SENSASI MEDALI PERAK INDOOR HOCKEY.

“Freezing the Moment” perebutan medali emas Indoor Field Hockey. nomor pertandingan teranyar cabang olahraga hockey di SEA Games ke 29. Sebuah momentum historis bagi cabang olahraga hockey negeri ini. Demikianlah gedung megah berlabel Malaysia International Trade and Exhibition (MiTec) Centre Kuala Lumpur, menjadi “Battlefield” mencekam. Suguhan rentetan laga dramatis selama 5 hari, dengan klimaksnya pada tanggal 26 Agustus 2017.

Sesuai prediksi penulis, tim nasional hockey ruangan putera dan puteri negeri ini mampu berbuat banyak. Mereka tampil meyakinkan sepanjang rangkaian pertandingan “Round Robin System” babak penyisihan. Melaju dengan pasti menuju laga grand final, meski nasib kemudian berkehendak lain. Langkah mereka harus terhenti pada partai pamungkas. Demikianlah 2 medali perak adalah hasil maksimal yang dapat diraih dari negeri jiran. Sebuah catatan prestasi membanggakan yang pastinya akan cukup lama dikenang, terutama oleh para pelakunya.

 

 

 

 

Advertisements

SNAPSHOT – QUARTER FINAL INDOOR HOCKEY WORLD CUP 2015

Babak quarter final kejuaraan dunia hoki ruangan memang dahsyat. Leipzig Arena jadi saksi bisu dari sejumlah drama yang terjadi di lapangan permainan.  Rangkaian slide foto dibawah ini mungkin dapat bertutur banyak mengenai duel memperebutkan posisi terhormat pada babak semifinal.

This slideshow requires JavaScript.

OUTSIDE THE PITCH

Arena Leipzig, demikian nama tempat digelarnya kejuaraan hoki ruangan dunia. Bangunan megah multi-fungsi yang dibangun pada awal dekade 2000 tersebut punya kapasitas 8000 penonton. Selain menjadi saksi bisu even – even besar olahraga, arena Lepizig yang megah tersebut juga pernah menjadi panggung demostrasi kehandalan para musisi papan atas dunia. Sebut misalnya Shakira,Queen,Scorpions,Whitney Houston dan banyak lagi.

Selama berlangsungnya pertarungan para tim papan atas hoki ruangan dunia. Menarik pula disimak ragam kejadian yang terjadi diseputar Pitch lapangan permainan. Mulai dari ketegangan para Tactician menyaksikan strategi racikannya bergulir, mimik serius para juru foto, atau pula hebohnya para pendukung tiap tim. Rangkaian slide foto dibawah ini bercerita banyak mengenai sisi lain lapangan pertandingan. (Vatco)

This slideshow requires JavaScript.

IRAN MEMBANGGAKAN

Akhirnya ada juga tim asal benua Asia yang mampu mencapai babak semi-final kejuaraan hoki ruangan dunia. Beruntung dapat menyaksikan langsung peristiwa fenomenal tersebut dari tepi lapangan permainan. Sekaligus mengucapkan selamat kepada Shariatisaravi Hadi team manager Iran, figur yang penulis kenal baik sejak kejuaraan hoki ruangan Asia di Changhua Taiwan tahun 2014 lalu.

Iran membuktikan bahwa sebagai macan Asia mereka layak diperhitungkan. Pada laga babak perempat-final meski dengan cepat harus tertinggal 2 gol di menit – menit awal. Mereka mampu membalikan situasi untuk mengunci perlawanan Russia dengan skor akhir 8 – 5. Performa Iran banyak terbantu penampilan gemilang penjaga gawang Sasan Hatami Nejad yang tampil luar biasa. Entah apa jadinya nasib Iran tanpa pengawalan Goalie berusia 30 tahun dengan 20 Caps internasional tersebut.

Datang dengan materi pemain yang sebagian besar muka baru, konon kabarnya karena dampak konflik internal. Memperhatikan komposisi pemain bila tak salah ingat hanya 5 pemain ex piala Asia yang hadir di Leipzig (Sasan Hataminejad/GK,Chazanisharah Alireza/GK,Bahlooli Masoud,Navid Taherirad,Hamid Noraniyan).

Iran kali ini tidak diperkuat  oleh mesin gol Norouzadeh Reza,top scorer kejuaraan hoki ruangan Asia tahun 2014 lalu. Mereka maju perang dengan komposisi pelatih yang berbeda dibandingkan saat merajalela di Changhua. Di Leipzig Safei Esfandyar dipercaya menjadi peracik utama strategi Iran,menggantikan Nourani Rajab.

Demikianlah Iran memulai kampanye di Leipzig dengan tertatih- tatih. Pada hari pertama sebagai raja hoki ruangan Asia mereka harus mengakui keunggulan Austria dengan skor 7 – 2.  Nasib Iran semakin tak pasti. Juara bertahan Jerman melumat mereka pada laga kedua. Skor 11 – 3 memberikan gambaran signifikan jalannya laga yang tak berimbang.

Namun mereka kemudian menghidupkan peluang dengan meraih point kemenangan setelah mengalahkan Australia dengan skor 8 – 5. Berlanjut kemudian dengan catatan draw 3 – 3 dengan Republik Cheko. Meski dengan raihan point pas – pasan mereka lolos ke babak 1/4 final.

Andaikan nanti mereka gagal meredam Austria pada babak semifinal, pencapaian mereka kali ini tetap merupakan lompatan signifikan. Di Poznan Polandia 4 tahun lalu mereka hanya finish pada posisi peringkat 9 klasemen akhir.

1.K

LEIPZIG 2015

Butiran salju yang turun deras dari langit, bercampur dengan tiupan angin dingin yang menusuk adalah sambutan pertama kala tiba di stasiun kereta Leipzig, pada hari Selasa tanggal 3 Febuari 2015. Kota di timur Jerman tersebut, adalah akhir dari perjalanan 8 jam dengan menggunakan kereta api dari Amsterdam.

Di dalam stasiun Leipzig yang cukup besar dan nyaman, makan adalah strategi pertama yang dipilih untuk menghadapi etape berikutnya. Dalam kondisi cuaca yang sangat tak bersahabat bagi manusia tropis, pastinya sangat tak nyaman berjalan kaki menuju penginapan dengan perut kosong. Restauran cepat saji KFC, di pojokan stasiun Leipzig benar-benar bak sebuah Oase. Tempat balas dendam, mengingat makanan terakhir yang masuk adalah saat sarapan pagi di Amsterdam.

Posisi kota  Leipzig secara geografis terletak 150 Km sebelah Selatan Berlin. Ensiklopedi Wikipedia menyebutkan bahwa kota Leipzig telah menjadi kota perdagangan setidaknya sejak zaman Kekaisaran Romawi. Kota ini terletak di persimpangan Via Regia dan Via imperii, dua rute perdagangan penting pada masanya.

Pabrik pesawat tempur legendaris Messerschmitt Bf 109, salah satu ujung tombak Luftwafe ( angkatan udara Jerman) posisinya juga di Leipzig, menyebar di  3 lokasi yakni Heiterblick, Abtnaundorf dan Mockau.

Tak heran bila pada era perang dunia ke II, Leipzig menjadi sasaran gelombang serangan udara Amerika dan Inggris. Serangan paling dahsyat berdasarkan studi dokumenter digelar oleh  oleh Royal Air Force ( RAF) pada dini hari tanggal 4 Desember 1943 dan menewaskan lebih dari 1.800 jiwa. Sebagian besar pusat kota hancur.

Kedepannya selama sisa waktu perang dunia ke II, Leipzig tetap menjadi target serangan udara berat berikutnya. Seusai perang dunia Kota Leipzig menjadi salah satu kota utama di Jerman Timur dan kemudian ikut memainkan peran besar pula, dalam proses reunifikasi Jerman. Saat ini berdasarkan riset lembaga riset pemasaran GfK, adalah salah satu pusat ekonomi dan merupakan salah satu kota paling layak huni di Jerman.

Demikianlah selintas mengenai kota Leipzig. Namun perjalanan panjang menuju Leipzig sama-sekali bukan bertujuan untuk mengkaji sejarah kota Leipzig. Di kota ini tengah digelar kejuaraan hoki ruangan dunia ke 4 (Indoor Hockey World Cup 2015).

Itulah target sesungguhnya, kalau kata generasi sekarang “Sesuatu banget” bisa menyaksikan langsung pertarungan hoki ruangan kasta tertinggi planet ini. Memang pada era globlisasi ini, bisa saja menyimak even dahsyat tersebut via Live Streaming. Namun menyaksikannya langsung, adalah sebuah obsesi lama. Keinginan tersebut menjadi semakin besar setelah merasakan langsung atmosfir kejuaraan hoki ruangan Asia di Changhua Chinese Taipei tahun 2014 lalu.

Penasaran ingin menyaksikan langsung bagaimana tim hoki ruangan putera Iran, raja hoki ruangan Asia bertarung di level tertinggi. Mengabadikan momentum empat tahunan tersebut melalui lensa kamera tentunya adalah bagian lain yang juga cukup mengasikan. Disamping tentunya mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan para pelaku hoki ruangan dari mancanegara. Beberapa dari hasil bidikan lensa dapat dinikmati pada slide foto di bawah ini. (Vatco)

This slideshow requires JavaScript.

 

 

 

KATAK DIBAWAH TEMPURUNG

10333714_1375330969422753_3636678396573706902_o

Sebuah demostrasi “Speed and Power Game”. Demikian pelajaran penting yang dipetik di kota Changhua, hari Minggu tanggal 16 Juni 2014 lalu. 15 gol tanpa ampun disarangkan para pemain Iran ke gawang Indonesia pada laga perdana, yang juga merupakan petualangan pertama negeri ini sepanjang sejarah di kancah hoki ruangan Asia. Beruntung  Indonesia masih mampu membalas, melalui sebuah serangan balik yang  berhasil  dikonversi menjadi gol oleh Airlangga. Skor akhir pertandingan tersebut adalah 15 – 1 untuk Iran.
Bukan soal kekalahan dengan 15 gol, yang menggelitik penulis untuk menurunkannya dalam bentuk artikel ini. Lebih pada menanggapi beberapa komentar bernada sumbang, di media sosial tanah air yang dengan bodohnya mengatakan bawa mengapa tidak memilih kalah dengan cara Walk Over,How Come ?.
Mari kita simak Pasal 4 tentang Juridiction butir (ii) “No person may conduct themselves in a manner or commit any act or omission which may prejudice the interest of hockey or which may bring the game of hockey into disrepute, demikian Code of Conduct menjelaskan tentang tidak dibenarkannya sebuah Walk Over.
Bagaimana implementasi Code of Conduct yang sebenarnya ?,. Pada sebuah pertandingan Internasional yang direkomendasikan oleh FIH dan AHF , saat Tehnical Meeting Code of Conduct yang sebelumnya sudah didistribusikan dan diyakini telah dibaca, wajib ditandatangani oleh seluruh perangkat tim ( T.Manager,Stand in – Manager,Coach,Ass Coach, Physiotherapist,Dokter dan pemain). Untuk selanjutnya diserahkan pada Tournament Director.
Dengan diserahkannya Code of Conduct tersebut berarti seluruh perangkat tim setuju terhadap semua aturan yang akan diterapkan pada sebuah kejuaraan. Demikian, jadi yang namanya Code of Conduct itu bukan asal diteriakan untuk sekedar keren-kerenan seperti yang sebelumnya terjadi di negeri kita, atau sebatas dipasang mirip iklan pada board di tepi lapangan permainan. Syukurlah era salah interpretasi itu akhirnya sudah berlalu.
Era globalisasi agaknya lumayan membantu segelintir individu dalam mencari jati diri, diaktualisasikan melalui komentar – komentar “ajaib” tanpa data empiris di dunia maya. Come on, apakah tidak tahu makna terdalam dari kata sportivitas. Sangat menyedihkan memang, karena usulan mengenai Walk Over tersebut di atas, disampaikan oleh seorang berpredikat sarjana olahraga.
Ini memang jelas masalah intelektual dan keterbatasan wawasan, bukan tidak mungkin Kazakhstan juga akan disarankannya untuk memilih kalah dengan cara WO juga.  Negeri pecahan Uni Soviet tersebut, juga harus menerima kenyataan kalah dengan 16 gol tanpa balas dari Iran. Lalu bagaimana dengan negeri jiran Malaysia yang juga digulung Iran dengan skor akhir 12 – 2, apakah mereka adalah tim nasional abal – abal, yang juga lebih baik memilih kalah WO ?. Katak dibawah tempurung adalah analogi tepat untuk mengilustrasikan kondisi tersebut.
Untuk diketahui Republik Islam Iran sejak kejuaraan hoki ruangan Asia digelar perdana di Ipoh Malaysia tahun 2008 lalu, sampai dengan edisi ke 4 penyelenggraan di Saraburi Thailand tahun 2012 lalu selalu berhasil tampil sebagai penguasa.  Pada edisi 1 di Ipoh,  Iran menghentikan ambisi tuan rumah Malaysia dengan skor 3 – 2. Kejuaraan hoki ruangan Asia sampai dengan edisi ke 3,  uniknya terus menerus berlangsung dengan Malaysia bertindak sebagai tuan rumah. Kota penyelenggaraaan juga tidak berubah, uniknya partai final selalu mempertemukan tim yang sama pula. Demikianlah, selama 3 tahun berturut – turut Malaysia harus selalu mengakui keunggulan Iran dengan skor yang sama  3 – 2 ( 2008,2009,2010).
Barulah pada kejuaraan hoki ruangan Asia ke 4 di Saraburi Thailand tahun 2012, posisi Malaysia sebagai runner up tergeser oleh Uzbekistan yang pada laga puncak lagi – lagi harus mengakui keunggulan Iran dengan 8 gol tanpa. Malaysia negeri dengan tradisi kuat olahraga hoki, pada even tersebut juga harus menerima kenyataan pahit digulung Iran dengan skor 8 – 2.
Prestasi negeri para Mullah ini dalam format hoki ruangan memang dahsyat.Mereka juga juara pada kompetisi hoki ruangan Asian Indoor Games di Macau tahun 2007, ketika itu mereka mengalahkan korea selatan pada laga puncak dengan skor 7 – 0. Lalu bagaimana prestasi mereka pada hoki lapangan ?.
Catatan menunjukan bahwa pada Asian Games Teheran tahun 1974, sebagai tuan rumah Iran hanya menempati posisi ke 6 yang merupakan peringkat terendah. Iran bahkan mengalami kekalahan 13 – 0 dari Pakistan yang kemudian keluar sebagai juara.
Rekam jejak Iran kemudian tak terdengar cukup lama, sampai kemudian mereka hadir pada kejuaraan Asia di Dhaka  Bangladesh tahun 1985 , saat itu mereka finish pada posisi ke 10 dari 10 negara peserta. Disinipun Iran mengalami kekalahan besar dengan 16 gol tanpa balas atas Pakistan.
Selanjutnya Iran kemudian dengan cerdik memilih lebih fokus pada pengembangan hoki ruangan. Didukung sarana dan prasarana yang luar biasa, konon kabarnya mereka memiliki 400 gimnasium berstandar internasional. Iran memiliki  tatanan kompetisi berjenjang,  termasuk sebuah liga nasional hoki ruangan yang diikuti oleh 16 klub. Jadi tak heran jika Iran kemudian tumbuh menjadi raksasa hoki ruangan Asia.
Namun penguasa Asia tersebut ternyata tertatih – tatih saat harus bertarung pada kasta tertinggi,kejuaraan hoki ruangan dunia. Langkah Iran tak lebih dari sebatas babak penyisihan pool. Pada pagelaran kejuaraan dunia hoki ruangan terakhir di Poznan Polandia tahun 2011 lalu, Iran yang  tergabung di pool B bersama Austria,Russia,Inggris,Republik Czech dan Amerika Serikat. Hanya mampu menempati posisi ke 5 babak penyisihan, dengan hanya mengumpulkan nilai 6.
Mereka dikalahkan Austria dengan skor 5 – 1, lalu harus mengakui keunggulan Republik Czech dengan skor 3 – 4. Mereka juga tak beruntung saat berduel dengan Inggris dan kalah dengan skor akhir 6 – 4. Nilai 6 yang diraih Iran adalah hasil dari 2 kemenangan, masing – masing diraih pada laga menghadapi Amerika Serikat yang berakhir dengan skor 6 – 2.  Iran pada even tersebut juga berhasil meraup poin penuh 3 seusai menjinakan Russia dengan skor 7 – 4 . Austria dan Russia dengan nilai 10, kemudian sama – sama melaju ke babak Semifinal  mewakili pool B.
Pada babak semifinal Russia terjungkal dengan 10 gol tanpa balas atas Jerman yang kemudian tampil sebagai juara. Jerman pada laga pamungkas berhasil membuyarkan ambisi tuan rumah Polandia dengan skor 3 – 2. Sebelum tersingkir pada laga puncak, tuan rumah Polandia pada partai semifinal menghentikan Austria dengan skor tipis 2 – 1. Posisi 3 akhirnya ditempati Austria setelah pada laga hiburan berhasil mengamankan asa tersisa untuk posisi peringkat ketiga, usai mengalahkan Russia dengan 5 gol tanpa balas.  Menarik menyimak apa yang disampaikan Tim menejer Iran – Hadi Saravi Shariati  “We are the best in Asia but we’re nothing in Indoor Hockey World Cup”.