KITA MEMANG KALAH

Pesta olahraga multi even antar bangsa Asia Tenggara di penghujung tahun 2013 lalu, akhirnya benar – benar menjadi sebuah akumulasi dari kesalahan sebuah proses. Tidak sampai 70 medali emas yang mampu dikumpulkan oleh para Atlet negeri ini. Hasil akhirnya sudah sama kita ketahui bahwa gelar pengumpul medali emas terbanyak gagal dipertahankan. Kontingen garuda yang maju ke palagan Myanmar dengan bayangan euphoria sukses di kandang sendiri ternyata sejak hari pertama langsung tertatih – tatih.
Kusut sejak awal, demikian atmosfir persiapan kontingen Garuda. Setidaknya itulah yang penulis rasakan sebagai bagian dari tim teknis satuan pelaksana program Indonesia emas ( Satlak Prima ). Gonta – ganti kebijakan dalam hal promosi dan degradasi atlet adalah salah satu dari banyak sebab yang ikut andil menjerumuskan kontingen negeri ini dalam kegagalan. Sebuah dampak negatif dari kebijakan Budget Oriented yang diambil para pengambil keputusan pada Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Kondisi tersebut pastinya amat sangat mempengaruhi skenario pemilihan atlet pada tahapan Periodisasi program latihan yang sebelumnya telah disusun oleh para pelatih pada masing – masing cabang olahraga. Budget Oriented pula penyebab gagalnya pengadaan perlengkapan tepat waktu, serta pengurangan kuantitas uji coba internasional, bahkan ada cabang yang nyaris gagal uji coba karena kondisi keuangan yang mengalami Collapse di bulan – bulan akhir menjelang SEA Games.
“Believe it or Not” sepanjang persiapan, sebagian besar rapat rutin mingguan yang digelar Satlak Prima lebih berkutat pada pembahasan hal non teknis yang berhubungan langsung dengan minimnya anggaran. Belum lagi pernyataan “asal bunyi”  tak terduga dari seorang Roy Suryo sebagai Menteri, mengenai tidak adanya bonus bagi peraih medali emas, sebuah testimoni yang walau dibelakang hari coba untuk dinetralisir, tetap punya imbas signifikan dari sisi psikologis. Mengherankan statement tersebut bisa sampai keluar, lalu apakah para Deputi Menteri yang ada pada “Inner Circle” yang “Notabene” agak fasih dalam seluk beluk teknis tidak mampu memberikan masukan ?. Safety Player ?…Who Knows….
Demikianlah Pelatnas menuju SEA Games ke 27 yang tidak berlebihan bila disebut compang – camping.Skenario teknis yang berhubungan dengan seluk beluk sebuah High Performance Training, pertanggung – jawaban sebuah Periodisasi program latihan  gagal di implementasikan. Acara tatap muka antara bidang teknis Satlak Prima dengan para pelatih ataupun manager cabang olahraga lebih pada tawar menawar kuota dan target medali. Fungsi Monitoring dan evaluasi cuma sebatas nama, lagi – lagi karena Frame Budget Oriented.
Muara akhirnya jelas sudah, kita terseok – seok sejak hari pertama pagelaran SEA Games. Untuk kemudian tertinggal cukup jauh dari Thailand musuh tradisionil kita yang kali ini tidak tertahankan dengan perolehan akhir cukup jomplang dengan 107 medali emas. Bukan cuma Thailand namun tuan rumah Myanmar dan Vietnam ikut – ikutan mempecundangi kontingen Garuda, masing – masing dengan perolehan 86 dan 73 medali emas.  Failing to Plan is Planing to Fail demikianlah akhirnya yang terjadi. ( > )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s