LEIPZIG 2015

Butiran salju yang turun deras dari langit, bercampur dengan tiupan angin dingin yang menusuk adalah sambutan pertama kala tiba di stasiun kereta Leipzig, pada hari Selasa tanggal 3 Febuari 2015. Kota di timur Jerman tersebut, adalah akhir dari perjalanan 8 jam dengan menggunakan kereta api dari Amsterdam.

Di dalam stasiun Leipzig yang cukup besar dan nyaman, makan adalah strategi pertama yang dipilih untuk menghadapi etape berikutnya. Dalam kondisi cuaca yang sangat tak bersahabat bagi manusia tropis, pastinya sangat tak nyaman berjalan kaki menuju penginapan dengan perut kosong. Restauran cepat saji KFC, di pojokan stasiun Leipzig benar-benar bak sebuah Oase. Tempat balas dendam, mengingat makanan terakhir yang masuk adalah saat sarapan pagi di Amsterdam.

Posisi kota  Leipzig secara geografis terletak 150 Km sebelah Selatan Berlin. Ensiklopedi Wikipedia menyebutkan bahwa kota Leipzig telah menjadi kota perdagangan setidaknya sejak zaman Kekaisaran Romawi. Kota ini terletak di persimpangan Via Regia dan Via imperii, dua rute perdagangan penting pada masanya.

Pabrik pesawat tempur legendaris Messerschmitt Bf 109, salah satu ujung tombak Luftwafe ( angkatan udara Jerman) posisinya juga di Leipzig, menyebar di  3 lokasi yakni Heiterblick, Abtnaundorf dan Mockau.

Tak heran bila pada era perang dunia ke II, Leipzig menjadi sasaran gelombang serangan udara Amerika dan Inggris. Serangan paling dahsyat berdasarkan studi dokumenter digelar oleh  oleh Royal Air Force ( RAF) pada dini hari tanggal 4 Desember 1943 dan menewaskan lebih dari 1.800 jiwa. Sebagian besar pusat kota hancur.

Kedepannya selama sisa waktu perang dunia ke II, Leipzig tetap menjadi target serangan udara berat berikutnya. Seusai perang dunia Kota Leipzig menjadi salah satu kota utama di Jerman Timur dan kemudian ikut memainkan peran besar pula, dalam proses reunifikasi Jerman. Saat ini berdasarkan riset lembaga riset pemasaran GfK, adalah salah satu pusat ekonomi dan merupakan salah satu kota paling layak huni di Jerman.

Demikianlah selintas mengenai kota Leipzig. Namun perjalanan panjang menuju Leipzig sama-sekali bukan bertujuan untuk mengkaji sejarah kota Leipzig. Di kota ini tengah digelar kejuaraan hoki ruangan dunia ke 4 (Indoor Hockey World Cup 2015).

Itulah target sesungguhnya, kalau kata generasi sekarang “Sesuatu banget” bisa menyaksikan langsung pertarungan hoki ruangan kasta tertinggi planet ini. Memang pada era globlisasi ini, bisa saja menyimak even dahsyat tersebut via Live Streaming. Namun menyaksikannya langsung, adalah sebuah obsesi lama. Keinginan tersebut menjadi semakin besar setelah merasakan langsung atmosfir kejuaraan hoki ruangan Asia di Changhua Chinese Taipei tahun 2014 lalu.

Penasaran ingin menyaksikan langsung bagaimana tim hoki ruangan putera Iran, raja hoki ruangan Asia bertarung di level tertinggi. Mengabadikan momentum empat tahunan tersebut melalui lensa kamera tentunya adalah bagian lain yang juga cukup mengasikan. Disamping tentunya mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan para pelaku hoki ruangan dari mancanegara. Beberapa dari hasil bidikan lensa dapat dinikmati pada slide foto di bawah ini. (Vatco)

This slideshow requires JavaScript.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s