi cerah bertanggal 17 Juli 2009.
KRONOLOGIS
Pagi itu ditengah obrolan santai dengan rekan Sudirman yang sekamar dengan penulis, kami dikejutkan oleh ketukan keras pada pintu kamar. Jam masih menunjukan pukul 05:30 WIB saat Head Coach Tim nasional Benny Dolo berdiri diambang pintu dengan kondisi siap berangkat menuju tempat latihan. Sebagai asisten pelatih, kondisi Ini jelas membingungkan bagi kami berdua, karena menurut kesepakatan malam sebelumnya, latihan di pagi itu baru akan dimulai pada jam 08:00, normalnya  tim baru akan berangkat dari hotel pukul 07:30 seusai sarapan pagi.
Namun sebagai asisten dengan segera kami menyesuaikan diri dengan perubahan tak terduga tersebut. Wajah – wajah pemain penuh dengan tanda tanya saat turun dari lift dan  berkumpul di lobby hotel menjelang keberangkatan. Para pembantu umum sebagai bagian dari perangkat tim menyikapinya dengan tangkas, mereka berlari ke ruang makan untuk mengambil roti bagi para pemain sekedar mengganjal perut. Bus kemudian berangkat meninggalkan hotel menuju kawasan Senayan dengan atmosfir aneh. Betapa tidak semua elemen dari tim nasional saat itu  mengetahui bahwa latihan pagi itu mengalami perubahan jadwal yang tidak biasa.
Latihan belum lagi separuh jalan berlangsung, terjadi lagi kejutan susulan ketika beberapa orang berlari memasuki lokasi lapangan latihan.Mengabarkan informasi adanya ledakan di hotel Mariot. Isnan Ali salah seorang pemain mengabarkan itu kepada penulis yang saat itu berada di sisi berbeda dari lapangan latihan. Penulis mengomentarinya hanya dengan kata singkat “mungkin diesel generator hotel meledak”. Namun tak lama kemudian semuanya menjadi jelas, bahwa pagi itu terjadi ledakan dahsyat akibat bom bunuh diri.
Kondisi tersebut di atas membuat kami semua tidak dapat kembali ke hotel Mariot yang langsung disterilkan oleh aparat. Seluruh anggota tim dengan pakaian basah karena keringat langsung diungsikan ke hotel Sultan yang terletak ratusan meter dari lokasi lapangan latihan. Sebuah kejutan tak nyaman di pagi 17 Juli 2009.
Pagi itu kami lolos dari maut beberapa puluh menit sebelum terjadinya ledakan.Perubahan jadwal latihan yang tak biasa, boleh jadi mungkin salah satu yang menyelamatkan kami. Coach Bendol demikian Benny Dolo biasa akrab di panggil, bahkan tidak mampu menjelaskan sebab-musabab mengapa di pagi itu secara tak terduga memerintahkan semua anggota tim untuk berangkat lebih cepat diluar jadwal yang disepakati.Sebagai orang percaya, penulis yakin bahwa ini semua adalah campur tangan Tuhan yang begitu luar biasa.
Sungguh ironis bangsa berpopulasi di atas 200 jiwa ini bisa terus menerus kecolongan meski sesunggahnya telah sangat berpengalaman menghadapi tindak brutal terorisme. Dalam hierarki kekerasan, aksi terror dan terorisme berada di puncak. Terorisme merupakan puncak kekerasan, terrorism is the apex of violence. Itu pula menjadi gambaran kualitas aksi teror di Jakarta hari Jumat 17 Juli 2009 lalu. Atmosfir ketakutan berikut kengerian alam maut. Martin Heidegger dalam analisinya menyimpulkan bahwa ketakutan dan kecemasan merupakan ekspresi keberadaan menuju maut, zeit zum tode. “Bunuhlah seekor ayam untuk menakut – nakuti seribu ekor kera” begitu kata pepatah china. Bukan hanya ribuan, melainkan jutaan bahkan miliaran orang ketakutan oleh serangan teroris yang seiring berjalannya waktu cenderung spektakuler. Kaum teoris semakin mahir menggunakan bom, termasuk senjata tercanggihnya yakni bom bunuh diri. Hebatnya aksi mereka digelar tanpa mengenal batas wilayah Crime Without Frontiers.
Beruntung di pagi itu tim Indonesia all star memutuskan berangkat latihan lebih cepat tanpa sarapan pagi. Roda  mesin persiapan tim yang digelar sejak awal bulan Juli langsung mendadak berhenti. Akselerasi signifikan yang didemostrasikan para pemain sepanjang masa persiapan di kawasan Sawangan jadi tak punya muara akhir. Bahwa pihak MU mundur jelas merupakan sikap paling bijak ditinjau dari sisi kepentingan bisnis mereka kedepan. Kumpulan individu bertalenta tinggi yang ketrampilan dan inteligensinya dalam mengolah bola dihargai dengan nilai nominal fantastis jelas adalah aset ekonomis bernilai tinggi yang harus diamankan dari resiko terkecil sekalipun. Kata “tidak” jelas adalah kalimat spontan paling bijak yang terbukti sulit untuk didiskusikan meski upaya kearah itu telah pula telah dicoba, upaya pamungkas untuk menghindar dari kerugian bernilai fantastis. Konon nilai kerugian yang ditimbulkan jumlahnya mendekati bilangan 50 miliar rupiah.”Saya belum pernah ke Indonesia dan saya tahu Federasi Sepakbola Indonesia telah bekerja keras untuk menyambut kami.Tapi,pemboman Hotel Ritz sangat menakutkan dan kami harus melindungi keselamatan para pemain dan ofisial,”Demikian kata Sir Alex  Ferguson seperti dilansir tabloid The Sun. MU rencananya akan tiba di Jakarta, Sabtu 18 Juli untuk kemudian ditunggu beragam kegiatan bernilai jual tinggi. Dua hari berselang juara premiere league 2008 – 2009 dijadwalkan akan uji coba melawan tim Indonesia All Star, entah doktrin apa yang merasuki benak dua pelaku bom bunuh diri di pagi itu. Namun dua ledakan dahsyat yang diakibatkannya memporak porandakan agenda tersebut di atas, namun apapun dampak yang ditimbulkannya We Are Still Stong Nation.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s