20 TAHUN LALU

Ada rasa yang berbeda pada hari Jumat sore 17 Januari 2014. Demikian yang terjadi di lobi gedung Rektorat Universitas Negeri Jakarta ( UNJ ). Sore itu penulis menyempatkan diri hadir untuk  menjadi bagian dari puluhan pasang mata yang nampak terpesona memandang rangkaian slide foto yang ditampilkan oleh 4 anak muda  anggota Eka Citra UNJ.

Beberapa jam sebelumnya para pendaki tersebut baru saja kembali ke tanah air  usai perjalanan panjang menuntaskan sebuah pendakian prestasi di puncak Aconcagua (6972 M DPL). Menuntaskan puncak ke 4 dari rangkaian obsesi program Ekspedisi pendakian 7 puncak tertinggi di 7 benua.

Slide demi slide foto yang ditampilkan pada acara “Talk Show” sore itu, membangkitkan kembali kenangan akan sebuah ekspedisi pendakian yang digelar di puncak Aconcagua 20 tahun silam. Sebuah penggalan perjalanan hidup yang tak akan pernah terlupakan.

Memaksa penulis untuk kemudian kembali membuka lembar – demi lembar catatan harian perjalanan ekspedisi Aconcagua Puteri Indonesia, serta melihat ulang sebagian foto rekaman pengalaman 2 dasawarsa lalu yang tersusun pada album foto yang selama ini terdiam bisu di lemari.

14 Januari 1993, pukul 17:00 waktu setempat tiga dari empat pendaki puteri negeri ini berhasil mencapai puncak Aconcagua, puncak tertinggi benua Amerika yang terletak di perbatasan Argentina dan Chili. Merupakan pendaki – pendaki puteri pertama negeri ini yang tercatat berhasil mencapai puncak tersebut di atas. Ujung dari sebuah perjalanan panjang yang dimulai pada tanggal 3 Januari 1993. Dari desa terakhir di Puenta del Inca (2700M) perjalanan dimulai dan berlanjut menuju base camp di  Plaza de Mulas (4700M). Sebuah lintasan panjang yang ditempuh selama 2 hari melintasi pemandangan menakjubkan dengan padang rumput berselang dengan bebatuan dengan dikiri dan kanan dibatasi tembok alam, jajaran gunung salju pegunungan Andes.

Ekspedisi pendakian Puncak Aconcagua memang unik, siang hari berlangsung panjang. Pukul 8 malam waktu setempat matahari masih bersinar terang. Lima hari awal di base camp dimaksimalkan untuk proses aklimatisasi dengan serangkaian program trekking naik dan turun hingga ketinggian 5000 M dpl, sebuah protokoler tetap demi memaksa tubuh untuk secara fisiologi beradaptasi terhadap perbedaan ketinggian.

Membaca lembar demi lembar catatan harian mengingatkan kembali pada pergerakan awal tim berkekuatan 4 pendaki puteri menuju Plaza Canada ( 5200 m), kemudian turun kembali ke Base Camp. Pada hari berikutnya kembali melakukan pendakian hingga Plaza Berlin (5800 m) dimana dilakukan penyimpanan logistik pendakian di Plaza Canada.

Saat membolak-balik kembali lembaran catatan harian, penulis juga menemukan beberapa dokumen lawas berupa kliping media cetak. Terdapat sebuah artikel karya Arief Suharto yang ketika itu juga ikut mendampingi tim. Arief menuturkan kronologis  “Attack Summit” berdasarkan pengakuan para pendaki.

Carlos pemandu pendakian memilih waktu lebih pagi,sebab dikhawatirkan cuaca di puncak segera berubah. Dengan komposisi Jonet Wambaw di depan, Aryati di tengah dan Clara di belakang berangkatlah tim puteri Indonesia untuk mencatat sebuah sejarah. Angin Setan yang dingin dari Aconcagua seperti tak rela untuk meringankan langkah puteri – puteri Indonesia tersebut. Apalagi sewaktu memasuki Canaleta yang berketinggian 6700 m, tim seperti merasakan sesuatu yang mencekam.

Di tempat itulah Norman Edwin menemui ajalnya dengan posisi tengkurap, tangan kanan memegang bendera merah Merah Putih dan mata memandang kearah puncak. Tempat itu terdiri dari batuan yang mudah longsor. Selain itu terdapat dinding batu yang curam berketinggian 300 m.

Di musim pendakian yang anginnya tidak diwarnai badai salju saja tempat itu sudah bersuhu minus 30 derajat Celcius, apalagi ketika badai salju. “tidak terbayangkan bagaimana ngerinya”.”Pantas saja kalau Norman meninggal disini”ucap Tantyo ketika usai melintasi tempat tersebut. Norman Edwin dan Didiek Samsu adalah  dua pendaki dari Mapala Universitas Indonesia yang tewas di lintasan pendakian Aconcagua beberapa bulan sebelumnya.Keduanya adalah bagian dari skenario perburuan program 7 puncak tertinggi di 7 benua yang sampi saat ini tak kunjung tuntas.

Saat mendekati puncak tim harus melakukan traversing ( menyisir ke samping) sebanyak tiga kali. Setelah itu dijumpailah dataran salju yang luas. Ada salib terbuat dari besi sebagai tanda titik triangulasi.”Saya lihat cuaca bersih,saya tidak bias berkata apa-apa, hanya terharu bahwa kita berhasil mencapai puncak ujar Jonet yang pertama – kali mencapai tempat tersebut. Beberapa menit kemudian Aryati dan Clara masuk. Ketiganya berkumpul dan berdoa.Semua menangis ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil memegang sang Merah Putih. (>)  

KITA MEMANG KALAH

Pesta olahraga multi even antar bangsa Asia Tenggara di penghujung tahun 2013 lalu, akhirnya benar – benar menjadi sebuah akumulasi dari kesalahan sebuah proses. Tidak sampai 70 medali emas yang mampu dikumpulkan oleh para Atlet negeri ini. Hasil akhirnya sudah sama kita ketahui bahwa gelar pengumpul medali emas terbanyak gagal dipertahankan. Kontingen garuda yang maju ke palagan Myanmar dengan bayangan euphoria sukses di kandang sendiri ternyata sejak hari pertama langsung tertatih – tatih.
Kusut sejak awal, demikian atmosfir persiapan kontingen Garuda. Setidaknya itulah yang penulis rasakan sebagai bagian dari tim teknis satuan pelaksana program Indonesia emas ( Satlak Prima ). Gonta – ganti kebijakan dalam hal promosi dan degradasi atlet adalah salah satu dari banyak sebab yang ikut andil menjerumuskan kontingen negeri ini dalam kegagalan. Sebuah dampak negatif dari kebijakan Budget Oriented yang diambil para pengambil keputusan pada Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Kondisi tersebut pastinya amat sangat mempengaruhi skenario pemilihan atlet pada tahapan Periodisasi program latihan yang sebelumnya telah disusun oleh para pelatih pada masing – masing cabang olahraga. Budget Oriented pula penyebab gagalnya pengadaan perlengkapan tepat waktu, serta pengurangan kuantitas uji coba internasional, bahkan ada cabang yang nyaris gagal uji coba karena kondisi keuangan yang mengalami Collapse di bulan – bulan akhir menjelang SEA Games.
“Believe it or Not” sepanjang persiapan, sebagian besar rapat rutin mingguan yang digelar Satlak Prima lebih berkutat pada pembahasan hal non teknis yang berhubungan langsung dengan minimnya anggaran. Belum lagi pernyataan “asal bunyi”  tak terduga dari seorang Roy Suryo sebagai Menteri, mengenai tidak adanya bonus bagi peraih medali emas, sebuah testimoni yang walau dibelakang hari coba untuk dinetralisir, tetap punya imbas signifikan dari sisi psikologis. Mengherankan statement tersebut bisa sampai keluar, lalu apakah para Deputi Menteri yang ada pada “Inner Circle” yang “Notabene” agak fasih dalam seluk beluk teknis tidak mampu memberikan masukan ?. Safety Player ?…Who Knows….
Demikianlah Pelatnas menuju SEA Games ke 27 yang tidak berlebihan bila disebut compang – camping.Skenario teknis yang berhubungan dengan seluk beluk sebuah High Performance Training, pertanggung – jawaban sebuah Periodisasi program latihan  gagal di implementasikan. Acara tatap muka antara bidang teknis Satlak Prima dengan para pelatih ataupun manager cabang olahraga lebih pada tawar menawar kuota dan target medali. Fungsi Monitoring dan evaluasi cuma sebatas nama, lagi – lagi karena Frame Budget Oriented.
Muara akhirnya jelas sudah, kita terseok – seok sejak hari pertama pagelaran SEA Games. Untuk kemudian tertinggal cukup jauh dari Thailand musuh tradisionil kita yang kali ini tidak tertahankan dengan perolehan akhir cukup jomplang dengan 107 medali emas. Bukan cuma Thailand namun tuan rumah Myanmar dan Vietnam ikut – ikutan mempecundangi kontingen Garuda, masing – masing dengan perolehan 86 dan 73 medali emas.  Failing to Plan is Planing to Fail demikianlah akhirnya yang terjadi. ( > )