THE SNOW LEOPARD DALAM KENANGAN

Sebuah pesan teks Whatsap masuk dari Hartman Nugraha, rekan sesama Dosen di fakultas olahraga UNJ. Isinya sebuah berita yang diteruskan dari salah satu media,berjudul “Potret upacara pemakaman pencetak rekor 10 kali daki Everest”. Sebuah liputan berita duka, mengenai berpulangnya Ang Rita Sherpa. Nama Ang Rita punya kenangan tersendiri bagi penulis,dua kali penulis sempat berjumpa langung dengan “The Snow Leopard” si macan salju begitu julukannya.   

Perjumpaan petama terjadi di salah satu restaurant sederhana, di seputaran daerah Thamel Kathmandu di bulan Desember tahun 1996. Saat itu penulis bersama dengan rekan Monty Sorongan dan Mayor Rochadi, ditemani Ang Tschering pimpinan Asian Trekking. Awalnya pertemuan dengan Ang Rita Sherpa, bertujuan untuk menjajaki kemungkinan bergabungnya dia dalam Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia. Saat itu nama dan karir seorang Ang Rita Sherpa tengah berada di puncak karir. Catatan rekor pencapaian puncaknya di Everest adalah 10 kali. Sebuah garansi keberhasilan tersendiri bila bisa merekrutnya sebagai bagian dari The Dream Team Sherpa pendamping Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia.

Pertemuan tidak berlangsung lama,cenderung mengecewakan,penampilannya pagi itu membuat niatan untuk merekrutnya langsung pupus. Cara berbicara yang tidak fokus karena masih dalam pengaruh alkohol, ditambah dengan sisa bekas lebam pukulan pada wajahnya menyempurnakan penilaian negatif kami. Konon itu akibat keributan yang terjadi pada malam sebelumnya. Niatan untuk mendapatkan jasa seorang Ang Rita sirna seiring usainya pertemuan tersebut. Pilihan kemudian berpindah pada Apa Sherpa, dari sisi usia jauh lebih muda namun memiliki catatan tidak kalah dahsyat. Sampai dengan tahun itu, Apa Sherpa tercatat memiliki rekor 7 kali pencapaian puncak Everest.Kelak terbukti pilihan tersebut tidak salah.

Empat bulan kemudian di Rongbuk Glacier Tibet, Base Camp pendakian sisi utara puncak Everest. Penulis kembali berjumpa dengan sang legenda. Di tengah suasana malam yang membekukan, awalnya penulis tertarik untuk datang bergabung ke tenda dapur ekspedisi yang riuh oleh obrolan dan tawa para Sherpa. Sebuah pemandangan mengejutkan hadir saat memasuki tenda, para Sherpa pendukung tim Indonesia duduk dalam posisi setengah lingkaran mengelilingi seorang Ang Rita Sherpa.

Memang tak jelas apa yang menjadi topik pembicaraan tersebut di atas. Karena menggunakan bahasa Sherpa, namun menurut rekan Phur Dorje Sherpa yang mencoba sesekali menerjemahkannya kepada penulis,lebih pada obrolan menyimak pengalaman seorang Ang Rita.Walau tak banyak paham,namun ikut duduk meriung menyimak suasana, ditemani segelas chhyang (minuman fermentasi tradisional suku Sherpa) tetaplah sebuah keasikan tersendiri.

Sepuluh kali keberhasilan pencapaian puncak Everest, tanpa menggunakan bantuan oksigen artifisial yang dikemas dalam tabung. Demikian catatan dahsyat yang diukir seorang Ang Rita Sherpa pada rentang waktu antara tahun 1983 sampai dengan 1996. Meskipun kemudian Sherpa lain menorehkan sukses pencapaian puncak lebih banyak, Namun Ang Rita tetap adalah pemegang rekor pencapaian puncak tanpa dukungan tabung oksigen. Juga orang pertama sampai saat ini yang mendaki Everest, tanpa oksigen tambahan di musim dingin. “Macan Tutul Salju” demikian dia dijuluki oleh rekan-rekannya para Sherpa.

Karirnya sebagai pemandu pendakian profesional (Climbing Sherpa) berawal pada usia 20 tahun saat memperkuat ekspedisi pendakian puncak Cho Oyu. Selanjutnya puluhan puncak gunung masuk dalam catatan cerita suksesnya. Seperti deretan puncak K2,Cho Oyu,Lhotse,Manaslu,Annapurna,Dhaulagiri,dan tentunya Everest yang dilakukannya berkali-kali tanpa bantuan oksigen .

Selama karirnya 18 kali Ia mencatat keberhasilan dalam memandu pendaki mencapai puncak berketinggian di atas 8000 meter. Guinnes Book of World Record pada tahun 2017 mencantumkannya sebagai satu-satunya orang di dunia yang mampu sepuluh kali mencapai puncak Everest tanpa dukungan tabung oksigen,rekor yang masih dipegangnya sampai dengan tahun 2020.

Sederet cerita seru lainnya juga mengiringi karir dahsyatnya, sebut misalnya ketika pada bulan April tahun 1985 saat Ia berhasil mendampingi Arne Naess ketua tim ekspedisi Norwegia mencapai puncak Everest di tengah terpaan badai salju dahsyat pegunungan Himalaya. Arne Naess sendiri bukan pendaki kacangan,namanya tercatat dalam banyak peristiwa penting. Milioner pemilik kapal tersebut,adalah mantan suami penyanyi terkenal Diana Ross. Adalah seorang pimpinan ekspedisi pendakian yang sarat pengalaman.

Salah satu catatan penting Arne Naess adalah,berhasil mengantarkan pendaki legendaris Inggris Chriss Bonington mencapai puncak Everest di usia 50 tahun.Chriss Bonington penulis buku terkenal “Everest The Hard Way” saat itu adalah bagian dari tim ekspedisi Everest Norwegia. Ekspedisi tersebut ketika itu berhasil menempatkan 17 pendaki dan Sherpa dalam rentang 10 hari di titik tertinggi dunia,sebuah rekor tersendiri pada eranya.

Keseruan lain dari seorang Snow Leopard terjadi pada musim dingin tahun 1987. Sebagai Climbing Sherpa bagi tim ekspedisi Everest Korea Selatan. dipimpin Park Young Bae. Ia terpisah dari tim bersama seorang pendaki Korea, menurut penuturan para Sherpa keduanya terpaksa terus melakukan aktifitas aerobik sepanjang malam, agar tubuh tetap hangat dan mampu bertahan hidup.

Tiga tahun kemudian pada tahun 1990, dia terlibat juga membantu ekspedisi Everest angkatan darat Nepal dibawah pimpinan Chitra Bahadur Gurung. Uniknya meski memulai ekspedisi pendakian dengan kekuatan hampir 50 pendaki, pada kenyataannya hanya empat yang mampu bertahan sampai ke puncak. Itupun hanya nama T.Bahadur Khatri yang merupakan prajurit Nepal, tiga lainnya adalah nama-nama Sherpa terkenal seperti Ang Rita,Pasang Norbu dan Ang Kami.

Upacara pemakaman sang legenda digelar dengan upacara penghormatan nasional, menurut ritual agama Budha. Menteri pariwisata dan kebudayaan Yogesh Bhattarai memimpin langsung jalannya upacara. Serentetan tembakan salvo dari anggota Nepal Armed Police Force menjadi pelengkap prosesi. Demikian berakhir sudah cerita fenomenal dari The Snow Leopard pada usia 72 tahun. (Octav Matakupan)