MENGENANG 24 TAHUN EKSPEDISI EVEREST KOPASSUS.

Bulan April memang selalu berbeda, khususnya bagi para mantan anggota tim ekspedisi Everest Kopassus Indonesia 1997. Meski peristiwa tersebut telah berlalu lebih dari dua Dasawarsa, kenangan kebersamaan dalam sebuah misi beraroma Mission Impossible tersebut membekas cukup dalam, sulit untuk dilupakan begitu saja.

Memang tidak berlebihan menyebutnya “Mission Impossible” sebagai sebuah misi yang hampir tak mungkin untuk bisa dituntaskan dengan sukses. Bahkan seorang pemandu pendakian profesional sekaliber Anatoly Boukreyev menyarankan rentang waktu persiapan satu tahun. Sebagai Durasi waktu minimal yang tak bisa ditawar. Itu disampaikan saat tatap muka perdananya dengan Mayjen TNI Prabowo di Makopassus Cijantung, penghujung tahun 1996 lalu.

Asumsinya dalam rentang waktu satu tahun, calon pendaki akan diasah melalui  rangkaian program penambahan pengalaman jam terbang pendakian. Medan latihannya adalah rangkaian simulasi ekspedisi pendakian puncak-puncak di jajaran pegunungan Himalaya, dengan ketinggian yang akan diarahkan secara progresif. Namun saran tersebut terpaksa diabaikan,menunda berarti memberi kesempatan kepada negeri Jiran Malaysia menjadi negara pertama di region Asia Tenggara yang mengibarkan bendera kebangsaannya di puncak Everest.

Memang harus diakui bahwa peluang keberhasilan tim, secara jujur ketika itu memang sangatlah kecil. Kekuatan utamanya adalah komposisi anggota tim saat itu, didominasi para prajurit baret merah dengan spesialisasi “Assault Climber” pendaki serbu terbaik. Walau miskin pengalaman pendakian, para prajurit elit tersebut punya motivasi berbeda, lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas. Mengenai peluang dalam bukunya yang berjudul  The Climb, kepada Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal  Prabowo Subianto, Boukreyev memproyeksikan “bahwa peluang kebehasilan hanya 30 % untuk menghadirkan satu pendaki Indonesia ke puncak Everest”.

Sejarah kemudian mencatat, bahwa prediksi Anatoly ternyata salah. Melalui jalur pendakian sisi selatan, bendera merah putih berhasil dikibarkan di puncak tertinggi dunia. Momentum tersebut, sekaligus memupus asa Malaysia untuk selamanya. Kelak peristiwa tersebut terbukti mampu menginspirasi generasi pendaki berikutnya. Pasca ekspedisi Everest Kopassus, 10 pendaki Indonesia tercatat sebagai Summiter Everest. Lebih dari itu, kini enam pendaki asal Mahitala Unpar (dua diantaranya perempuan) dan empat asal Wanadri berhasil menuntaskan pendakian 7 puncak tertinggi di 7 lempeng benua. Jumlah yang jauh di atas negara Asia Tenggara manapun.

Untuk memperingati momen tersebut, tahun ini bersama Rudi “Becak” Nurcahyo, penulis mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda.Dengan meminta para anggota tim memberikan komentarnya dalam bentuk rekaman video, dengan sudut pengambilan gambar ditentukan. Agar sesuai dengan skenario, Rudi Becak bahkan harus mengirimkan terlebih dahulu rekaman yang dibuatnya sebagai contoh.

Memang tidak mudah, karena berbicara didepan kamera bukan perkara sederhana. Beberapa diantaranya bahkan terpaksa diminta merekam dan mengirim ulang rekaman videonya, karena tidak sesuai dengan syarat yang telah ditentukan. Pada akhirnya kumpulan video pendek hasil rekaman berhasil terkumpul, kemudian disatukan dalam sebuah video berdurasi pendek. Memang masih jauh dari sempurna, namun setidaknya inilah testimoni pertama dari para mantan anggota tim, 24 tahun setelah peristiwa fenomenal tersebut berlalu.

IT’S ALL ABOUT RESPECT

Idenya bermula saat komunikasi via telpon dengan Rudi Nurcahyo, Becak demikian Ia biasa dipanggil kemudian meneruskannya, kepada para pendaki penyandang gelar Seven Summiters. Seven Summiters adalah sebutan prestisius bagi pencapaian tujuh puncak tertinggi dunia, yang terletak di tujuh lempeng benua dunia. Suatu prestasi yang tidak mudah. Inilah yang kemudian yang menjadi pembeda tersendiri, pada peringatan 24 tahun sukses ekspedisi Everest Kopassus Indonesia 1997.

Apresiasi mereka berupa testimoni, disajikan dalam bentuk video berdurasi pendek. Becak yang penulis kenal dekat sejak ekspedisi Everest Kopassus. Kemudian meneruskan kumpulan video tersebut kepada penulis, untuk dikemas dalam sebuah video berdurasi singkat.

Demikianlah Mathilda Dwi Lestari, Sofyan Arief Fesa,Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing dan Janathan Ginting, pendaki-pendaki tangguh asal perhimpunan Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam (Mahitala), Universitas Parahyangan (UNPAR). Mereka sesuai janji, mengirimkan rekaman video masing-masing dengan sudut pengambilan gambar sesuai kesepakatan. Kontennya berupa testimoni singkat mengenai sukses yang terjadi lebih dari dua dasawarsa lalu tersebut.

Selain mengucapkan selamat, mereka menyatakan pula bahwa keberhasilan pencapaian puncak Everest, memberi inspirasi tersendiri. Mereka berharap agar kedepannya, akan ada lagi prestasi fenomenal yang akan dihadirkan pendaki-pendaki anak negeri. Komentar senada juga disampaikan oleh Iwan”Kwecheng”Irawan, Fadjri Al Luthfi dan Nurhuda asal Wanadri. Mereka adalah tiga dari empat pendaki asal Wanadri yang sukses menyelesaikan pendakian tujuh puncak dunia. Sebagai catatan saat ini 10 pendaki Indonesia masuk dalam daftar Seven Summit Club. Selain nama-nama tersebut di atas, dua nama lagi adalah Fransiska Dimitri Inkiriwang (Mahitala Unpar) dan Martin Rimbawan (Wanadri).

Tujuh puncak tertinggi di tujuh lempeng benua tersebut adalah Carstenz Pyramid berketinggian 4884 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Papua mewakili lempeng Australasia. Lalu Elbrus (5642 mdpl) di Rusia mewakili lempeng Eropa, Kilimanjaro (5895 mdpl) di Tanzania yang mewakili lempeng Afrika,serta Aconcagua (6962 mdpl) di Argentina mewakili lampeng Amerika Selatan. Vinson Massif (4892 mdpl) di Antartika mewakili lempeng Antatika, dan Denali (6190 mdpl) di Alaska mewakili lempeng Amerika Utara. Puncak Everest (8848 mdpl) di Nepal mewakili puncak tertinggi di lempeng Asia, sekaligus dunia.

WELCOME APRIL 2021

Tidak terasa tahun 2021 telah bergulir memasuki bulan April. Ini bulan dengan nilai historis tersendiri. Pada tanggal 26 April 1997, untuk pertama kalinya bendera kebangsaan berkibar di titik tertinggi dunia puncak Everest. Tanggal tersebut kini tinggal terpaut puluhan hari kedepan. Sebelum Pandemi global Covid 19, para mantan anggota tim baik yang terlibat sebatas proses seleksi, ataupun yang kemudian masuk dalam komposisi tim utama, biasanya akan meluangkan waktu untuk berkumpul mengenang momen bersejarah tersebut.

Reuni Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia, demikian tema yang diusung dan hampir tiap tahun diadakan. Bagi para pelaku yang terlibat langsung di dalamnya, kisah yang tahun ini akan menginjak usia ke dua puluh empat tersebut, tetaplah menjadi cerita yang tidak akan pernah membosankan untuk diceritakan kembali. Pendakian puncak Everest yang dilakukan lebih dari dua dasawarsa lalu itu, memang bukan perkara mudah. Tantangan terbesar puncak berketinggian 8848 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut, adalah bukan bagaimana  memulainya, tetapi bagaimana menyelesaikannya. Ekspedisi tersebut bagi penulis adalah sebuah pengalaman luar biasa.

Tidak berlebihan jika menyebutnya “Mission Impossible” , sehingga pada awalnya Anatoly Boukreyev menyarankan rentang waktu persiapan 1 tahun, sebagai rentang waktu minimal yang tak bisa ditawar. Dalam waktu satu tahun calon pendaki, dapat diasah melalui  rangkaian program penambahan pengalaman jam terbang pendakian. Medan latihannya adalah rangkaian simulasi ekspedisi pendakian puncak-puncak di jajaran pegunungan Himalaya, dengan ketinggian diarahkan secara progresif.

Dalam bukunya yang berjudul  The Climb, kepada Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal  Prabowo Subianto, Boukreyev memproyeksikan “bahwa peluang kebehasilan hanya 30 % untuk menghadirkan satu pendaki Indonesia ke puncak Everest”. Ia juga menegaskan bahwa secara umum tim memiliki peluang Fifty-Fifty untuk kehilangan personil pendakian pada saat digelarnya ekspedisi. Peluang keberhasilan tim harus diakui secara jujur ketika itu memang sangatlah kecil, untuk dapat memenangkan puncak Everest. Kekuatan utamanya adalah komposisi anggota tim saat itu, didominasi para prajurit baret merah dengan spesialisasi pendaki serbu terbaik. Walau miskin pengalaman pendakian mereka punya motivasi berbeda, lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas.

Masih segar pula dalam ingatan penulis, bagaimana Anatoly dengan wajah dingin tanpa ekspresi mengomentari lembaran Periodisasi program latihan yang penulis paparkan dihadapannya. Toly demikian biasa Ia disapa, memberikan komentar hanya dengan kalimat singkat, “This is from Russia”. Periodisasi adalah kolaborasi berbagai faktor penunjang yang diyakini akan memberikan kontribusi positif pada pencapaian prestasi, didirikan di atas pondasi Sport Science. Anatoly benar, para teknokrat olahraga asal Uni Soviet adalah pionir yang mengapungkan ide mengenai hitungan dinamika antara volume dan intensitas latihan. Dikemas dalam pentahapan hirarki siklus program latihan dan pertandingan, demi mengkondisikan atlet menemukan performa terbaiknya pada waktu yang direncanakan.
 
Skenario Ekspedisi yang kemudian digelar prinsipnya tidak berbeda jauh dengan usulan Anatoly,yakni mematangkan pendaki langsung di pegunungan Himalaya. Namun implementasinya digelar dalam kurun waktu waktu jauh lebih singkat. Memang tidak ada pilihan lain. Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia saat itu memang berpacu dengan waktu. Sebab jika pada bulan April tahun 1997, bendera kebangsaan tidak berhasil dikibarkan di puncak Everest. Maka tim Everest Malaysia melalui program “Malaysia Boleh” akan menjadi negara pertama di region Asia Tenggara yang mengukir prestasi fenomenal tersebut.  
 
Pendakian ke puncak Everest adalah cerita soal kualitas fisiologis  manusia. Kemampuan untuk beradaptasi dan memaksakan diri bertarung di atas kemampuan rata-rata manusia normal. “Venues” pertandingannya adalah  medan pendakian dengan ketinggian ekstrim yang menembus angka 8000 m di atas permukaan laut (DPL). Perjalanan pendakian ke puncak Everest, akan menghadapkan pendaki dengan rintangan alam yang dikenal dengan istilah “zona kematian” (Death Zone). 
           
Zona kematian, secara geografis adalah wilayah yang berada pada ketinggian di atas  8000 m  di atas pemukaan laut. Istilah kategori ekstrim bagi fisiologi pendaki sesungguhnya dimulai pada ketinggian 5500 m DPL. Penambahan ketinggian pendakian membutuhkan dukungan oksigen tambahan. Tanpa itu, tubuh manusia sangat rentan terserang kasus pembengkakan pada paru-paru akibat ketinggian (High Altitude Pulmonary Oedema), serta High Altitude Celebral Oedema (HACE-pembengkakan otak akibat ketinggian), hipotermia (HP-menurunnya suhu tubuh secara drastis), sengatan udara dingin (frost bite), dan beberapa penyakit ketinggian lain yang dapat memaksa pendaki pulang tinggal nama. “Zona Kematian”, adalah tekanan Barometrik yang 70% lebih rendah daripada di permukaan laut, terkadang menyentuh angka 80%. Di puncak Everest, tekanan barometrik berosilasi antara 251 hingga 253 Torr (Torriceli).  

Udara yang kita serap baik di dataran tinggi maupun di dekat permukaan laut adalah sama komposisinya 20,93 % Oksigen (O 2), 0,03   % Karbon Dioksida (CO 2),79,04 % Nitrogen (N 2). Namun itu  kemudian akan mengalami penurunan signifikan, seiring dengan pergerakan pendaki dalam menambah ketinggian. Studi individu yang pernah dilakukan menghadapi tantangan ini, berujung pada kesimpulan terjadinya perubahan fisiologis, sebagai respon tubuh manusia terhadap hipoksia (HP). Sebuah kondisi kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga fungsi normalnya mengalami gangguan. Berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya. Kondisi tersebut dapat terjadi jika terdapat gangguan dalam sistem transportasi oksigen dari mulai bernapas hingga oksigen tersebut digunakan oleh sel tubuh. Dampak yang terjadi pada pendaki berkisar dari sakit kepala ringan, hingga oedema yang berpotensi mematikan. Sangat mengancam kehidupan karena hipoksia kronis tersebut berkombinasi  pula dengan penurunan suhu ekstrim dan dehidrasi. Beberapa pendaki asal Kopassus mengatakan kepada penulis saat itu dengan istilah “Musuh yang tak terlihat”.

Denyut Jantung (DN) sebagai parameter fisiologis, rentan terhadap perubahan ketinggian yang ekstrim. Pada tingkat kardiorespirasi, DN, terpengaruh pada situasi HP. Kondisi yang bermula sejak memasuki  ketinggian di atas 1500 m DPL. Kondisi peningkatan DN yang terus-menerus baik pada saat istirahat ataupun selama aktifitas pendakian, berdampak perubahan berkelanjutan dalam aktivitas sistem saraf otonom dan kadar sirkulasi katekolamin. DN meningkat menjadi 136% dari nilai di atas permukaan laut, kemudian bertahap menurun, puncaknya memberikan penurunan progresif pada kondisi DN akut (6 minggu setelah aklimatisasi di ketinggian 5400 Paparan akut pada dataran tinggi ini kemudian akan menghasilkan stimulasi terkait hipoksia pada sistem saraf simpatis. Respon ini selanjutnya meningkat oleh aktivitas fisik dan menginduksi peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Ini pula penyebab tersisihnya beberapa kandidat pendaki pada simulasi awal seleksi pembentukan tim, saat pendakian pertama di puncak Paldor yang berketinggian 5300 m.

Mereka yang lolos kemudian kembali dihadapkan pada ujian kedua,pendakian puncak Island Peak (6189 m). Walau cuma masuk kategori Trekking Peak, kondisinya menjadi berbeda karena digelar saat musim dingin. Rangkaian simulasi pendakian, dalam Periodisasi program latihan sejak fase awal tahap persiapan,tujuannya adalah memacu kecepatan pergerakan pendaki.Beberapa rekan pendaki sipil sejak awal kerap mempertanyakan hal tersebut.

Studi lapangan lain yang dilakukan oleh “Silver Hut Expedition” membuktikan bahwa dalam tekanan barometrik di bawah 530 mmHg (ketinggian di atas 3100 m DPL) HR maksimal (MHR) mulai turun dengan 1 detak jantung/menit untuk setiap 7 mmHg. Konsumsi oksigen maksimal (VO 2 maks) di ketinggian medan pendakian Everest, berkurang hingga 20-25% dari kondisi di permukaan laut. Penelitian yang dilakukan oleh Cerretelli menyimpulkan bahwa pada ketinggian 2500 m, VO 2 maks mulai turun antara 5%-10% dibandingkan dengan kondisi di atas permukaan laut. Sebuah riset simulasi pendakian Everest yang dilakukan dalam ruang hipobarik (COMEX). Menyimpulan bahwa VO 2 maks pendaki menurun 59% pada ketinggian  7000 m DPL.

Kondisi-kondisi fisiologis tersebut, serta kajian kepustakaan mengenai durasi waktu tempuh pendaki saat “Attack Summit” kemudian menjadi dasar menyampaikan ide “Emergency Camp” dalam salah satu kesempatan diskusi dengan rekan Monty Sorongan. Problemnya adalah bukan bagaimana para pendaki sampai ke puncak, tetapi bagaimana mereka dapat kembali ke camp IV (8000 m) dengan selamat. Sangat berbahaya memaksakan pendaki turun dari puncak dalam kondisi malam hari.

Pembahasan mengenai ide kontroversial tersebut, kemudian berlanjut dan dimatangkan melalui disuksi lanjutan dengan para konsultan Rusia, Ang Tschering dari Asian Trekking, Kolonel Pramono Edi, dan Mayor Rochadi. Sebelum kemudian diputuskan menjadi bagian dari strategi pendakian. Sebuah skenario mengenai tempat perhentian darurat usai pencapaian puncak. Drama satu malam di atas ketinggian 8000 m tersebut kemudian menjadi kisah epik tersendiri saat memenangkan puncak Everest di tahun 1997.

Selamat jalan Jenderal

   Awal bulan Mei 1997,cuaca di Rongbuk Glacier Base Camp sisi utara Everest memang  tengah tidak bersahabat. Pandangan ke arah puncak Everest kerap terhalang gumpalan awan tebal,pertanda cuaca buruk di atas sana. Dampaknya komunikasi radio dengan para pendaki yang tengah berjuang kerap kali mengalami gangguan signifikan. ONE MOMENT IN TIME - Tribhuvan Airport - Kathmandu Nepal

   Pada kondisi tersebut tiba-tiba  terdengar nada suara panggilan menggema pada perangkat radio komunikasi, “Garuda,Elang…,Garuda,Elang. Dengan sigap penulis menjawab Elang, Garuda, masuk. Suara yang tak asing tegas memberikan perintah, ” Octavianus Matakupan ! (diluar kebiasaan Bang Edhie memanggil dengan nama lengkap), jangan korbankan pendaki, tim Selatan sudah berhasil. Tarik mundur pendaki”. Perintah singkat yang  segera direspon dengan kalimat “Siap laksanakan”. Elang adalah Call Sign untuk Base Camp tim Utara, sementara Garuda adalah kode sandi panggilan untuk  Posko Kathmandu. Untuk tim Selatan nama Rajawali merupakan sapaan pembuka saat panggilan radio.

  Sejenak penulis saling berpandangan dengan rekan Erick Kusmana, sebelum meneruskan perintah tersebut kepada para pendaki. Perintah singkat tersebut datang langsung dari Letnan Kolonel Pramono Edhie Wibowo. Perwira lulusan Akabri Darat tahun 1980 tersebut, adalah koordinator umum Ekspedisi Everest Indonesia 1997.

     Demikanlah selang sehari kemudian, penulis menyambut kedatangan wajah – wajah muram Praka Tarmudi,Serda Sunardi dan Gunawan”Ogun” Achmad di ujung Rongbuk Glacier, dengan kalimat singkat “maaf,ini perintah”. Keputusan untuk menarik turun pendaki saat itu adalah keputusan tepat dan realistis demikian mengutip komentar Monty Sorongan dalam buku “Dipuncak Himalaya merah putih kukibarkan.

     Bersama Beliau, 23 tahun lalu penulis banyak terlibat dalam diskusi panjang, sebagai pengisi waktu luang  di dalam tenda komando ekspedisi sisi utara. Pramono Edhie  saat itu memang turut menyertai tim sampai ke Rongbuk Glacier, di fase awal upaya pendakian puncak Everest dari sisi utara. Sebelum kemudian kembali ke Kathmandu – Nepal,untuk secara simultan memegang kendali ekspedisi pendakian dari sisi Selatan dan Utara .

      Semalam (Sabtu 13 Juni 2020) rekan Monty Sorongan menyampaikan berita duka berpulangnya Jenderal Purnawirawan Pramono Edhie Wibowo. Mantan KASAD dan juga Komandan Jenderal KOPASSUS tersebut meninggal karena serangan jantung. Selamat jalan Jenderal.

CZECH – ONE MOMENT IN TIME

       It;s about freezing a moment in time, Demikian rentetan foto dibawah ini. Merupakan rekaman lensa kamera dalam membekukan kenangan. Bertutur banyak mengenai program latih tanding terjauh tim nasional hockey Indonesia. Republik Ceko menurut pengamatan kualitatif penulis, memang adalah tempat yang tepat. Seperti lazimnya negara dengan kondisi empat musim, republik Ceko memiliki tradisi kental dalam permainan hockey ruangan. Posisi dan  peringkat dunia mereka dalam format Indoor Hockey menjadi bukti tersendiri.

     Pragochema cup yang tahun ini menginjak usia ke 53 penyelenggaraan, dianggap tepat dijadikan media dalam memetik pengalaman Internasional. Partisipasi pada even klasik tersebut bukan sasaran tunggal dari tour ke Ceko tahun ini. Program yang didisain setahun lalu tersebut, punya muatan sederet jadwal program latihan dan Friendly Match. Frekuensi laga dengan tim nasional Ceko dan sejumlah klub lokal, adalah suguhan menu dalam Periodisasi program latihan. Khususnya di minggu krusial mejelang kompetisi utama.  Demikian skenario Federasi Hockey Indonesia (FHI), pada program Czech Tour 2019.

    Pada even tersebut, performa tim nasional di mata penulis tidak mengecewakan. Tim puteri mampu memberikan kejutan. mereka mampu melaju jauh sampai ke babak semifinal, sebelum berakhir pada posisi ke 4.  Sementara tim putera berada pada posisi ke 6 pada klasemen akhir, usai laga penyusunan peringkat. Bukan sesuatu yang buruk untuk penampilan perdana di benua biru.

OBCB 2019

      Tetap dengan konsep Experiental Learning sebagai roh. Konsep yang dicangkokan pertama kali 21 tahun lalu. Tiap generasi selalu punya warna tersendiri, itu yang terekam lewat bidikan lensa kamera penulis pada momen Outdoor Base Character Building (OBCB) 2019 lalu. Beruntung dapat menjadi saksi dari sebagian besar momen kegiatan mahasiswa tersebut.

        Bermula sebagai ketua pelaksana Jambore I FPOK IKIP Jakarta di tahun 1984, berlanjut kemudian dengan peran sebagai Dosen pembimbing. Sejak era FPOK IKIP Jakarta sampai pada era FIO UNJ, perjalanan waktu membuktikan bahwa kegiatan rutin tahunan tersebut menjadi jauh lebih berkualitas. Sarat dengan muatan edukasi.

              

 

SNAPSHOT OUTDOOR FIELD HOCKEY SEA GAMES 2017

Berangkat dengan biaya mandiri Federasi Hockey Indonsia ( FHI ), induk organisasi resmi cabang olahraga hockey yang resmi diakui pemerintah. Meski minim pengalaman internasional, namun performa militan  yang didemostrasikan mereka di lapangan permainan, memberikan asa tersendiri bagi masa depan tim nasional.

Sepak terjang tim Outdoor Field Hockey negeri ini pada SEA Games ke 29 lalu, berujung pada peringkat 4 puteri dan peringkat 5 putera. Demikian hasil maksimal yang diraih. Stadion hockey Bukit Jalil Kuala Lumpur, menjadi saksi bisu arti sebuah totalitas,loyalitas,komitmen dan pengorbanan.

OBCB 2017 DALAM REKAMAN LENSA KAMERA

Tiap generasi punya warna tersendiri, itu yang terekam lewat bidikan lensa kamera pada momen Outdoor Base Character Building (OBCB) 2017 lalu. Beruntung, penulis menyaksikan sebagian besar momen kegiatan serupa, sejak era FPOK IKIP Jakarta sampai pada era FIO UNJ. Apapun nama kegiatannya, adalah aktifitas yang digelar di alam terbuka. Diadopsi, sebagai penggalan ritual penanaman “esprit de corps” mahasiswa fakultas olahraga. Prosesi rutin tahunan yang digelar sejak tahun 1984 silam.

Perbedaan signifikan adalah pada keberhasilan mencangkokan konsep Experiental Learning sebagai roh kegiatan. 19 tahun lalu, medio tahun 1998, untuk pertama-kalinya kegiatan jambore konvensional berganti warna.  Perjalanan waktu kemudian membuktikan, bahwa kegiatan rutin tahunan tersebut menjadi jauh lebih berkualitas  dan sarat dengan muatan edukasi.