METAMORFOSA AKTIFITAS OBCB FIK UNJ (II)

Konsep Outdoor Activity yang  berbeda, itulah  yang dibutuhkan  oleh FPOK IKIP Jakarta. Aktifitas perkemahan konvensional yang tiap tahun dilakoni, metodenya  dianggap sudah tidak tepat. Muatan edukatifnya terlampau kecil, pengetahuan tambahan yang didapat tidak signifikan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Outbound Training diadopsi, diracik dan mengalami penyesuaian sesuai karakter fakultas.

Bersama beberapa rekan penggiat kegiatan di alam yang sama visi dan penulis kenal dekat, diantaranya Wiyanto “Wien” Soeharjo dan Rubiyanto, bersama keduanya penulis pernah bekerjasama dalam beberapa kegiatan ekspedisi pendakian gunung. Lalu Tarsohadi rekan  satu angkatan perkuliahan di FPOK Jakarta yang juga aktifis pada kelompok mahasiswa pencinta alam Eka Citra IKIP Jakarta. Konsep tersebut dimatangkan. Kondisi senat mahasiswa dibawah pimpinan Hartman Nugraha (aktifis Eka Citra), saat itu ikut mendukung kemungkinan terjadinya reformasi metode Jambore fakultas. Dukungan rekan – rekan junior yang sepaham ikut mempercepat akselerasi.

Capture1

Simulasi kegiatan OBTB 1998

Kontribusi terbesar pada semangat perubahan saat itu datang dari Taufik Yudi, Dekan baru FPOK IKIP Jakarta. Walau masih samar-samar dalam pemahaman,  pimpinan fakultas menaruh kepercayaan penuh dan menyetujui paparan mengenai konsep Outbound Training yang penulis sampaikan.

Sejak awal acara paparan penulis sudah optimis, apalagi saat penampil pertama pada acara tersebut tampil tanpa konsep. Bagi penulis ini momentum penting tersendiri. “Argometer saya matikan untuk kegiatan ini”, itu yang penulis sampaikan saat menutup paparan perdana mengenai konsep Outbound Training.

Capture11

Suasana pembuatan rakit pada pelaksanaan OBTB 1998.

Demikianlah, kemudian atas saran Wiyanto Soeharjo disepakati memakai nama Outdoor Based Team Building Taining (OBTB). “What is a name” demikian William Shakespeare. Secara garis besar OBTB FPOK IKIP Jakarta 1998  adalah kumpulan Games tematik beraroma petualangan di alam,  sarat dengan  muatan psikologis dan disajikan dalam sebuah atmosfir kompetisi.

Setiap individu peserta dikondisikan dalam regu-regu berkekuatan 10-15 personil, mereka kemudian akan bertarung dalam sebuah kompetisi pengumpulan nilai. Setiap aktifitas pada OBTB punya bobot penilaian. Sangat mewakili semangat dan karakter fakultas.

Pada OBTB Tidak dikenal lagi konsep usang perkemahan statis, para mahasiswa selama 3 hari 2 malam dikondisikan hidup nomaden berpindah-pindah tempat, atau populer disebut dengan istilah Flying Camp.Tenda permanen kini tinggal kenangan.

Sebagai gantinya setiap individu wajib memahami teknik pembuatan Bivak (Bahasa Prancis: Bivouac).  Tempat berlindung sementara (darurat) di alam bebas dari aneka gangguan cuaca. Bivak buatan didirikan dengan menggunakan ponco dengan memanfaatkan tali sebagai salah satu bahan penunjangnya.

Lebih dari itu, diperkenalkan pula beragam pengetahuan dasar hidup di alam bebas. Proses tersebut digelar dilingkungan kampus, dikemas dalam apa yang dinamakan dengan periode pembekalan OBTB. Calon peserta dalam hal ini mahasiswa baru FPOK IKIP Jakarta, belajar banyak hal yang berhubungan dengan pengetahuan praktis dunia petualangan. Diantaranya kiat memilih ransel yang ideal berikut teknik penyusunan barang (Packing). Tali – temali dasar, kerjasama tim dalam pembuatan rakit bambu yang nantinya akan digunakan saat penyeberangan rintangan air, serta pengetahuan masak dengan perangkat khusus.

Kedepannya seiring dengan berjalannya waktu, materi navigasi darat masuk pula memperkaya konten pembekalan. Menyesuaikan dengan masuknya permainan Orienteering sebagai bagian daripada aktifitas kegiatan.

Metode Outbound Training sejak awal memang diyakini akan membawa peserta untuk lebih memahami arti yang sebenarnya dari sebuah tantangan. Belajar langsung akan pentingnya memiliki jiwa yang tidak mengenal putus asa. Termasuk didalamnya mendapatkan pemahaman yang sebenarnya tentang motivasi, kerja sama tim (team building) dan kepemimpinan. Lebih arif dalam melihat potensi diri, memaknai dengan benar arti sesungguhnya dari kata komunikasi efektif.

Proses pembekalan calon peserta, berjalan simultan dengan proses edukasi pada elemen kepanitiaan. Serentetan acara simulasi digelar dalam bentuk diskusi dan praktek lapangan,demi  sosialisasi konsep OBTB. Rangkaian simulasi dilakukan langsung di Bumi Perkemahan Pramuka (Buperka) Cibubur di Selatan Jakarta, tempat dimana OBTB perdana nantinya akan dilaksanakan.

SHOW TIME

Capture14

Demikianlah yang terjadi pada tahun 1998 lalu, setelah melalui tahapan pembekalan. Ratusan mahasiswa FPOK IKIP Jakarta, akhirnya mampu “bermain” di alam terbuka dengan kemampuan dasar individu yang berbeda segalanya, dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Mereka mampu memperagakan implementasi “Flying Camp”. Bongkar -pasang bivak, Packing ransel, kemudian berpindah-pindah tempat sesuai dengan tuntutan skenario program kegiatan. Aktifitas masak – memasakpun, kini berlangsung sesuai dengan  Outdoor Life Style.  Peserta tampak familiar dengan kompor lapangan berbahan bakar parafin, tidak ditemukan lagi penggunaan alat memasak tak lazim seperti pada era sebelumnya.

Merekapun untuk pertama-kalinya berkenalan dengan rentetan permainan bermuatan psikologis. Penyeberangan rintangan air dengan menggunakan rakit bambu, penggalan aktifitas OBTB yang awalnya dicemaskan oleh para pengamat awam. Justru menjadi aktifitas yang paling “heboh”.

Proses pembuatan media rakit berikut aktifitas penyeberangannya, sangat merepresentasikan aspek kerjasama tim.  Danau Buperka Cibubur jadi saksi bisu aktifitas seru tersebut. Ada rasa haru tersendiri, menyaksikan deretan bivak peserta plus panitia berjajar di kawasan Arboretum (hutan buatan) Cibubur. Benar bahwa hasil akhir memang tidak akan pernah mengkhianati prosesnya.

Demikianlah implementasi konsep Outbound Training menyingkirkan tradisi tanpa konsep kegiatan Jambore mahasiswa. FPOK IKIP Jakarta memasuki babak baru dalam konsep dan implementasi kegiatan mahasiswa di alam terbuka. Dalam perjalanannya kemudian, kerap metode Outbound Training tersebut di atas terkontaminasi.

Pergantian pucuk pimpinan fakultas kerap punya dampak ikutan yang negatif. Keterbatasan wawasan akan seluk beluk Outdoor Activity  boleh jadi adalah penyebabnya. Ditambah lagi dengan bisikan dan keterlibatan individu – individu Oportunistik yang sekedar bertahan hidup dengan metode sok tahu. “You need special shoes for hiking, and a bit of a special soul as well.” (Terri Guillemets).

Untuk membimbing mahasiswa dalam kegiatan beraroma petualangan, setidaknya harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Karena mereka yang telah cukup memiliki segala sesuatunya pun terkadang tidak luput dari resiko berat. Semua aktivitas yang dilakukan manusia mempunyai resiko, begitu pula dengan aktivitas petualangan di alam bebas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s