OBCB 2017 DALAM REKAMAN LENSA KAMERA

Tiap generasi punya warna tersendiri, itu yang terekam lewat bidikan lensa kamera pada momen Outdoor Base Character Building (OBCB) 2017 lalu. Beruntung, penulis menyaksikan sebagian besar momen kegiatan serupa, sejak era FPOK IKIP Jakarta sampai pada era FIO UNJ. Apapun nama kegiatannya, adalah aktifitas yang digelar di alam terbuka. Diadopsi, sebagai penggalan ritual penanaman “esprit de corps” mahasiswa fakultas olahraga. Prosesi rutin tahunan yang digelar sejak tahun 1984 silam.

Perbedaan signifikan adalah pada keberhasilan mencangkokan konsep Experiental Learning sebagai roh kegiatan. 19 tahun lalu, medio tahun 1998, untuk pertama-kalinya kegiatan jambore konvensional berganti warna.  Perjalanan waktu kemudian membuktikan, bahwa kegiatan rutin tahunan tersebut menjadi jauh lebih berkualitas  dan sarat dengan muatan edukasi.

 

 

KEMASAN BARU OBCB 2017

zz42Setelah berkali – kali menjagokan Floating Camp sebagai Main Course, Outdoor Based Character Building (OBCB) tahun 2017 ini tampil beda. Tahun ini Orienteering dipilih menjadi roh kegiatan.

Memang bukan barang baru pada acara OBCB. Namun tahun ini dikemas berbeda, serius dan profesional. Penggunaan perangkat khusus, seperti orienteering punch device, adalah salah satu bukti dari tingkat keseriusan tersebut. Untuk kesekian kalinya pula, Waduk Jatiluhur yang terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten PurwakartaProvinsi Jawa Barat menjadi saksi bisu sebuah akselerasi progresif.

Bendungan terbesar di Indonesia tersebut punya panorama danau dengan luas 8.300 ha, lengkap dengan hutan konservasinya. Sebuah tempat “bermain” yang ideal, jarak tempuhnya dari kampus UNJ juga masih cukup masuk logika. Sebuah lokasi ideal yang sejak tahun 2007 silam dijadikan pilihan favorit, karena diyakini mampu mengakomodir berbagai aspek yang berhubungan dengan Outdoor Education.

Apa itu Orienteering?, Orienteering adalah aktifitas olahraga yang mana pesertanya menggunakan peta dan kompas untuk menemukan sejumlah lokasi kontrol di medan sebenarnya. Salah satu cabang olahraga outdoor yang membutuhkan kemampuan dan keterampilan navigasi. Sebuah aktifitas kegiatan berbasis outdoor yang menguji kemampuan navigasi, kecepatan, dan ketepatan. Peta dan kompas merupakan senjata utama, untuk menemukan titik-titik atau objek tertentu.

Demikianlah sembilan belas tahun sudah, konsep Outdoor Based Character Building (OBCB) menjadi Frame bagi kegiatan rutin tahunan pembinaan mahasiswa Fakultas Ilmu Olahraga (FIO UNJ). Tidak terasa pula telah 33 tahun, aktifitas di alam menjadi bagian dari proses pembinaan mahasiswa.

Kegiatan yang dahulu bernama Jambore dan bakti sosial mahasiswa tersebut, telah mengalami Metamorfosa. Sejak tahun 1998, konsepnya berganti menjadi sebuah Experiental Learning. Menjadi lebih bermakna dan sarat muatan edukatif, tentunya dengan tetap memanfaatkan alam sebagai media utama kegiatan.

CATATAN DARI AZERBAIJAN

Secara keseluruhan memang terjadi penurunan perolehan medali emas dibandingkan Islmamic Solidarity Games (ISG) ke 3 tahun 2013 di Palembang. Empat tahun lalu di Palembang, sebagai tuan rumah Indonesia berhasil tampil sebagai pengumpul medali emas terbanyak dengan 36 medali emas, 34 perak dan 34 perunggu.

Kini dengan raihan 6 medali emas,29 perak dan 23 perunggu, hanya mampu membawa kontingen negeri ini menempati peringkat ke 8. Penyebabnya adalah beberapa cabang yang merupakan lumbung medali Indonesia tidak dipertandingkan atau nomor pertandingan dikurangi. Peta kekuatan negara peserta mengalami perubahan signifikan, ajang ISG semakin prestisius.

Islamic Solidarity Games (bahasa Arab: دورة ألعاب التضامن الإسلامي disingkat ISG) adalah ajang olahraga multinasional yang melibatkan para atlet dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam. ISG berada di bawah pengawasan Islamic Solidarity Sport Federation (ISSF).https://id.wikipedia.org/wiki/Islamic_Solidarity_Games.

Tuan rumah Azerbaijan menyambut ISG 2017 dengan ambisi wajar. Mereka mengejar sukses ganda sebagai penyelanggara plus prestasi. Sejak awal kontingen tuan rumah memang telah menjadi ancaman serius. Kekuatan negeri kaya minyak pecahan Uni Soviet tersebut kini memang berbeda segalanya. Dibandingkan saat mengakhiri perburuan medali pada posisi ke 8, dengan raihan 6 medali emas.

Variabel lain yang mempengaruhi performa kontingen Indonesia dalam perburuan medali emas adalah “Turky Storm”. Turki  yang pada ISG lalu tampil ala kadarnya di Palembang, posisi ke 6 dengan perolehan 23 medali emas kini tampil dengan kekuatan maksimal.

Komposisi atlet yang dibesarkan melalui ketatnya kompetisi benua biru Eropa kali ini benar-benar mendemostrasikan kelasnya. Turki bersaing ketat dengan tuan rumah, meski akhirnya harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan margin 4 medali emas pada hari terakhir. Demikianlah pada akhirnya Kota Baku menjadi saksi bisu keseriusan Azerbaijan. Raihan 75 medali emas,50 perak dan 37 perunggu adalah fakta empirik kerja keras mereka.

Empat tahun mendatang, Turki sebagai tuan rumah pastinya akan tampil semakin garang. Pesta olahraga multi event ISG ke 5 tahun 2021 mendatang, agaknya akan semakin tak ramah bagi kontingen Indonesia dalam perburuan medali emas. Kelemahan negeri ini dalam “lobby internasional, khususnya pada penentuan cabang olahraga dan nomor pertandingan harus mendapat perhatian serius.

Pembinaan olahraga prestasi perlu dikaji ulang oleh para pemangku kebijakan. Dibutuhkan reformasi  skala prioritas pembinaan, karena anggaran pembinaan olahraga negeri ini tidak tak terbatas. (Octavianus Matakupan)

METAMORFOSA AKTIFITAS OBCB FIK UNJ (II)

Konsep Outdoor Activity yang  berbeda, itulah  yang dibutuhkan  oleh FPOK IKIP Jakarta. Aktifitas perkemahan konvensional yang tiap tahun dilakoni, metodenya  dianggap sudah tidak tepat. Muatan edukatifnya terlampau kecil, pengetahuan tambahan yang didapat tidak signifikan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Outbound Training diadopsi, diracik dan mengalami penyesuaian sesuai karakter fakultas.

Bersama beberapa rekan penggiat kegiatan di alam yang sama visi dan penulis kenal dekat, diantaranya Wiyanto “Wien” Soeharjo dan Rubiyanto, bersama keduanya penulis pernah bekerjasama dalam beberapa kegiatan ekspedisi pendakian gunung. Lalu Tarsohadi rekan  satu angkatan perkuliahan di FPOK Jakarta yang juga aktifis pada kelompok mahasiswa pencinta alam Eka Citra IKIP Jakarta. Konsep tersebut dimatangkan. Kondisi senat mahasiswa dibawah pimpinan Hartman Nugraha (aktifis Eka Citra), saat itu ikut mendukung kemungkinan terjadinya reformasi metode Jambore fakultas. Dukungan rekan – rekan junior yang sepaham ikut mempercepat akselerasi.

Capture1

Simulasi kegiatan OBTB 1998

Kontribusi terbesar pada semangat perubahan saat itu datang dari Taufik Yudi, Dekan baru FPOK IKIP Jakarta. Walau masih samar-samar dalam pemahaman,  pimpinan fakultas menaruh kepercayaan penuh dan menyetujui paparan mengenai konsep Outbound Training yang penulis sampaikan.

Sejak awal acara paparan penulis sudah optimis, apalagi saat penampil pertama pada acara tersebut tampil tanpa konsep. Bagi penulis ini momentum penting tersendiri. “Argometer saya matikan untuk kegiatan ini”, itu yang penulis sampaikan saat menutup paparan perdana mengenai konsep Outbound Training.

Capture11

Suasana pembuatan rakit pada pelaksanaan OBTB 1998.

Demikianlah, kemudian atas saran Wiyanto Soeharjo disepakati memakai nama Outdoor Based Team Building Taining (OBTB). “What is a name” demikian William Shakespeare. Secara garis besar OBTB FPOK IKIP Jakarta 1998  adalah kumpulan Games tematik beraroma petualangan di alam,  sarat dengan  muatan psikologis dan disajikan dalam sebuah atmosfir kompetisi.

Setiap individu peserta dikondisikan dalam regu-regu berkekuatan 10-15 personil, mereka kemudian akan bertarung dalam sebuah kompetisi pengumpulan nilai. Setiap aktifitas pada OBTB punya bobot penilaian. Sangat mewakili semangat dan karakter fakultas.

Pada OBTB Tidak dikenal lagi konsep usang perkemahan statis, para mahasiswa selama 3 hari 2 malam dikondisikan hidup nomaden berpindah-pindah tempat, atau populer disebut dengan istilah Flying Camp.Tenda permanen kini tinggal kenangan.

Sebagai gantinya setiap individu wajib memahami teknik pembuatan Bivak (Bahasa Prancis: Bivouac).  Tempat berlindung sementara (darurat) di alam bebas dari aneka gangguan cuaca. Bivak buatan didirikan dengan menggunakan ponco dengan memanfaatkan tali sebagai salah satu bahan penunjangnya.

Lebih dari itu, diperkenalkan pula beragam pengetahuan dasar hidup di alam bebas. Proses tersebut digelar dilingkungan kampus, dikemas dalam apa yang dinamakan dengan periode pembekalan OBTB. Calon peserta dalam hal ini mahasiswa baru FPOK IKIP Jakarta, belajar banyak hal yang berhubungan dengan pengetahuan praktis dunia petualangan. Diantaranya kiat memilih ransel yang ideal berikut teknik penyusunan barang (Packing). Tali – temali dasar, kerjasama tim dalam pembuatan rakit bambu yang nantinya akan digunakan saat penyeberangan rintangan air, serta pengetahuan masak dengan perangkat khusus.

Kedepannya seiring dengan berjalannya waktu, materi navigasi darat masuk pula memperkaya konten pembekalan. Menyesuaikan dengan masuknya permainan Orienteering sebagai bagian daripada aktifitas kegiatan.

Metode Outbound Training sejak awal memang diyakini akan membawa peserta untuk lebih memahami arti yang sebenarnya dari sebuah tantangan. Belajar langsung akan pentingnya memiliki jiwa yang tidak mengenal putus asa. Termasuk didalamnya mendapatkan pemahaman yang sebenarnya tentang motivasi, kerja sama tim (team building) dan kepemimpinan. Lebih arif dalam melihat potensi diri, memaknai dengan benar arti sesungguhnya dari kata komunikasi efektif.

Proses pembekalan calon peserta, berjalan simultan dengan proses edukasi pada elemen kepanitiaan. Serentetan acara simulasi digelar dalam bentuk diskusi dan praktek lapangan,demi  sosialisasi konsep OBTB. Rangkaian simulasi dilakukan langsung di Bumi Perkemahan Pramuka (Buperka) Cibubur di Selatan Jakarta, tempat dimana OBTB perdana nantinya akan dilaksanakan.

SHOW TIME

Capture14

Demikianlah yang terjadi pada tahun 1998 lalu, setelah melalui tahapan pembekalan. Ratusan mahasiswa FPOK IKIP Jakarta, akhirnya mampu “bermain” di alam terbuka dengan kemampuan dasar individu yang berbeda segalanya, dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya.

Mereka mampu memperagakan implementasi “Flying Camp”. Bongkar -pasang bivak, Packing ransel, kemudian berpindah-pindah tempat sesuai dengan tuntutan skenario program kegiatan. Aktifitas masak – memasakpun, kini berlangsung sesuai dengan  Outdoor Life Style.  Peserta tampak familiar dengan kompor lapangan berbahan bakar parafin, tidak ditemukan lagi penggunaan alat memasak tak lazim seperti pada era sebelumnya.

Merekapun untuk pertama-kalinya berkenalan dengan rentetan permainan bermuatan psikologis. Penyeberangan rintangan air dengan menggunakan rakit bambu, penggalan aktifitas OBTB yang awalnya dicemaskan oleh para pengamat awam. Justru menjadi aktifitas yang paling “heboh”.

Proses pembuatan media rakit berikut aktifitas penyeberangannya, sangat merepresentasikan aspek kerjasama tim.  Danau Buperka Cibubur jadi saksi bisu aktifitas seru tersebut. Ada rasa haru tersendiri, menyaksikan deretan bivak peserta plus panitia berjajar di kawasan Arboretum (hutan buatan) Cibubur. Benar bahwa hasil akhir memang tidak akan pernah mengkhianati prosesnya.

Demikianlah implementasi konsep Outbound Training menyingkirkan tradisi tanpa konsep kegiatan Jambore mahasiswa. FPOK IKIP Jakarta memasuki babak baru dalam konsep dan implementasi kegiatan mahasiswa di alam terbuka. Dalam perjalanannya kemudian, kerap metode Outbound Training tersebut di atas terkontaminasi.

Pergantian pucuk pimpinan fakultas kerap punya dampak ikutan yang negatif. Keterbatasan wawasan akan seluk beluk Outdoor Activity  boleh jadi adalah penyebabnya. Ditambah lagi dengan bisikan dan keterlibatan individu – individu Oportunistik yang sekedar bertahan hidup dengan metode sok tahu. “You need special shoes for hiking, and a bit of a special soul as well.” (Terri Guillemets).

Untuk membimbing mahasiswa dalam kegiatan beraroma petualangan, setidaknya harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Karena mereka yang telah cukup memiliki segala sesuatunya pun terkadang tidak luput dari resiko berat. Semua aktivitas yang dilakukan manusia mempunyai resiko, begitu pula dengan aktivitas petualangan di alam bebas.

METAMORFOSA AKTIFITAS OBCB FIK UNJ (I)

Wikipedia mendefinisikan kata Metamorfosis sebagai  suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik dan atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. Perubahan fisik itu terjadi akibat pertumbuhan sel dan differensiasi sel yang secara radikal berbeda.

Metamorfosis, kemudian kerap dianalogikan bagi kondisi perubahan yang merujuk kepada banyak aspek, baik realitas maupun abstrak. Perubahan itu dinamis; ia adalah historis, presentatif dan futuristik. Kata ‘metamorfosa’ mungkin tidak akan ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, melainkan kata ‘metamorfosis’, yaitu perubahan bentuk atau susunan; peralihan bentuk. Metamorfosa adalah bentuk kata nonformal dari metamorfosis. Dengan demikian,metamorfosa juga memiliki arti yang serupa dengan metamorfosis.

Kata metamorfosa, penulis gunakan sebagai analogi untuk menceritakan kembali tentang  perjalanan panjang kegiatan klasik perkemahan mahasiswa FPOK IKIP Jakarta di alam terbuka. Kegiatan yang merupakan kalender tetap tahunan, ditempatkan sebagai bagian dari proses  inagurasi atau pelantikan mahasiwa baru.

Even yang digadang-gadang sebagai media solidaritas dan penanaman jiwa korsa. Dikemas rapih   dengan nama Jambore dan bakti sosial. Ritual tersebut bermula pada tahun 1984, digelar di daerah Cinumpang kawasan berhawa sejuk tak jauh dari kota Sukabumi Jawa Barat.

Tidak terasa pula sampai dengan tahun 2016 ini,  34 tahun sudah kegiatan perkemahan kolosal yang melibatkan setidaknya 200-an peserta tersebut berlangsung berkesinambungan. Experiental Learning demikian yang penulis alami dalam perjalanan panjang tersebut, berawal dengan peran sebagai ketua pelaksana Jambore I saat berstatus mahasiswa, kemudian berlanjut sebagai dosen pembimbing.

Sekedar aktifitas berbau perpeloncoan yang bersembunyi dibalik kata “bakti sosial”, demi aspek legalitas. Sehingga dapat digelar menjauhi kampus, itu kesan yang tertangkap setidaknya sampai dengan tahun 1997 lalu.  Kegiatan  yang kadung jadi tradisi itu, rasanya harus dibawa kearah yang lebih kondusif, itu obsesi penulis dipenghujung dekade 1990-an.

Bagaimana aktifitas yang telah mengurat mengakar tersebut kemudian  mengalami metamorfosa. Adalah bagian yang ingin dituturkan pada artikel ini, aggap saja sebagai kiat melawan lupa. Outdoor Based Character Building (OBCB) sampai kepada bentuk idealnya saat ini, adalah sebuah proses panjang. Konsep tanpa konsep bernama Jambore dan bakti sosial yang bermula pada tahun 1984, akhirnya menemui ajalnya pada tahun 1998.

Digantikan dengan kemasan baru Outbound Training yang sejak awal diyakini lebih kondusif. Packaging anyar yang menggantikannya mengadopsi trend yang berkembang saat itu, dimana berbagai aspek pembentukan kerjasama tim digelar dengan pendekatan berbeda.Aktifitas di alam digunakan sebagai media (Outbound).

Istilah Outbound sendiri sesungguhnya berasal dari kata Outward Bound, sebuah ide pendidikan inovatif hasil kreasi seorang Kurt Hahn. Pengertian Outbound secara lengkap adalah sebuah kegiatan yang dilakukan di alam terbuka (Outdoor), melalui beberapa simulasi permainan (Outbound Games) secara individu maupun perkelompok. Sebuah metode pengembangan potensi diri melalui rangkaian kegiatan simulasi/ permainan/ dinamika, yang memberi pembelajaran melalui pengalaman langsung.

SEJARAH OUTBOUND TRAINING

Bermula pada tahun 1941, saat Kurt Matthias Robert Martin Hahn memperkenalkan sebuah metode pendidikan dengan pendekatan pada kegiatan di alam terbuka. Metode tersebut diproklamirkan dengan istilah Outbound. Kiat anyar tersebut kemudian menjadi karakter kental metode pendidikan pada sekolah bernama Outward Bound.

Didirikan di Aberdovey-Wales,  sekolah dengan metode tak biasa tersebut didirikan dengan tujuan melatih fisik dan mental para pelaut muda guna menghadapi ganasnya pelayaran di lautan Atlantik pada saat itu. Pelayaran di lautan Atlantik pada era itu adalah petualangan maut dalam apa yang disebut dengan “Pertempurran Atlantik”.

Wikipedia mendeskripsikannya sebagai berikut Pertempuran Atlantik adalah kampanye militer berkesinambungan yang paling lama[5][6] dalam sejarah Perang Dunia II, dimulai pada tahun 1939 sampai kekalahan Jerman pada tahun 1945. Pada intinya adalah pihak Sekutu melakukan blokade laut terhadap Jerman, diumumkan sehari setelah pernyataan perang, dan pihak Jerman kemudian melakukan blokade balasan. Puncaknya terjadi pada pertengahan tahun 1940 sampai akhir tahun 1943. Pertempuran Atlantik mengadu kekuatan antara U-boat  (kapal selam Jerman) dan kapal-kapal perang lainnya dari Kriegsmarine (Angkatan laut Jerman) serta pesawat udara dari Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) melawan Angkatan Laut KanadaAngkatan Laut Britania Raya, dan kapal-kapal dagang Sekutu.

Nama “Pertempuran Atlantik” diberikan oleh Winston Churchill pada bulan Februari 1941. Merupakan pertempuran laut yang “terlama, terbesar, dan paling kompleks” dalam sejarah. Kampanye militer ini dimulai segera setelah perang Eropa meletus, dan berlangsung selama enam tahun yang melibatkan ribuan kapal dalam lebih dari 100 pertempuran konvoi dan mungkin 1.000 pertempuran kapal tunggal, di medan perang yang meliputi ribuan mil persegi lautan.

Hasil pertempuran berujung pada kemenangan strategis bagi Sekutu, sementara blokade Jerman gagal, namun dengan pengorbanan besar, sebanyak 3.500 kapal dagang dan 175 kapal perang karam, sementara Jerman kehilangan 783 U-boat.

Kembali kepada topik utama, mengenai sekolah bernama Outward Bound dengan metode Outbound Trainingnya. Pada tahap awal kegiatan mendaki gunung dan petualangan di laut digunakan sebagai media. Kurt Hahn sendiri mempunyai anggapan bahwa kegiatan berpetualang bukan merupakan kegiatan main-main, melainkan sebagai wahana berlatih anak-anak muda menuju kedewasaan.

Metode, media dan pendekatan tak lazim yang dilakukan oleh sekolah Outward Bound ketika itu, mengundang perhatian tersendiri. Pemerhati pendidikan kemudian mengklasifikasikan bentuk pelatihan yang diajarkan sebagai Adventure Education atau Experiental Learning. Setelah berakhirnya perang dunia II, metode pelatihan ini berkembang pesat dan mulai ditiru di banyak tempat.

Outbound Training di negeri ini  mulai dikenal sekitar tahun 1990, dengan nama Outward Bound Indonesia. Metode tak biasa yang dianut, dengan segera menjadi Trending Topics. Seperti jamur dimusim penghujan, berbagai lembaga pendidikan yang mengadopsi metode outbound training kemudian berdiri, tentu saja dengan level profesional dan kelengkapan  yang tak seragam.

Bersambung. . .

SNAPSHOT OBCB FIK UNJ 2016

Lagu bagaikan awan-awan, sebagian lagi bagaikan air,” demikian kata Masanori Takahashi yang kemudian lebih populer dengan nama Kitaro. Musisi Instrumentalist legendaris beraliran New Age peraih Grammy Award. Salah satu mega karya  Kitaro, berjudul Silk Road yang dirilis pada tahun 1981, boleh jadi akan menjadi kenangan tersendiri bagi para peserta Outdoor Based  Character Building (OBCB) 2016.

Betapa tidak, jika di tengah keheningan malam di kedalaman hutan konservasi waduk Jatiluhur. Karya fenomenal Kitaro menjadi pilihan musik latar, pengantar prosesi penyalaan api unggun oleh Dekan FIK UNJ. Alunan musik multi instrumental Kitaro memiliki arti yang sangat dalam, menggiring pendengarnya seolah berada di suatu tempat yang belum pernah disinggahi.

Demikian penggalan kecil aktifitas OBCB FIK UNJ. Tiap generasi memang punya warna tersendiri. Demikian halnya dengan ritual tahunan yang pada dekade 80 sampai dengan penghujung dasawarsa 1990-an, dikenal dengan nama “Jambore Mahasiswa”. Sejak tahun 1998 lalu, kegiatan dengan media alam tersebut telah mengalami metamorfosa.

Nuansa yang diusung kini lebih bermuatan edukatif, dengan atmosfir yang jauh lebih kondusif. Konten implementasinya sarat muatan psikologis, dibingkai dalam atmosfir kompetisi sesuai dengan karakter fakultas.

Untuk kesekian kalinya pula Waduk Jatiluhur yang terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten PurwakartaProvinsi Jawa Barat. Menjadi pilihan tempat pagelaran even OBCB. Bendungan terbesar di Indonesia tersebut punya panorama danau dengan luas 8.300 ha, lengkap dengan hutan konservasinya.Sungguh sebuah tempat “bermain” yang ideal.

Letak geografis serta durasi waktu tempuhnya dari Ibukota relatif masuk logika, pilihan ideal bagi sebuah aktifitas edukasi berbingkai petualangan di alam terbuka. Rangkaian foto pada slide dibawah ini, bertutur banyak mengenai event OBCB FIK UNJ.