CATATAN DARI AZERBAIJAN

Secara keseluruhan memang terjadi penurunan perolehan medali emas dibandingkan Islmamic Solidarity Games (ISG) ke 3 tahun 2013 di Palembang. Empat tahun lalu di Palembang, sebagai tuan rumah Indonesia berhasil tampil sebagai pengumpul medali emas terbanyak dengan 36 medali emas, 34 perak dan 34 perunggu.

Kini dengan raihan 6 medali emas,29 perak dan 23 perunggu, hanya mampu membawa kontingen negeri ini menempati peringkat ke 8. Penyebabnya adalah beberapa cabang yang merupakan lumbung medali Indonesia tidak dipertandingkan atau nomor pertandingan dikurangi. Peta kekuatan negara peserta mengalami perubahan signifikan, ajang ISG semakin prestisius.

Islamic Solidarity Games (bahasa Arab: دورة ألعاب التضامن الإسلامي disingkat ISG) adalah ajang olahraga multinasional yang melibatkan para atlet dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam. ISG berada di bawah pengawasan Islamic Solidarity Sport Federation (ISSF).https://id.wikipedia.org/wiki/Islamic_Solidarity_Games.

Tuan rumah Azerbaijan menyambut ISG 2017 dengan ambisi wajar. Mereka mengejar sukses ganda sebagai penyelanggara plus prestasi. Sejak awal kontingen tuan rumah memang telah menjadi ancaman serius. Kekuatan negeri kaya minyak pecahan Uni Soviet tersebut kini memang berbeda segalanya. Dibandingkan saat mengakhiri perburuan medali pada posisi ke 8, dengan raihan 6 medali emas.

Variabel lain yang mempengaruhi performa kontingen Indonesia dalam perburuan medali emas adalah “Turky Storm”. Turki  yang pada ISG lalu tampil ala kadarnya di Palembang, posisi ke 6 dengan perolehan 23 medali emas kini tampil dengan kekuatan maksimal.

Komposisi atlet yang dibesarkan melalui ketatnya kompetisi benua biru Eropa kali ini benar-benar mendemostrasikan kelasnya. Turki bersaing ketat dengan tuan rumah, meski akhirnya harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan margin 4 medali emas pada hari terakhir. Demikianlah pada akhirnya Kota Baku menjadi saksi bisu keseriusan Azerbaijan. Raihan 75 medali emas,50 perak dan 37 perunggu adalah fakta empirik kerja keras mereka.

Empat tahun mendatang, Turki sebagai tuan rumah pastinya akan tampil semakin garang. Pesta olahraga multi event ISG ke 5 tahun 2021 mendatang, agaknya akan semakin tak ramah bagi kontingen Indonesia dalam perburuan medali emas. Kelemahan negeri ini dalam “lobby internasional, khususnya pada penentuan cabang olahraga dan nomor pertandingan harus mendapat perhatian serius.

Pembinaan olahraga prestasi perlu dikaji ulang oleh para pemangku kebijakan. Dibutuhkan reformasi  skala prioritas pembinaan, karena anggaran pembinaan olahraga negeri ini tidak tak terbatas. (Octavianus Matakupan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s