MENYONGSONG PARADIGMA BARU PEMBINAAN PENGPROV FHI JAKARTA

Suatu siang saya tersenyum membaca salah satu artikel pada blog pribadi Rhenald Kasali. Beberapa alinea paragraf menarik untuk dikutip, karena sangat mewakili apa yang saat ini terjadi pada lingkungan komunitas olahraga hoki di  Ibukota.Terutama pasca hadirnya kepengurusan baru Pengprov FHI Jakarta, menyusul dibekukannya kepengurusan lama oleh KONI DKI Jakarta penghujung tahun 2013 lalu.
Dahlan Iskan pernah menyebutkan dalam setiap perubahan selalu saja ada kelompok 10% yang baiknya “dieman-eman” (istilahnya) saja. Pokoknya mereka akan selalu menentang.  Di komunitas perubahan, kami biasa menyebut kelompok itu sebagai “oposan abadi”.  Kelompok ini unik dan kalau kita mengerti cara berpikirnya, sebenarnya bisa menjadi hiburan ketimbang menjadi lawan yang menegangkan. Mereka terdiri dari orang-orang yang bereaksi paling keras setiap kali ada perubahan.  Namun begitu hasil perubahan ada, pelahan-lahan mereka diam juga, lalu mengangkat kritik pada topik lain. Tetapi dasarnya tetap sama, senang diperhatikan, senang memarahi, senang dianggap pandai atau penting.  Ganggu sedikit, colek yang banyak, sukur-sukur bisa masuk tv, walau cuma sekali-kali. Itu sudah menghibur hati.  Sudah masuk dalam daftar CV untuk kegiatan lebih jauh.
“Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.”
(Winston Churchill)
Winston Churchill seperti kutipan di atas menyebutkan, sekalipun Anda tak setuju, kritik itu perlu. Ngga apa- apa, apalagi di abad transformasi, abad perubahan di negeri demokrasi.  Kritik katanya, ibarat rasa sakit dalam tubuh manusia, pertanda perlunya perhatian untuk merawat kesehatan. Hanya saja, ia juga pernah mengatakan kritik itu ada lima macam. Pertama, kritik yang tulus, bertujuan mengingatkan.  Kedua kritik yang bertujuan cari keuntungan. Ketiga, kritik untuk mengatasi rasa takut. Keempat, kritik cari perhatian. Dan kelima, kritik untuk menunjukkan identitas.
Entah mana dari lima macam kritik versi Winston Chuchill yang tepat dialamatkan pada beberapa individu kepengurusan Pengprov lama, yang gemar memberikan komentar tak bermutu di jejaring sosial. Mungkin poin keempat dan kelima yang paling tepat, ada kesan tak rela ketika harus mundur karena prosedur organisasi.
Benar kata Dahlan Iskan. Ini layak dieman-eman, lumayan bisa menghibur.  Kalau ilmuwan marah, selain ada yang benar, ada juga yang lucu.  Bukan logika yang dicari seperti layaknya ilmuwan sejati yang open mind, tapi kalimat nggak penting yang menyinggung perasaannya.  Kalimat itu dikutip dalam pesan twitter, lalu dikomentari dengan gaya dosen zaman dulu yang uring-uringan memeriksa paper mahasiswa.  Lalu dari situ diharapkan mendapat dukungan dari komunitas yang tentu saja menjawab dengan jenaka dan lucu-lucuan juga.  Sebuah pergumulan yang indah yang kadang membingungkan bagi yang lain.
Dalam rentang kepengurusan baru yang masih seumur jagung, Pengprov FHI Jakarta memprioritaskan untuk terlebih dahulu melakukan konsolidasi interen. Fokus ditujukan pada beberapa pekerjaan rumah yang sebelumnya tak sempat dikerjakan pengurus lama. Sebut misalnya memfasilitasi hadirnya kepengurusan Kota (Pengkot). Aktifitas tersebut berjalan simultan, berbagi konsentrasi dengan pelaksanaa Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) persiapan menuju PON 2016 mendatang.
Dalam rentang tersebut di atas, dua kegiatan internasional resmi dengan dukungan penuh KONI DKI Jakarta telah  berhasil diikuti. Masing – masing Asia Mens Indoor Hockey Championship di Changhua Taiwan dan yang terkini Singapore Indoor Hockey Challenge. Bukan perkara sederhana untuk menghadirkan tim di dua event tersebut, dibutuhkan kemampuan Lobby tersendiri untuk meyakinkan para pemangku kebijakan Asia Hockey Federation. Untuk Outdoor Hockey sementara ini memang belum ada event resmi yang tepat, karena akan sangat ironis jika Pengprov menyertakan tim hanya pada sebuah Event Fun Game. Lagipula “Nomenklatur” KONI DKI tidak memungkinkan pemanfaatan anggaran Pembinaan dan Prestasi (Binpres) untuk sekedar partisipasi pada event kelas festival. Kemungkinan besar, peluang untuk berpartisipasi pada event resmi Outdoor Hockey akan direncanakan pada tahun 2015 mendatang.
Liga Hoki Jakarta (LHJ) sejauh ini memang belum kembali berputar.Ini yang kini agaknya gemar dijadikan isu sensitif oleh kelompok 10% versi Dahlan Iskan seperti tersebut di atas. LHJ memang agak terlambat digelar, karena konsepnya perlu ditata ulang untuk dapat memberikan hasil maksimal bagi proses pembinaan, bukan sekedar kegiatan kompetisi yang asal digelar dengan siapapun dan darimanapun bisa ikut bermain.
Fakta terpuruknya tim – tim pelajar asal Jakarta pada beberapa event tingkat pelajar jadi bukti otentik bahwa ada yang salah dalam proses pembinaan prestasi. Ini mungkin yang ketika itu tidak dipahami. Format lama kompetisi LHJ yang menggabungkan klub – klub pelajar, sama sekali tidak bijaksana ditinjau dari sisi terminologi kepelatihan.Ada perbedaan signifikan yang ketika itu tidak disadari. Terminologi kepelatihan mengenal usia biologis dan usia latihan.
Penggabungan klub – klub pelajar tidak memberikan kesempatan pada para pemain usia pelajar, untuk mengembangkan potensinya. Kerap mereka cuma menjadi lumbung gol saat bertanding dengan klub – klub bermaterikan  pemain dengan usia biologis dan usia latihan yang lebih matang. Jelas tidak kondusif bagi perkembangan psikologis pemain.
Rencananya minggu pertama November 2014 mendatang LHJ akan kembali digelar dengan format baru yang lebih mengedepankan pembinaan olahraga hoki Ibukota. Kompetisi LHJ dari Jakarta dan untuk pembinaan pemain Jakarta, demikian paradigma baru yang hendak dihadirkan.Mari bersama kita sambut dan dukung paradigma baru kompetisi Liga Hockey Jakarta.Format baru kompetisi yang lebih berorientasi pada pembinaan.
Hasilnya memang tidak akan segera terlihat, berbeda dengan menanam rumput. Olahraga prestasi menganut terminologi yang sangat mendewakan sebuah proses.Karena produk akhir lahir berdasarkan kebenaran sebuah proses.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s