CHANGHUA 2014 DAN KONTROVERSI TIM NASIONAL HOKI RUANGAN

Changhua, secara resmi dikenal sebagai Changhua City (Cina: 彰化市; pinyin: Zhanghua Shi; Wade-Giles: Chang-hua Shih, Peh-oe-ji: Chiong-hoa-chhi), adalah sebuah kota setingkat kabupaten. Selama berabad-abad Changhua adalah  pemukiman suku Babuza, suku pesisir pribumi Taiwan. Nama kota ini berasal dari kata asli Poasoa (karakter Han: 半线; Taiwan: POA ⁿ-soa ⁿ). Demikian penggalan dari penjabaran singkat Wikipedia tentang Changhua. Kota yang dicapai dua setengah jam perjalanan darat dari Tao Yuan international Airport.

Changhua merupakan akhir dari sebuah perjalanan yang lumayan melelahkan setelah sebelumnya didahului dengan 5 jam penerbangan dengan menggunakan jasa China Airlines. Demikianlah durasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kota tempat penyelenggaraan Kejuaraan Hoki ruangan Asia ke 5.

Bukan soal perjalanan menuju kota Changhua yang akan dikupas disini. Bukan pula mengenai hasil dari pertandingan perdana yang sudah dilakoni tanggal 15 Juni lalu saat harus mengakui keunggulan Malaysia dengan skor akhir 1 – 4, ataupun skor 1 – 15 saat harus merasakan keganasan daya gedor Iran – raja indoor hockey Asia pada hari kedua.

Komentar seru di jejaring sosial di tanah air adalah bagian yang justru ingin diluruskan disini. Setidaknya agar beberapa individu yang gemar memberikan coretan “tak jelas” di dunia maya faham mengapa negeri ini, dalam hal ini direpresentasikan oleh Federasi Hoki Indonesia (FHI), memaksakan untuk mengirimkan timnya pada kejuaraan hoki ruangan Asia ke 5. Pasti banyak yang tak tau bahwa ada nilai politis yang dijadikan titik bidik.

Untuk tujuan tersebut, dua event penting diburu pada medio 2014 ini. Pertama adalah kejuaraan hoki ruangan Asia dan berikutnya pada Agustus mendatang adalah Kejuaraan Hoki perempuan U – 21 Asia di Hongkong. Selain menunjuk Pengprov FHI DKI Jakarta, untuk event di Hongkong PP FHI sudah menunjuk pula Pengprov Papua ( http://m.rimanews.com/read/20140616/156405/koni-papua-diminta-bantu-pembinaan-cabang-hoki?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twiter ) untuk mewakili Indonesia. Kedua even tersebut punya nilai politis besar.

Pertanyaannya adalah apakah kebijakan penunjukan tersebut salah ?. Tentu saja tidak, karena kedua program ini sebelumnya telah disosialisasikan pada Munas FHI pada bulan Mei 2014 lalu. Dalam kondisi dimana perburuan aspek legalitas pengakuan internasional dari Asia Hockey Federation ( AHF ) menjadi prioritas utama, rasanya kebijakan tersebut sah saja, dalam arti membagi beban pembiayaan yang dipastikan memang tak murah. Dalam kondisi saat ini, dipastikan sulit untuk dapat ditanggulangi sendirian oleh PP FHI.

Agar diketahui untuk dapat tampil di kedua even tersebut saja, terlebih dahulu PP FHI harus melunasi hutang iuran keanggotaan yang tunggakannya sudah berusia 4 tahun, warisan PHSI. Ternyata iuran tahunan AHF ( 600 US $ ) jauh lebih mahal dibandingkan iuran FIH ( 123 euro ).

Komentar miring juga mempertanyakan apakah tim hoki ruangan DKI Jakarta layak mewakili Indonesia dalam event tersebut di atas. Tim hoki DKI Jakarta dengan materi pemain asal Universitas Negeri Jakarta, adalah juara pertama diseluruh even hoki ruangan penting di negeri ini. 6 gelar juara diraih sepanjang rentang bulan Mei 2012 sampai dengan bulan Mei 2014 lalu. Tim tersebut juga punya catatan prestasi bagus ( peringkat 4 ) saat even internasional Singapore Indoor Hockey Chalenge, October 2013 lalu. Dengan catatan bagus tersebut, Pengprov Hoki DKI dengan dukungan penuh KONI DKI Jakarta langsung menyanggupi tawaran FHI dan menempatkan kejuaraan hoki ruangan Asia ke 5 sebagai bagian dari persiapan menuju PON 2016 mendatang. Bertanding dengan kualitas lawan 3 kasta di atas, adalah sebuah proses pembelajaran penting yang sungguh sayang untuk dilewatkan.

Lalu bagaimana dengan kontroversi penggunaan istilah tim nasional ?. untuk  diketahui, bahwa tim nasional dapat dibentuk dengan beberapa cara. Pertama dengan memanggil pemain yang dianggap potensil, lalu menyatukannya dalam sebuah program pemusatan latihan nasional ( Pelatnas ). Biayanya jangan ditanya, dengan jalur ini pastinya akan menghabiskan anggaran setidaknya di atas 1 milyard rupiah.

Cara kedua adalah induk organisasi cabang olahraga menunjuk tim yang dianggap terkuat, berdasarkan rekam jejak prestasi. Dari sisi prestasi, seperti telah disebutkan di atas catatan tim hoki ruangan DKI Jakarta rasanya tak perlu diperdebatkan lagi karena sangat transparan.

Hal penting lain yang mungkin harus diketahui oleh para komentator media sosial, bahwa tim nasional Malaysia adalah tim Angkatan Tentera Malaysia (ATM). Jadi cara pembentukan tim nasional yang dilakukan hampir sama dengan yang dilakukan negeri ini. Demikian tulisan ini diturunkan, di era keterbukaan ini memang semua bebas untuk memberikan komentarnya via jejaring sosial namun ada baiknya bila itu dapat dilakukan dengan bijak, apalagi jika komentar dilakukan oleh seorang pendidik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s