SNAPSHOT OUTDOOR FIELD HOCKEY SEA GAMES 2017

Berangkat dengan biaya mandiri Federasi Hockey Indonsia ( FHI ), induk organisasi resmi cabang olahraga hockey yang resmi diakui pemerintah. Meski minim pengalaman internasional, namun performa militan  yang didemostrasikan mereka di lapangan permainan, memberikan asa tersendiri bagi masa depan tim nasional.

Sepak terjang tim Outdoor Field Hockey negeri ini pada SEA Games ke 29 lalu, berujung pada peringkat 4 puteri dan peringkat 5 putera. Demikian hasil maksimal yang diraih. Stadion hockey Bukit Jalil Kuala Lumpur, menjadi saksi bisu arti sebuah totalitas,loyalitas,komitmen dan pengorbanan.

Advertisements

CATATAN DARI AZERBAIJAN

Secara keseluruhan memang terjadi penurunan perolehan medali emas dibandingkan Islmamic Solidarity Games (ISG) ke 3 tahun 2013 di Palembang. Empat tahun lalu di Palembang, sebagai tuan rumah Indonesia berhasil tampil sebagai pengumpul medali emas terbanyak dengan 36 medali emas, 34 perak dan 34 perunggu.

Kini dengan raihan 6 medali emas,29 perak dan 23 perunggu, hanya mampu membawa kontingen negeri ini menempati peringkat ke 8. Penyebabnya adalah beberapa cabang yang merupakan lumbung medali Indonesia tidak dipertandingkan atau nomor pertandingan dikurangi. Peta kekuatan negara peserta mengalami perubahan signifikan, ajang ISG semakin prestisius.

Islamic Solidarity Games (bahasa Arab: دورة ألعاب التضامن الإسلامي disingkat ISG) adalah ajang olahraga multinasional yang melibatkan para atlet dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam. ISG berada di bawah pengawasan Islamic Solidarity Sport Federation (ISSF).https://id.wikipedia.org/wiki/Islamic_Solidarity_Games.

Tuan rumah Azerbaijan menyambut ISG 2017 dengan ambisi wajar. Mereka mengejar sukses ganda sebagai penyelanggara plus prestasi. Sejak awal kontingen tuan rumah memang telah menjadi ancaman serius. Kekuatan negeri kaya minyak pecahan Uni Soviet tersebut kini memang berbeda segalanya. Dibandingkan saat mengakhiri perburuan medali pada posisi ke 8, dengan raihan 6 medali emas.

Variabel lain yang mempengaruhi performa kontingen Indonesia dalam perburuan medali emas adalah “Turky Storm”. Turki  yang pada ISG lalu tampil ala kadarnya di Palembang, posisi ke 6 dengan perolehan 23 medali emas kini tampil dengan kekuatan maksimal.

Komposisi atlet yang dibesarkan melalui ketatnya kompetisi benua biru Eropa kali ini benar-benar mendemostrasikan kelasnya. Turki bersaing ketat dengan tuan rumah, meski akhirnya harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan margin 4 medali emas pada hari terakhir. Demikianlah pada akhirnya Kota Baku menjadi saksi bisu keseriusan Azerbaijan. Raihan 75 medali emas,50 perak dan 37 perunggu adalah fakta empirik kerja keras mereka.

Empat tahun mendatang, Turki sebagai tuan rumah pastinya akan tampil semakin garang. Pesta olahraga multi event ISG ke 5 tahun 2021 mendatang, agaknya akan semakin tak ramah bagi kontingen Indonesia dalam perburuan medali emas. Kelemahan negeri ini dalam “lobby internasional, khususnya pada penentuan cabang olahraga dan nomor pertandingan harus mendapat perhatian serius.

Pembinaan olahraga prestasi perlu dikaji ulang oleh para pemangku kebijakan. Dibutuhkan reformasi  skala prioritas pembinaan, karena anggaran pembinaan olahraga negeri ini tidak tak terbatas. (Octavianus Matakupan)