WELCOME APRIL 2021

Tidak terasa tahun 2021 telah bergulir memasuki bulan April. Ini bulan dengan nilai historis tersendiri. Pada tanggal 26 April 1997, untuk pertama kalinya bendera kebangsaan berkibar di titik tertinggi dunia puncak Everest. Tanggal tersebut kini tinggal terpaut puluhan hari kedepan. Sebelum Pandemi global Covid 19, para mantan anggota tim baik yang terlibat sebatas proses seleksi, ataupun yang kemudian masuk dalam komposisi tim utama, biasanya akan meluangkan waktu untuk berkumpul mengenang momen bersejarah tersebut.

Reuni Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia, demikian tema yang diusung dan hampir tiap tahun diadakan. Bagi para pelaku yang terlibat langsung di dalamnya, kisah yang tahun ini akan menginjak usia ke dua puluh empat tersebut, tetaplah menjadi cerita yang tidak akan pernah membosankan untuk diceritakan kembali. Pendakian puncak Everest yang dilakukan lebih dari dua dasawarsa lalu itu, memang bukan perkara mudah. Tantangan terbesar puncak berketinggian 8848 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut, adalah bukan bagaimana  memulainya, tetapi bagaimana menyelesaikannya. Ekspedisi tersebut bagi penulis adalah sebuah pengalaman luar biasa.

Tidak berlebihan jika menyebutnya “Mission Impossible” , sehingga pada awalnya Anatoly Boukreyev menyarankan rentang waktu persiapan 1 tahun, sebagai rentang waktu minimal yang tak bisa ditawar. Dalam waktu satu tahun calon pendaki, dapat diasah melalui  rangkaian program penambahan pengalaman jam terbang pendakian. Medan latihannya adalah rangkaian simulasi ekspedisi pendakian puncak-puncak di jajaran pegunungan Himalaya, dengan ketinggian diarahkan secara progresif.

Dalam bukunya yang berjudul  The Climb, kepada Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal  Prabowo Subianto, Boukreyev memproyeksikan “bahwa peluang kebehasilan hanya 30 % untuk menghadirkan satu pendaki Indonesia ke puncak Everest”. Ia juga menegaskan bahwa secara umum tim memiliki peluang Fifty-Fifty untuk kehilangan personil pendakian pada saat digelarnya ekspedisi. Peluang keberhasilan tim harus diakui secara jujur ketika itu memang sangatlah kecil, untuk dapat memenangkan puncak Everest. Kekuatan utamanya adalah komposisi anggota tim saat itu, didominasi para prajurit baret merah dengan spesialisasi pendaki serbu terbaik. Walau miskin pengalaman pendakian mereka punya motivasi berbeda, lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas.

Masih segar pula dalam ingatan penulis, bagaimana Anatoly dengan wajah dingin tanpa ekspresi mengomentari lembaran Periodisasi program latihan yang penulis paparkan dihadapannya. Toly demikian biasa Ia disapa, memberikan komentar hanya dengan kalimat singkat, “This is from Russia”. Periodisasi adalah kolaborasi berbagai faktor penunjang yang diyakini akan memberikan kontribusi positif pada pencapaian prestasi, didirikan di atas pondasi Sport Science. Anatoly benar, para teknokrat olahraga asal Uni Soviet adalah pionir yang mengapungkan ide mengenai hitungan dinamika antara volume dan intensitas latihan. Dikemas dalam pentahapan hirarki siklus program latihan dan pertandingan, demi mengkondisikan atlet menemukan performa terbaiknya pada waktu yang direncanakan.
 
Skenario Ekspedisi yang kemudian digelar prinsipnya tidak berbeda jauh dengan usulan Anatoly,yakni mematangkan pendaki langsung di pegunungan Himalaya. Namun implementasinya digelar dalam kurun waktu waktu jauh lebih singkat. Memang tidak ada pilihan lain. Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia saat itu memang berpacu dengan waktu. Sebab jika pada bulan April tahun 1997, bendera kebangsaan tidak berhasil dikibarkan di puncak Everest. Maka tim Everest Malaysia melalui program “Malaysia Boleh” akan menjadi negara pertama di region Asia Tenggara yang mengukir prestasi fenomenal tersebut.  
 
Pendakian ke puncak Everest adalah cerita soal kualitas fisiologis  manusia. Kemampuan untuk beradaptasi dan memaksakan diri bertarung di atas kemampuan rata-rata manusia normal. “Venues” pertandingannya adalah  medan pendakian dengan ketinggian ekstrim yang menembus angka 8000 m di atas permukaan laut (DPL). Perjalanan pendakian ke puncak Everest, akan menghadapkan pendaki dengan rintangan alam yang dikenal dengan istilah “zona kematian” (Death Zone). 
           
Zona kematian, secara geografis adalah wilayah yang berada pada ketinggian di atas  8000 m  di atas pemukaan laut. Istilah kategori ekstrim bagi fisiologi pendaki sesungguhnya dimulai pada ketinggian 5500 m DPL. Penambahan ketinggian pendakian membutuhkan dukungan oksigen tambahan. Tanpa itu, tubuh manusia sangat rentan terserang kasus pembengkakan pada paru-paru akibat ketinggian (High Altitude Pulmonary Oedema), serta High Altitude Celebral Oedema (HACE-pembengkakan otak akibat ketinggian), hipotermia (HP-menurunnya suhu tubuh secara drastis), sengatan udara dingin (frost bite), dan beberapa penyakit ketinggian lain yang dapat memaksa pendaki pulang tinggal nama. “Zona Kematian”, adalah tekanan Barometrik yang 70% lebih rendah daripada di permukaan laut, terkadang menyentuh angka 80%. Di puncak Everest, tekanan barometrik berosilasi antara 251 hingga 253 Torr (Torriceli).  

Udara yang kita serap baik di dataran tinggi maupun di dekat permukaan laut adalah sama komposisinya 20,93 % Oksigen (O 2), 0,03   % Karbon Dioksida (CO 2),79,04 % Nitrogen (N 2). Namun itu  kemudian akan mengalami penurunan signifikan, seiring dengan pergerakan pendaki dalam menambah ketinggian. Studi individu yang pernah dilakukan menghadapi tantangan ini, berujung pada kesimpulan terjadinya perubahan fisiologis, sebagai respon tubuh manusia terhadap hipoksia (HP). Sebuah kondisi kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga fungsi normalnya mengalami gangguan. Berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya. Kondisi tersebut dapat terjadi jika terdapat gangguan dalam sistem transportasi oksigen dari mulai bernapas hingga oksigen tersebut digunakan oleh sel tubuh. Dampak yang terjadi pada pendaki berkisar dari sakit kepala ringan, hingga oedema yang berpotensi mematikan. Sangat mengancam kehidupan karena hipoksia kronis tersebut berkombinasi  pula dengan penurunan suhu ekstrim dan dehidrasi. Beberapa pendaki asal Kopassus mengatakan kepada penulis saat itu dengan istilah “Musuh yang tak terlihat”.

Denyut Jantung (DN) sebagai parameter fisiologis, rentan terhadap perubahan ketinggian yang ekstrim. Pada tingkat kardiorespirasi, DN, terpengaruh pada situasi HP. Kondisi yang bermula sejak memasuki  ketinggian di atas 1500 m DPL. Kondisi peningkatan DN yang terus-menerus baik pada saat istirahat ataupun selama aktifitas pendakian, berdampak perubahan berkelanjutan dalam aktivitas sistem saraf otonom dan kadar sirkulasi katekolamin. DN meningkat menjadi 136% dari nilai di atas permukaan laut, kemudian bertahap menurun, puncaknya memberikan penurunan progresif pada kondisi DN akut (6 minggu setelah aklimatisasi di ketinggian 5400 Paparan akut pada dataran tinggi ini kemudian akan menghasilkan stimulasi terkait hipoksia pada sistem saraf simpatis. Respon ini selanjutnya meningkat oleh aktivitas fisik dan menginduksi peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Ini pula penyebab tersisihnya beberapa kandidat pendaki pada simulasi awal seleksi pembentukan tim, saat pendakian pertama di puncak Paldor yang berketinggian 5300 m.

Mereka yang lolos kemudian kembali dihadapkan pada ujian kedua,pendakian puncak Island Peak (6189 m). Walau cuma masuk kategori Trekking Peak, kondisinya menjadi berbeda karena digelar saat musim dingin. Rangkaian simulasi pendakian, dalam Periodisasi program latihan sejak fase awal tahap persiapan,tujuannya adalah memacu kecepatan pergerakan pendaki.Beberapa rekan pendaki sipil sejak awal kerap mempertanyakan hal tersebut.

Studi lapangan lain yang dilakukan oleh “Silver Hut Expedition” membuktikan bahwa dalam tekanan barometrik di bawah 530 mmHg (ketinggian di atas 3100 m DPL) HR maksimal (MHR) mulai turun dengan 1 detak jantung/menit untuk setiap 7 mmHg. Konsumsi oksigen maksimal (VO 2 maks) di ketinggian medan pendakian Everest, berkurang hingga 20-25% dari kondisi di permukaan laut. Penelitian yang dilakukan oleh Cerretelli menyimpulkan bahwa pada ketinggian 2500 m, VO 2 maks mulai turun antara 5%-10% dibandingkan dengan kondisi di atas permukaan laut. Sebuah riset simulasi pendakian Everest yang dilakukan dalam ruang hipobarik (COMEX). Menyimpulan bahwa VO 2 maks pendaki menurun 59% pada ketinggian  7000 m DPL.

Kondisi-kondisi fisiologis tersebut, serta kajian kepustakaan mengenai durasi waktu tempuh pendaki saat “Attack Summit” kemudian menjadi dasar menyampaikan ide “Emergency Camp” dalam salah satu kesempatan diskusi dengan rekan Monty Sorongan. Problemnya adalah bukan bagaimana para pendaki sampai ke puncak, tetapi bagaimana mereka dapat kembali ke camp IV (8000 m) dengan selamat. Sangat berbahaya memaksakan pendaki turun dari puncak dalam kondisi malam hari.

Pembahasan mengenai ide kontroversial tersebut, kemudian berlanjut dan dimatangkan melalui disuksi lanjutan dengan para konsultan Rusia, Ang Tschering dari Asian Trekking, Kolonel Pramono Edi, dan Mayor Rochadi. Sebelum kemudian diputuskan menjadi bagian dari strategi pendakian. Sebuah skenario mengenai tempat perhentian darurat usai pencapaian puncak. Drama satu malam di atas ketinggian 8000 m tersebut kemudian menjadi kisah epik tersendiri saat memenangkan puncak Everest di tahun 1997.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s