Mountain Expedition

16 TAHUN LALU

April tahun 2013 ini, tak terasa genap 16 tahun sudah, cerita “Mission Impossible” Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia berlalu. Sebuah perjudian terbesar dalam sejarah hidup para pelakunya.  “The Greatest Gambling in my coaching career”, demikian penulis menyebut pengalaman luar biasa yang membekas amat dalam tersebut. Artikel ini mungkin menarik untuk dibaca oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, para Pelatih atau siapapun yang berminat memahami  seluk beluk Periodisasi Program Latihan.
Salah satu hal menarik usai ekspedisi tersebut, adalah pertanyaan mengenai rentang waktu yang dibutuhkan untuk sebuah pendakian ke puncak Everest. Jawaban bahwa untuk mensiasati puncak Everest dibutuhkan setidaknya waktu 6 minggu kerap membuat orang awam tekejut. Bagaimana sebuah periodisasi program latihan bekerja adalah salah satu bagian tersendiri yang ingin disajikan pada tulisan sederhana ini.
Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia ketika itu adalah sebuah perjudian, sebuah upaya menuntaskan sebuah obsesi beraroma “mission imposible”. Jangankan bercerita tentang “jam terbang” pengalaman pendakian gunung salju, “believe it or not” umumnya anggota tim ketika itu khususnya para prajurit Kopassus bahkan baru untuk pertama kalinya dalam hidup melihat salju. Suatu hal yang langka dan mungkin pula tidak akan pernah terjadi lagi sepanjang  sejarah pendakian puncak Everest di masa mendatang.Episode mengenai  serombongan manusia tropis tanpa pengalaman hidup di atas  es, namun berniat  untuk sampai ke titik tertinggi dunia.
Minimnya pengalaman pendaki membuat siapapun ketika itu yang paham seluk beluk pendakian di kawasan pegunungan Himalaya, tidak berani berkata jujur jika ditanya mengenai probabilitas keberhasilan. Peluang keberhasilan tim harus diakui secara jujur, ketika itu sangatlah kecil untuk dapat memenangkan puncak Everest.
Itu juga yang mungkin ada dalam pikiran seorang Anatolij Boukreev, saat kunjungan pertamanya di tempat pemusatan latihan tim Everest Indonesia di Makopassus Cijantung, November 1996. Bokreev menyikapi kendala minimnya sumber daya manusia pendaki Indonesia, dengan menyarankan minimal waktu persiapan selama satu tahun.
Anatolij  yang kenyang pengalaman bertarung dengan puncak – puncak ekstrim pegunungan Himalaya,saat itu merupakan salah satu pendaki dan professional guide terbaik. Menurutnya rentang waktu tersebut dianggap merupakan harga minimal yang tak bisa ditawar. Dalam waktu satu tahun calon pendaki, dapat diasah lewat rangkaian program penambahan pengalaman jam terbang pendakian. Melalui rangkaian ekspedisi-ekspedisi pendahuluan, ke puncak-puncak di jajaran pegunungan Himalaya, dengan ketinggian puncak latihan yang ketinggiannya diarahkan secara progresif.
Dalam bukunya yang berjudul  The Climb, kepada Danjen Kopassus ketika itu Mayjen Prabowo Subianto, Boukreev memproyeksikan “bahwa peluang kebehasilan hanya 30 % untuk menghadirkan satu pendaki Indonesia ke puncak Everest”. Ia juga menegaskan bahwa secara umum tim memiliki peluang Fifty-Fifty untuk kehilangan personil pendakian pada saat digelarnya ekspedisi.
EPISODE TITIK TERTINGGI DUNIA
Tantangan pada Pendakian puncak Everest yang berketinggian 8850 m di atas permukaan laut adalah bukan bagaimana  memulainya, tetapi bagaimana menyelesaikannya. Ketinggiannya yang menembus angka 8000 m di atas permukaan laut, memiliki rintangan alam yang disebut sebagai death zone.  Zona kematian, secara geografis adalah wilayah yang berada pada ketinggian di atas  8000 m (25.000 kaki ) di atas pemukaan laut. Tanpa dukungan oksigen tambahan, tubuh manusia sangat rentan terserang High Altitude Pulmonary Oedema ( HAPE – pembengkakan paru – paru akibat ketinggian ), High Altitude Celebral Oedema ( HACE – pembengkakan otak akibat ketinggian ), hipotermia ( menurunnya suhu tubuh secara drastis ), sengatan udara dingin (frost bite ), dan beberapa penyakit ketinggian lain yang dapat memaksa pendaki pulang tinggal nama.Udara yang kita serap baik di dataran tinggi maupun di dekat permukaan laut adalah sama komposisinya 20,93 % Oksigen (O 2), 0,03   % Karbon Dioksida (CO 2),79,04 % Nitrogen (N 2)
Usulan Anatolij mengenai sebuah skenario latihan ideal saat itu langsung  mentah. Waktu satu tahun yang ditawarkan oleh Anatolij saat itu dianggap terlalu lama. Tergusur oleh obsesi kuat untuk menghadirkan pendaki Indonesia ke titik tertinggi dunia sesegera mungkin.
“Kalau tidak sekarang kapan lagi” ? tidak banyak lagi waktu yang tersisa mengingat perkembangan situasi yang terjadi pada saat itu. Negeri jiran Malaysia secara pasti telah menetapkan musim pendakian 1997 sebagai titik kulminasi, muara akhir dari program nasional “malaysia boleh”- nya, demi menghadirkan malaysia sebagai negara Asia Tenggara pertama yang mampu mencapai puncak Everest. Untuk target tersebut Malaysia cukup serius, dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir mereka rutin mengirimkan para kandidat pendaki Everestnya ke berbagai sekolah pendakian manca negara, lengkap dengan berbagai simulasi ekspedisi sebagai ajang uji coba.
Walau nampak berkesan tergesa – gesa dan kalah dari sisi rentang waktu persiapan, Indonesia menempatkan keberhasilan dalam perburuan puncak Everest sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar. Jendral Prabowo, sebagai komandan jenderal Kopassus saat itu dengan tegas telah mencanangkan ekspedisi Everest sebagai program nomor 1, kehormatan bangsa ketika itu menjadi issue yang diapungkan kepermukaan. Boleh jadi semangat kebangsaan ini yang menjadi tenaga tambahan, apapun resikonya persaingan dalam perburuan puncak Everest di tahun itu wajib dimenangkan, apapun caranya.
SEJARAH PENDAKIAN PUNCAK EVEREST.
Berdasarkan catatan sejarah, sejak awal puncak Everest yang terletak di jajaran pegunungan Himalaya memang telah punya pesona tersendiri. Diyakini terbentuk akibat tabrakan antara India  dan benua Asia sekitar 1 trilyun tahun yang lalu, sampai dengan  awal tahun 1800-an puncak Everest masih sebatas misteri di  balik kabut pegunungan Himalaya.
Keberadaannya masih sebatas cerita dari mulut ke mulut di kalangan penduduk yang berada di bawah kaki pegunungan raksasa itu. Bahkan sering dikait-kaitkan dengan masalah mistis dan kepercayaan masyarakat Hindu dan Budha sebagai puncak menuju Nirwana.
Dalam epik Mahabrata para ksatria Pandawa setelah usai menjalankan tugas-tugas suci mereka di Amarata dikisahkan meninggalkan dunia nyata menuju Nirwana melalui puncak tertinggi di pegunungan Himalaya.
Masyarakat setempat melihatnya lebih sebagai puncak yang sakral, yang tidak sembarang orang boleh mendakinya. Pendakian ke sana biasanya tidak dikaitkan dengan masalah petualangan dalam menaklukan alam, tapi lebih pada perjalanan ziarah mencari dan memohon restu dari para dewa.
Seorang geografer Perancis bernama D Anvile pada tahun 1733 pernah menerbitkan sebuah peta yang mencantumkan keberadaan sebuah puncak gunung tinggi yang dalam bahasa Tibet diberi nama Qomolungma yang berarti Ibu Dewi Dunia. Informasi tersebut didapat D Anvile   dari para misionaris di Beijing,China yang mendapatkan cerita tersebut dari para Lama (pendeta) Budha di Tibet.
Rasa keingin tahuan yang besar didorong dengan semangat penjelajahan kemudian mendasari episode panjang, dari sebuah upaya manusia untuk menaklukan puncak Everest. Kelak upaya manusia untuk berdiri di titik tertinggi dunia butuh waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan upaya manusia untuk  menjejakan kaki di bulan.
Perburuan puncak Everest bermula ketika Sir George Everest yang merupakan kepala tim survey geologis Inggris di India ( 1830-1843) berhasil mendeteksi lokasi daripada puncak tertinggi di jajaran pegunungan Himalaya pada tahun 1841.
Puncak tersebut kemudian diberi nama puncak b yang ketinggiannya ketika itu diperkirakan berkisar pada angka 30,200 kaki, angka yang diukur lewat pengamatan dari jarak 100 mil dari puncak tersebut.
Di tahun 1852 ekspedisi besar trigonometrical survey dari India menyatakan bahwa puncak yang disebut oleh Michael Hennesy salah seorang asisten  dari Andrew Waugh sebagai puncak ke XV, adalah sebagai puncak tertinggi di dunia. Berlanjut di tahun 1854 puncak yang kemudian disebut dengan nama puncak b tersebut secara resmi disebut sebagai puncak nomor XV.
Dua tahun kemudian Andrew Waugh sebagai surveyor melakukan pengukuran mengenai ketinggian puncak ke XV tersebut dan mendeklarasikan puncak yang berketinggian 8840 m ( 29,002 feet ) itu sebagai puncak tertinggi di dunia, lebih tinggi dibandingkan puncak Kangchenjunga yang sebelumnya diyakini sebagai yang tertinggi dan diberi nama sebagai puncak nomor IX     ( 28,156 kaki ). Hebatnya angka mengenai ketinggian puncak Everest tersebut disepakati selama hampir 100 tahun sampai kemudian dilakukan penelitian yang lebih lanjut
Perhitungan yang dilakukan Waugh mengenai ketinggian puncak pada kenyataannya nyaris sangat akurat, beberapa penelitian yang dilakukan bertahun – tahun kemudian,  ternyata hanya mencatat selisih lebih tinggi kurang dari 0,1 % dari perhitungan yang dilakukan oleh Waugh.
Puncak tersebut kemudian diberi nama puncak Everest oleh Andrew Waugh untuk menghormati George Everest sebagai kepala penelitian trigonometris dan yang berhasil menyelesaikan perhitungan garis lingkar India, puncak tersebut sebelumnya telah dikenal dengan nama Chomolungma dalam bahasa Tibet dan Sagarmatha dalam bahasa Nepal.
Di tahun 1903 Lord Curzon raja muda India yang menaruh perhatian besar terhadap kemungkinan masuknya pengaruh Russia di wilayah Tibet, mengirim  Sir Francis Younghusband untuk melakukan penjajakan mengenai negosiasi tentang perbatasan dan perdagangan, hal yang kemudian ditolak oleh  Tibet.
Dampak dari penolakan tersebut  Sir Younghusband kemudian memimpin ekspedisi tentara inggris ke Lhasa ibukota Tibet, sebagai tindak lanjutnya akhirnya perjanjian ditandatangani di bulan September 1904 setelah Dalai lama terbang  ke Mongolia.
J.Claude  White yang merupakan staff dari Younghusband, kemudian melakukan pemotretan sisi timur puncak Everest dari Kampa Dzong yang berjarak 94 mil dari puncak, ini bukan foto pertama yang pernah dibuat tentang puncak Everest tetapi merupakan foto pertama yang menunjukan dengan jelas detail mengenai puncak Everest.
Di tahun 1907 Natha Singh yang merupakan anggota dari tim British Indian Survey mendapat ijin untuk memasuki daerah Everest dari sisi Nepal, melakukan pemetaan lembah Dudh Koshi yang merupakan pintu gerbang menuju puncak dari sisi selatan, seluruh upaya perjalanannya dalam melakukan pemetaan akhirnya berakhir di daerah Glacier Khumbu.
Kapten Jhon Noel di tahun 1913 mencoba melakukan penyamaran dalam perjalanannya ke wilayah Tibet, tindakan itu dilakukannya karena wilayah Tibet ketika itu tertutup untuk orang asing. Tujuannya ketika itu adalah mencari jalan yang terbaik untuk mendekati puncak Everest. Ia ketika itu berhasil mendekati Everest sampai pada jarak 60 mil, langkahnya terhenti oleh deretan puncak tak terduga yang sebelumnya tak tergambar pada peta yang dibawanya. Walaupun tidak dapat meneruskan perjalanannya namun Jhon Noel cukup puas karena berhasil menyaksikan puncak Everest walau hanya dari jarak 300 m / 1000 kaki , ketika puncak tersebut muncul dari antara kabut pegunungan Himalaya. ia mengilustrasikan apa yang dilihatnya sebagai “menara yang berbentuk seperti seruling batu yeng berkilap oleh salju”.
Pada tahun 1920 Dalai Lama membuka wilayah Tibet untuk dikunjungi oleh orang asing. Keputusan penting tersebut kemudian segera disikapi dengan kesepakatan kolaborasi  antara the Royal Geographic Society dan Alpine klub untuk mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan akan suatu ekspedisi pendakian ke puncak Everest. Sebuah semangat penjelajahan yang amat manusiawi, mengingat bahwa manusia ketika itu telah berhasil mencapai kutub utara dan selatan bumi, dengan demikian adalah logis bila prestasi berikutnya yang hendak dikejar adalah suatu pendakian ke puncak tertinggi dunia.
Komite puncak Everest kemudian segera didirikan oleh Sir Younghusband, untuk menjajaki kemungkinan adanya sebuah ekspedisi pendahuluan, dengan target utama sebatas pengenalan situasi dan kondisi daripada medan pendakian, walaupun tidak menutup kemungkinan adanya sebuah pendakian ke puncak Everest apabila kondisinya dianggap memungkinkan. Ekspedisi dengan target pendakian ke puncak Everest baru dilakukan dalam beberapa tahun kemudian tepatnya di tahun 1922.
Inggris ketika itu beruntung mendapatkan kesempatan pertama, untuk menjajal langsung puncak Everest, meski ekspedisi yang digelar tersebut lebih tepat disebut sebagai sebuah ekspedisi peninjauan.
Ekspedisi tersebut dipimpin oleh letnan kolonel Charles Howard-Bury, ikut serta pula dalam tim ini George Leigh Mallory, bagi  Mallory keikut sertaannya ketika itu adalah merupakan pengalaman pertamanya dalam sebuah ekspedisi pendakian.
Tidak kurang dari 10 minggu tim ini melakukan eksplorasi di areal sekitar  Everest dari sisi utara maupun timur. Sejarah kemudian mencatat bahwa pada tanggal 24 September 1921 Guy Bullock dan George Mallory berhasil menjadi orang-orang pertama  yang berhasil melakukan pendakian sampai ke pelana utara ( North Col ), altimeter mereka ketika itu menunjukan angka 23000 kaki ( 7000 m dpl ), kejadian tersebut merupakan momen penting karena menandai resminya penggunaan lintasan utara dalam upaya manusia melakukan pendakian ke puncak Everest. Di mulai pulalah sejarah upaya menggapai atap dunia.
Setahun kemudian ekspedisi Inggris ke 2 dikirim menuju kaki puncak Everest mengikuti jejak yang telah dirintis sebelumnya.Ekspedisi ini dipimpin oleh Brigadir Jendral CG Bruce, menggunakan lintasan pendakian yang sama dengan yang digunakan oleh ekspedisi Inggris setahun sebelumnya. George Mallory yang telah cukup punya pengalaman dalam pendakian di tahun sebelumnya kembali memperkuat tim, bersamanya ikut pula dalam tim ini George Finch, Geoffrey Bruce, Henry Morshead,Edward Norton, Howard Somervell dan John Noel yang bertindak sebagai juru kamera yang akan  mendokumentasikan langsung jalannya ekspedisi.
Pada tanggal 22 Mei, Mallory, Norton, Somervell dan Morshead mencoba melakukan serangan pertama ke puncak, istilah serangan dalam strategi pendakian diadopsi dari terminologi militer, uniknya istilah tersebut kemudian terus melekat dan digunakan sampai dengan saat ini.  Boleh jadi penggunaan istilah tersebut dikarenakan ekspedisi-ekspedisi awal perburuan puncak Everest, digelar dibawah kendali pimpinan ekspedisi yang berlatar belakang militer.
Para pendaki dari tim itu berhasil melakukan pendakian sampai ke ketinggian 8170 m ( 26,800 kaki ) di atas daerah gigir utara ( North Ridge ), sebelum kemudian memutuskan mundur. Sehari kemudian pada tanggal 23 Mei, George Finch dan Geofrey Bruce dengan menggunakan tabung oksigen kembali melakukan upaya pendakian sampai kemudian terhenti di atas gigir utara ( North Ridge ) dan juga dinding utara ( North Face ) yang berketinggian 8320 m ( 27,300 feet ).
Setelah dua kali upaya percobaan penaklukan puncak terhenti, pada tanggal 7 Juni, Mallory memimpin percobaan ke 3 untuk mencapai puncak. Dimana kemudian terjadilah  musibah pertama dalam sejarah pendakian puncak Everest, dimana 7 orang pendaki Sherpa yang memperkuat tim tewas akibat bencana avalanche (salju longsor) di bawah gigir utara ( North Col ), sampai disini ambisi penaklukan puncak untuk sementara waktu harus tertunda.
Setahun kemudian dalam rangkaian kunjungan presentasi pendakiannya di Amerika Serikat, seorang wartawan yang hadir pada sempat mengajukan pertanyaan mengenai mengapa Mallory sangat berambisi untuk  mendaki puncak Everest,  Mallory menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah kalimat singkat yang menjadi abadi “Because it’s there”.. ya karena puncak Everest itu ada.
MERENDA ASA
Suatu sore di penghujung bulan November 1996, beberapa rekan pendaki sipil duduk melepas penat mendengarkan alunan suara alam gemericik air, sembari merendam kaki di selokan kecil yang mengalir dekat pos pengawasan hutan di kaki gunung Gede.
Menu latihan yang baru menjadi santapan hari itu adalah “speed climbing program”. Sebuah “kebut gunung” adu cepat melakukan pendakian, dengan beban minimalis. Titik startnya ada pada pintu gerbang taman nasional dengan garis akhir di ujung alun-alun padang Suryakencana. Naik dan langsung turun kembali ke titik awal.
Lintasan pendakian dari sisi gunung puteri ini memang tidak populer karena terhitung cukup terjal dan tak nyaman, sehingga jarang dijadikan pilihan oleh para pendaki yang berniat melakukan pendakian ke puncak gunung gede. Peminat pendakian gunung Gede umumnya lebih akrab dengan lintasan melalui sisi Cibodas. umumnya para pendaki di gunung Gede memanfaatkannya lebih sebagai pilihan  lintasan untuk turun saja, seusai melakukan pendakian ke puncak gunung Gede. Waktu tempuh untuk menuruni lintasan tersebut berkisar 4 jam.
Namun kemiringan medannya   menjadi pilihan menarik untuk sebuah program melatih kecepatan pendakian. Program latihan tersebut di atas mengadopsi program latihan tim Uni Soviet ketika pertama kali mereka mempersiapkan diri melakukan ekspedisi pendakian ke puncak Everest di dekade 1980-an. Puluhan pendaki yang ikut program seleksi berlomba dalam sebuah program speed climbing dengan garis akhir di ketinggian 5000 m di pegunungan Caucasus.
“Tav, begitu seorang memanggil memecah alunan gemericik air dengan pertanyaan:  “masih berapa lama lagi program seperti hari ini” ? “masih lama !”, begitu jawaban singkat penulis. Tentu saja masih lama karena dialog tersebut terjadi di hari pertama dari skenario 7 hari yang direncanakan bagi program latihan simulasi kecepatan pendakian.
Simulasi kecepatan merupakan tahapan lanjutan dari rangkaian program latihan di tahap persiapan umum periodisasi program latihan Ekspedisi Everest Kopassus Indonesia. Setelah 3 minggu berkutat dengan volume besar program latihan pembentukan fondasi aerobic di Makopassus Cijantung, kini saatnya untuk mengingatkan sistim fisiologi tubuh, bahwa volume besar pada metode continous run yang dilahap sebagai menu latihan pada akhirnya akan ditujukan untuk pembentukan daya tahan spesifik atau stamina pada aktifitas pendakian gunung.
Program latihan speed climbing tersebut di atas rekornya dipegang oleh Prada Asmujiono dengan catatan waktu tempuh pendakian 48 menit. Prajurit muda asal Tumpang Malang ini memang luar biasa. Catatan terburuknya untuk lintasan tak nyaman tersebut hanya 56 menit, catatan waktu tersebut diambil hanya saat naik. Motivasi berprestasi prajurit komando ini memang patut diberi acungan jempol, tak heran pula bila dikemudian hari ia mampu menorehkan catatan bersejarah bagi negeri ini.
Sejak awal para prajurit Kopassus memang terlihat jauh lebih cepat beradaptasi baik secara fisiologis maupun psikologis. Budaya continous run sebagai santapan rutin harian  para prajurit elit, memberi kontribusi positif terhadap kemampuan mereka beradaptasi terhadap voume latihan.
Catatan nilai Vo2 Max rata – rata mereka yang di atas angka 55 ml/kg/bb pada test awal,dengan menggunakan parameter test Balke menjadi fondasi kuat menghadapi tahapan-tahapan berikutnya dari periodisasi program latihan tim everest Indonesia. Kontradiktif dengan para pendaki sipil yang sebagian besar menggelepar akibat efek shock macro training phase.
Terminologi mengenai periodisasi latihan peningkatan komponen biomotorik daya tahan salah satunya membagi latihan peningkatan daya tahan /endurance dalam 5 tingkatan. Latihan daya tahan tingkat satu merupakan aktifitas dengan durasi 30 menit sampai dengan tiga jam sesuai dengan tuntutan karakter cabang olahraga.Tuntutan intensitas latihannya rendah, hanya berkisar pada denyut nadi 130 – 140 Dn permenit sehingga mengakomodir pemberian volume besar latihan lari jarak jauh yang dalam menu latihan tim Everest Indonesia umumnya berdurasi 2 sampai dengan 2 1/2 jam jogging tanpa henti . Dua sesi latihan tiap hari, dengan 10 sesi latihan pada tiap siklus mikro atau mingguan.
Tingkatan kedua adalah tahapan aerobic development dengan tuntutan intensitas latihan sedikit lebih tinggi berkisar pada angka 140 s/d 150 dn permenit.
Etape ke 3 adalah peningkatan ambang rangsang aerobic (an aerobic threshold) merupakan tingkatan lanjutan dalam latihan peningkatan daya tahan, durasi aktifitas atau volume latihan mengalami penurunan, hanya berkisar 2 – 12 menit namun tuntutan tingkat kesulitan latihan merambat naik dengan tuntutan denyut nadi masuk pada angka 160 – 170 dn/mnt. Pada tahapan ini, pilihan metodenya adalah interval training. Pemenggalan jarak tertentu ke dalam satuan – satuan jarak yang lebih pendek  yang dikenal dengan istilah seri dan set.
Toleransi laktat adalah tingkatan ke 4, dalam hal ini para pendaki dihadapkan pada metode interval dengan durasi aktifitas 35 – 90 detik. jarak 400 m dengan tuntutan kecepatan maksimal menjadi pilihan metode dengan setidaknya 4 kali pengulangan pada satu sesi latihan, efeknya menggiring para pendaki masuk pada batas ambang rangsang dengan efek signifikan terjadinya penimbunan asam laktat pada otot.
Tingkatan ke 5 dari pembentukan latihan daya tahan adalah aerobic maximal dengan durasi latihan kurang dari 5 menit dengan tuntutan intensitas tinggi.
Program latihan peningkatan daya tahan dalam proses seleksi dan pembentukan tim ekspedisi Everest Kopassus Indonesia memang merupakan salah satu fokus utama. Pengalaman sebagai pelatih dalam mendampingi berbagai ekspedisi Indonesia dalam pendakian di berbagai puncak bersalju abadi manca Negara, berujung pada sebuah kesimpulan bahwa umumnya mobilitas pergerakan pendaki negeri ini, sangatlah lemah pada pendakian di atas ketinggian 5000 m dpl. Sebuah hal yang natural mengingat bahwa pendaki Indonesia kesehariannya hidup di dataran rendah. Dimana tekanan udara berkisar pada angka 760 Torr. Untuk bahan perbandingan tekanan udara di puncak Everest adalan 251 Torr.  Konsekuensi dari penurunan tekanan udara secara signifikan adalah turunnya kandungan oksigen yang ada dalam butir darah merah (Hemoglobin) dari sekitar 98 % di dekat permukaan laut, menjadi 47 % di ketinggia 6100 meter. DI puncak Evferest hanya tinggal 35 %.
Negeri tropis ini  tidak punya tempat berlatih yang ideal untuk arena latihan menjelang suatu ekspedisi pendakian ke puncak-puncak salju berketinggian di atas 8000 m.
Satu – satunya puncak bersalju ada di belahan timur tanah air. Berketinggian 4884 m Puncak carstenz pyramid punya nilai tersendiri sebagai puncak target para pendaki elit manca negara dalam perburuan prestasi pendakian 7 puncak tertinggi di 7 benua.
Tapi ide menjadikannya medan latihan  persiapan bagi ekspedisi Everest Kopassus Indonesia menjadi kebijakan tidak populis di penghujung 1996. Analisisnya adalah bahwa puncak carstenz tidak mewakili karakter medan pendakian di kawasan Himalaya. Puncak Carstenz Piramid bukan miniatur untuk sebuah implementasi prinsip modeling bagi program latihan persiapan pendakian ke puncak sekaliber Everest. Ditambah lagi ketika itu situasi keamanan pasca kasus penyanderaan peneliti yang dilakukan GPK di mapenduma (1996)  menjadi faktor penguat dihilangkannya carstenz dari pilihan.
Puncak Carstenz sebelumnya cukup populer sebagai medan latihan pendaki sipil negeri ini dalam pendalaman berbagai aspek pendakian puncak salju. Dua perhimpunan tertua di negeri ini Wanadri dan Mapala UI sering menjadikannya sebagai puncak tujuan ekspedisi pendakian, sebagai media penambahan jam terbang para pendakinya.
Untuk mensiasati kendala kecepatan pendakian yang berkorelasi pada daya jelajah pendakian, tidak ada pilihan lain selain sesegera mungkin menghadapkan para kandidat pendaki puncak Everest dengan tantangan lomba melawan waktu.
Seluruh program latihan di tahapan – tahapan berikutnya memang berhasil menghadirkan skenario tak biasa untuk pendaki negeri ini, yakni sebuah lomba kecepatan dalam pendakian, yang digelar langsung di medan yang sebenarnya. Semakin cepat catatan tempuh maka akan semakin besar pula peluang keberhasilan, demikian pendapat para instruktur asal Uni Soviet ketika itu.
Dihilangkannya puncak Carstenz dari pilihan tempat simulasi latihan, memunculkan nama puncak bersalju Mount Cook di Selandia baru. Edmund Hillary menyebutnya sebagai miniatur Everest, puncak berketinggian tak seberapa tersebut sempat masuk dalam daftar utama topik pembicaraan.
Keputusan untuk menuntaskan keseluruhan tahapan persiapan khusus dan pra kompetisi program latihan langsung di pegunungan Himalaya, adalah sebuah pilihan yang saat itu diyakini paling bijak. Skema prinsip modeling/peniruan, langsung menjadi warna kental daripada persiapan tim. Modeling adalah salah satu prinsip latihan yang mencoba menghadirkan segala sesuatu aspek penentu keberhasilan pada atmosfir latihan.
THE STORY OF HILARY – IRVINE
Edmund Hillary adalah nama yang tercatat dengan tinta emas dalam buku sejarah pendakian. Menarik untuk sekejap mundur ke dekade 1950 an ketika hari – hari panjang bersejarah di  musim semi 1953, saat sebuah tim ekspedisi besar dari Inggris, dengan sumberdaya yang sangat lengkap, menjadi tim ekspedisi ketiga yang berusaha mengadu peruntungan untuk menaklukan puncak Everest dari wilayah Nepal. Ini dimungkinkan karena Nepal pada tahun 1949 resmi membuka perbatasannya bagi dunia luar, kontradiktif dengan apa yang dilakukan oleh rezim baru komunis penguasa China, yang justru bersikap tegas menutup perbatasan Tibet bagi orang – orang asing.
Pada 28 mei 1953, setelah melalui perjuangan berat selama dua setengah bulan, akhirnya titik awal pendakian berupa sebuah lahan untuk mendirikan tenda berhasil dibangun dengan menggali Lereng Tenggara pada ketinggian 27.900 kaki. Keesokan harinya, pagi – pagi sekali, Edmund Hillary pendaki asal Selandia Baru bertubuh tinggi kurus dan Tenzing Norgay pemandu pendakian asal suku Sherpa bergerak memulai episode pendakian bersejarahnya menuju puncak Everest dengan dukungan tabung oksigen tambahan.
Menarik untuk disimak pada peristiwa bersejarah itu adalah bahwa Tenzing Norgay Sherpa yang menjadi tandem Hillary saat itu, adalah seorang pemandu pendakian paling handal di kawasan Himalaya. Lelaki asal suku Sherpa tersebut punya nilai lebih dengan pengalaman pendakian di lintasan everest dalam mendampingi  10 tim ekspedisi sebelumnya. Semuanya ekspedisi gagal total, mundur teratur setelah membentur puncak tertinggi dunia tersebut.
Pada pukul 09.00 pagi waktu setempat, duet Hillary – Tenzing berhasil tiba di Puncak Selatan, keduanya memandang ke atas, ke arah jalur sempit dan terjal yang akan membawa mereka ke Puncak.Satu jam kemudian, mereka tiba di kaki dari sebuah tempat yang oleh Hillary digambarkan sebagai “rute pendakian yang akan menjadi paling sulit. Medannya adalah sebuah lereng batu yang curam setinggi setidaknya empat puluh kaki.
Dengan cemas, Tenzing terus mengulur tali dari bawah, sementara Hillary menempatkan tubuhnya di sebuah celah sempit yang terbentuk oleh sebuah dinding batu dan salju tegak lurus berbentuk sirip, dan dengan perlahan bergerak ke atas melewati sebuah jalur pendakian yang dikemudian hari dikenal dengan Hillary Step. Mendaki di tempat ini benar – benar berat dan sulit, tetapi Hillary memaksakan diri terus bertahan, pengalaman tersebut ditulisnya dalam bukunya:
“Akhirnya aku tiba di puncak, menarik tubuhku keluar dari celah dan naik ke atas sebuah dataran yang cukup lebar. Sesaat aku berhenti untuk mengatur napas, dan untuk pertama kalinya, aku merasakan munculnya tekad yang amat kuat bahwa tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk mencapai puncak. Aku berdiri tegak dan memberi isyarat kepada Tenzing untuk naik. Ketika aku berjuang menarik tali, Tenzing berjuang untuk melewati celah tersebut sampai akhirnya dia jatuh tersungkur di hadapanku, seperti seekor ikan raksasa yang baru diangkat dari laut setelah perjuangan yang berat.
Berjuang mengalahkan batas daya tahan manusia, keduanya melanjutkan pendakian melewati bagian lereng yang bergelombang di atasnya. Dalam hati timbul pertanyaan masihkah kami punya kekuatan untuk mencapai puncak.
Aku membuat satu torehan lagi dibalik sebuah batu yang menonjol dan mengamati bahwa punggung gunung di atasku mulai melandai sehingga kami bisa melihat jauh kearah wilayah Tibet. Aku mendongakan kepala dan di atasku tampak puncak bulat yang diselimuti salju. Beberapa langkah yang hati – hati, maka Tenzing (secara mengejutkan ) dan aku tiba di puncak.Itulah yang terjadi beberapa saat menjelang sore pada 29 Mei 1953; Hillary dan Tenzing menjadi orang pertama yang mampu berdiri di puncak Gunung Everest. Tiga hari kemudian, berita tentang keberhasilan mereka sampai di telinga Ratu Elizabeth, tepat satu hari sebelum penobatan dirinya, dan Koran Times di London menyiarkan berita tersebut pada 2 Juni sebagai berita utama . Begitu pentingnya berita tersebut dari sisi komersil sehingga proses pengirimannya dilakukan secara rahasia dari medan pendakian Everest, dilakukan melalui pesan radio,mirip sebuah operasi militer agar para pesaing Times tidak menyabot berita pertama mereka.
THE STORY OF SHERPA
Keberhasilan Edmund Hillary, tak bisa lepas dari andil  luar biasa Sherpa Tenzing Norgay. Tanpa Tenzing Norgay kemungkinan jalan ceritanya keberhasilan pendakian perdana puncak Everest akan berbeda, Tenzing pada dekade itu punya jam terbang yang paling mumpuni di lintasan pendakian puncak Everest. Tanpa kontribusi dari para pendaki asal suku Sherpa, boleh jadi masih akan butuh waktu lama lagi untuk dapat menjejakan kaki di titik tertinggi dunia.
Sukses yang diraih oleh sebagian besar ekspedisi pendakian gunung di kawasan Himalaya sampai dengan saat ini sulit untuk dipisahkan dari peran para Sherpa. Termasuk misi beraroma “tak Mungkin” tim ekspedisi Everest Kopassus Indonesia.
Suku Sherpa dalam sejarah pendakian dikenal mampu bekerja keras di daerah ketinggian yang berkadar oksigen tipis, merekapun terkenal jujur dan amat loyal. Nama Sherpa sendiri dalam bahasa Tibet berarti manusia dari barat.
” I don’t like to climb for record, it come together with job. If group no good condition, even 100 meter from top, I go down also with them… I don’t like to leave alone climber. If I do like this, maybe 13-14 times summit for me now… I don’t like…I climb for clients”, demikian yang dikatakan Apa Sherpa salah satu nama legenda hidup dunia pendakian. Pernyataan Apa Sherpa mewakili ungkapan tingkat loyalitas umumnya para Sherpa. Nama Sherpa sendiri dalam bahasa Tibet berarti manusia dari barat.
Suku Sherpa tinggal di pegunungan sebelah timur dan tengah kerajaan Nepal, khususnya di daerah Pharak, Solu dan Khumbu di kaki puncak Everest. Beberapa subsuku Sherpa bermukim pula di daerah-daerah terpencil seperti di lembah Rolwaling dan juga Helambu
Suku Sherpa yang bermukim di Nepal awalnya berasal dari dataran tinggi Tibet. Mereka berimigrasi ke Nepal sekitar 500 tahun yang lalu dengan melintasi pegunungan Himalaya melalui high pass yakni jalur jalan yang melintasi pegunungan tinggi, di sebelah barat dataran tinggi Khumbu, yaitu Langmoche Col yang berketinggian 5890 m di atas permukaan laut. Selain melalui jalur tersebut proses imigrasi dari para leluhur suku Sherpa juga menggunakan jalur Khumbu La (Nangpa La Pass) yang juga adalah jalur utama perdagangan kuno Tibet-Nepal.
Para Sherpa pedagang antar kampung Tibet sampai dengan saat ini masih sering menggunakan jalur kuno Nangpa La Pass ini untuk melintas masuk ke kerajaan Nepal. Jalur ini juga kerap digunakan oleh oleh para pendaki ilegal sebagai jalan alternatif menuju Everest atau Cho Oyu.
Mayoritas suku Sherpa menganut agama Budha. Mereka memiliki kuil berusia 300 tahun di ketinggian 5000 m ( Rongbuk Monastry ) yang terletak di daerah Rongbuk Glacier di sebelah sisi utara puncak Everest, 1 – 2 jam berjalan kaki dari base camp pendakian sisi Tibet dan kuil Tyangboche Monastry yang terletak pada ketinggian 3700 m di daerah Khumbu Nepal.
Suku Sherpa memiliki bahasa tersendiri, dengan logat cenderung menyerupai dialog Tibet, tradisi dan gaya berpakaian mereka mirip dengan orang Tibet yang merupakan leluhur mereka. Masuknya para pendaki dan juga wisatawan dari berbagai negara, terutama dari  Eropa  ikut andil dalam merubah tampilan para Sherpa yang kini cenderung berpenampilan seperti Trekkers Eropa.
Pekerjaan utama mereka adalah penggembala yak – sejenis sapi gunung khas Himalaya yang   umumnya hanya bisa hidup sehat di ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Yak adalah alat angkut utama di daerah pegunungan Himalaya. Binatang ini mampu mengangkat beban berat melintasi medan es dan salju yang tebal pada saat cuaca dingin. Yak seperti halnya sapi juga menghasilkan susu dan dagingnya dimakan.
Sherpa umumnya baru makan daging yak apabila hewan tersebut mati karena jatuh ke jurang atau tertimpa batu ataupun bongkahan es. Bulu yak yang tebal juga kerap dimanfaatkan oleh para suku Sherpa. Suku Sherpa juga adalah masyarakat agraris mereka berkebun kentang dan gandum, budaya yang diperkenalkan oleh para surveyor Inggris dan India pada pertengahan abad ke 19. Ladang dan areal penggembalaan ternak mereka umumnya terletak di ketinggian pegunungan Himalaya. Lokasi penggembalaan yak paling tinggi terletak di daerah Gokyo yang berketinggian 5300 m.
Suku Sherpa yang awalnya adalah masyarakat nomaden kemudian menetap seiring dengan membaiknya hasil pertanian, juga hasil dari yak dan kepiawaian berdagang lintas pegunungan tinggi. Perkampungan permanen mereka umumnya terletak di ketinggian pegunungan Himalaya Nepal, diantaranya  adalah Namche Bazaar yang berketinggian 3400 m, juga Pangboche yang merupakan salah satu kampung tertua yang didirikan sekitar 300 an tahun yang lalu. Pangboche seperti halnya Namche Bazaar juga terletak di ketinggian  4000 m di atas permukaan laut.
Sejalan dengan berkembangnya bisnis trekking dan mountaineering di kerajaan Nepal, sebagian besar masyarakat  Sherpa kemudian terjun dalam bisnis ini. Merekalah sebenarnya urat nadi daripada bisnis ini. Mereka bekerja sebagai organisator kegiatan trekking ataupun kegiatan-kegiatan ekspedisi pendakian. Banyak diantara mereka kemudian memiliki agen trekking, yakni badan usaha legal yang diakui kerajaan Nepal. Peraturan kerajaan Nepal mewajibkan para pendaki menggunakan agen-agen trekking, dengan adanya peraturan tersebut secara otomatis agen atau biro trekking adalah counter part bagi para pendaki dalam menjalankan aktifitasnya di pegunungan Himalaya.
Suku Sherpa juga banyak bekerja sebagai High Altitude Sherpa, yaitu individu yang memiliki ketrampilan khusus dalam penguasaan seluk beluk teknik dan taktik pendakian gunung tinggi. Peran mereka dalam suatu ekspedisi pendakian gunung amatlah strategis karena merekalah yang bertugas mendampingi pendaki asing dalam pendakian gunung, para Sherpa inilah yang memasang jalur pendakian dan mengangkut suplai dari satu camp ke camp lainnya sepanjang berlangsungnya ekspedisi pendakian.
Para Sherpa yang terlibat dalam bisnis ini umumnya berasal dari daerah Khumbu. Kampung-kampung mereka adalah Namche,Thame,Khumjung,Kunde dan Pangboche, dari kampung-kampung tersebutkah kemudian lahir para legenda dunia pendakian.
Untuk memperbesar peluang, skenario perburuan puncak Everest tim Indonesia di bangun di atas fondasi suatu tim pendukung yang tak berlebihan bila disebut  “Dream Team Sherpa”, demikian kualitas para sherpa yang memperkuat tim Indonesia saat itu.
Komposisinya terdiri dari Sherpa-sherpa pilihan dengan pengalaman matang dan jam terbang tinggi di lintasan pendakian Everest, keseluruhannya adalah nama – nama yang sebelumnya hanya dikenal lewat berbagai jurnal, majalah, ataupun buku pendakian.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa legenda hidup dunia pendakian seperti Apa Sherpa dan Dawa Tashi sherpa berikut sederet nama Sherpa lain dengan setidaknya satu kali pengalaman pencapaian puncak berhasil direkrut untuk memperkuat tim, merekalah faktor kunci dari strategi pendakian, yang di disain memihak pada berbagai kekurangan yang dimiliki pendaki Indonesia. Puncak Everest mustahil dimenangkan tanpa dukungan “Dream Team Sherpa” .
Apa Sherpa adalah salah satu nama dari komposisi Sherpa impian tersebut, saat memperkuat ekspedisi Kopassus Indonesia ia telah mengantongi catatan yang mengundang decak kagum tersendiri. Ia punya catatan dahsyat 7 keberhasilan pencapaian puncak yang uniknya seluruhnya dicapainya melalui lintasan selatan. Demikian halnya dengan Dawa Tashi yang kemudian memperkuat tim utara ekspedisi Everest Kopassus Indonesia, Dawa punya pengalaman 5 kali menjejakan kaki di titik tertinggi dunia.
Apa Sherpa di tahun 1997 itu adalah rajanya lintasan selatan pendakian puncak Everest, menurutnya penuturannya kepada penulis dalam salah satu diskusi di hari – hari teakhir menjelang tim bertolak meninggalkan Kathmandu untuk memulai ekspedisi yang sebenarnya. Ia hafal mati lintasan pendakian sisi selatan bahkan di malam hari tanpa bantuan alat penerangan sekalipun.
Itu juga alasannya ketika menolak kemungkinan – kemungkinan ditempatkan sebagai sherpa pendamping salah satu tim Indonesia yang akan mencoba peruntungan pendakian melalui sisi Tibet.
Dibuktikan kemudian beberapa pekan kedepan ketika ia mendemostrasikan kematangan pengalaman dan naluri pendakiannya dalam melakukan improvisasi di saat krusial, memanfaatkan tali bekas pakai peninggalan ekspedisi sebelumnya di lintasan Hillary Step untuk menyelamatkan peluang Asmujiono, Misirin dan Iwan Setiawan dalam jam – jam menentukan di tanggal 26 April 1997.    Sebuah Keputusan tepat mengantisipasi force majeur akibat kesalahan teknis yang berujung pada habisnya persediaan tali justru di puluhan meter terakhir menjelang puncak.
Sederhana, rendah hati dan murah senyum demikian kesan yang tertangkap saat kali pertama berhadapan dengan legenda hidup Himalaya tersebut. Berperawakan pendek dan kurus Lhakpa Tenzing Sherpa yang kemudian dalam perjalanan karir pendakiannya lebih populer dengan nama Apa Sherpa merupakan cermin dari jalan hidup kebanyakan para Sherpa legendaris Himalaya. Terdesak oleh kemiskinan, putus sekolah, berlanjut dengan mengawali karir sebagai porter atau pengangkut barang, sebelum kemudian berangsur meningkat sebagai pemandu kelompok trekking di kawasan Everest dan Annapurna, adalah rata – rata jenjang karir para climbing Sherpa.
Karir gemilangnya di dunia pendakian dimulai  sebagai juru masak pada ekspedisi Traverse ( penyeberangan ) keliling puncak – puncak Annapurna yang dipimpin Erhard Loretan ( 1985 ). Butuh rentang 5 tahun kedepan sebelum akhirnya ia bersama Rob Hall, Gary Ball dan Peter Hillary sampai ke puncak Everest pada 10 Mei 1990.
Sebuah kisah pencapaian puncak yang unik. Betapa tidak saat itu di camp II lintasan pendakian sisi selatan Everest, Rob Hall yang terpesona dengan kekuatannya menawarinya untuk membantu tim ekspedisi kiwi, menyusul kegagalan dini yang dialami ekspedisi tentara Nepal, tim ekspedisi pendakian yang saat itu diperkuatnya. Apa kemudian bersedia menerima tawaran tersebut dengan syarat  terlebih dahulu diijinkan untuk pulang menemui isteri dan kedua anaknya, kesepakatan kemudian dicapai.
Pada hari yang sama Apa bergerak turun meninggalkan camp II dan tiba di Thame hanya dalam hitungan jam, bermalam di Thame dan kemudian kembali ke Base Camp pada sore hari berikutnya, sebuah perjalanan panjang yang lazimnya butuh waktu tempuh 3 – 4 hari.  Delapan hari kemudian seperti telah disebutkan di atas, Ia mencapai puncak Everest untuk pertama kalinya melalui sebuah demostrasi kekuatan yang luar biasa. Seperti bola salju karirnya kemudian menggelinding  dengan rangkaian demi rangkaian sukses pencapaian puncak, termasuk dengan tim Kopassus Indonesia. Pada tahun 2003 Apa Sherpa total telah mencatat 13 kali keberhasilan mencapai titik puncak Everest.
Bererita tentang Sherpa serasa tak lengkap jika tidak menyinggung kisah legendaris keluarga Nima Tseri Sherpa. Nima Tseri yang menikah dengan Pema Futi dikaruniai 9 orang anak ( 7 laki, 2 wanita ). Dalam kondisi perekonomian Nepal yang serba sulit pada dasawarsa 1950 – an, Nima berangkat ke Darjeeling India untuk mengadu nasib melamar pekerjaan pada ekspedisi Inggris yang tengah bersiap melakukan ekspedisi pendakian ke puncak Everest.
Beruntung kemudian karena ia mendapatkan pekerjaan sebagai “Mail Runner” atau pengantar surat dalam ekspedisi Inggris yang mana dalam komposisi pendakinya terdapat nama Edmund Hillary, yang kelak di ujung akhir kisah ekspedisi bersama dengan Tenzing Norgay sukses mencapai puncak Everest untuk pertama kalinya.
Pengalaman tersebut bagi Nima pada akhirnya merupakan bagian dari sebuah proses pembelajaran mengenai seluk beluk trekking dan ekspedisi pendakian, membuatnya kemudian memutuskan untuk menjadikan kedua aktifitas tersebut sebagai pilihan hidup, hal yang kemudian diwariskannya kepada anak – anaknya ketika mereka beranjak dewasa.
Sebuah keputusan yang dikemudian hari ikut berperan positif bagi dua putera tertuanya yang kemudian menekuni karir sebagai climbing Sherpa, Kedua anaknya Ang Tsering Sherpa dan Nima Temba kemudian berhasil mencapai puncak Everest. Tradisi tersebut kemudian berlanjut pada Pema Tharchen putera ketiganya yang tercatat pernah mencapai ketinggian di atas 8000 m pada lintasan pendakian Everest, berikut mencapai berbagai puncak di jajaran pegunungan Himalaya yang berketinggian di atas 8000 m di atas permukaan laut.
Tradisi yang dirintis para kakak menurun pula pada Nima Gombu salah satu putera dari pasangan tesebut, yang seiring perjalanan waktu kemudian menyihir dunia pendakian dengan catatan keberhasilan mencapai puncak Everest 9 kali dalam rentang waktu 9 tahun dan  mencapai ketinggian di atas 8500 m di puncak K2. Episode sepak terjang saudara sekandung tersebut terus berlanjut dengan catatan fenomenal lain yang dilakukan oleh adiknya Mingma Tsiri, yang tak lain adalah putera ke 5 dari pasangan Nima Tseri – Mima Futi.  Mingma Tsiri  terhitung  9 kali mampu menggapai atap dunia dalam rentang 9 tahun,  berikut tambahan satu kali keberhasilan dalam pendakian di puncak K2.
Tradisi summiters berlanjut pada karir Thunduk Sherpa adik dari Mingma Tsiri dimana pada tanggal 26 Mei 2003 berhasil mencapai puncak Everest untuk pertama kalinya dan tercatat beberapa kali mencapai ketinggian di atas 8000 m di Everest dan berbagai puncak lainnya. Adik bungsu mereka Pasang Tenzing yang awalnya hanya terlibat pada ekspedisi pendakian sebatas pekerjaan sampingan dalam mengisi liburan sekolah, namun karena desakan masalah ekonomi akhirnya total berkecimpung di dunia pendakian sebagai Sherpa  professional, Ia pada tanggal 26 Mei 2003 berhasil pula mencapai puncak dan uniknya dilakukan bersama dengan kedua kakaknya Tunduk dan Mingma.
Peristiwa tersebut menjadi sebuah catatan sejarah tersendiri, dimana tiga bersaudara secara bersama berdiri di puncak Everest, suatu hal yang lentah kapan baru akan terulang lagi. Melengkapi catatan perjalanan hidup 6 bersaudara dalam satu keluarga yang kemudian berhasil mencapai puncak Everest, dengan 4 diantaranya terjadi pada rentang tahun 2003. Total secara keseluruhan prestasi kakak beradik tersebut di atas adalah 22 kali keberhasilan mencapai puncak Everest.
Catatan emas sepak terjang Sherpa di lintasan pendakian Everest memang seolah tak berujung, simak misalnya prestasi sederet nama Sherpa legendaris dibawah ini, sebut misalnya Lopsang Jangbu, Dawa Tashi, Arrita Sherpa, Sungdare Sherpa, atau  Ang Rita dan Babu Chiri, dua nama terakhir bahkan  dengan lebih dari 10 kali keberhasilan pencapaian puncak,  4 dari 10 catatan fenomenal Babu Chiri diantaranya dilakukan melalui sisi utara. Catatan menarik luar biasa lain, dilakukan  Babu Chiri pada musim pendakian 1999 dimana Ia bukan sekedar sebatas mendaki sampai ke puncak namun sanggup bertahan lebih dari 20 jam di puncak Everest.
Kronologis dari peristiwa unik tersebut dimulai saat  mencapai puncak Everest pada pukul 9 pagi bersama dua rekannya Dawa dan Nam Dorje Sherpa, setelah serangkaian euphoria seremonial klasik mengikatkan bendera pada tripod di puncak, dan menyanyikan lagu kebangsaan Nepal, sebagaimana  lazimnya sebuah tradisi selebrasi saat pencapaian puncak.  Babu Chiri kemudian  bertahan sendirian di puncak untuk melengkapi obsesinya bertahan 20 jam di puncak Everest. Prestasi tersebut memang tidak lepas muatan  nilai komersil tersendiri,  proses tersebut dilakukan dengan menggunakan tenda “The Amercan Sky” yang didisain khusus oleh Mountain Hardware produsen raksasa alat 2x pendakian gunung,  tenda tersebut dirancang tahan badai pada ketinggian 8848 m. Bukan hanya sebatas penggunaan tenda khusus,  pada petualangan di zona kematian tersebut Babu Ciri dipersenjati pula dengan kantong dan matras tidur yang juga di rancang khusus.
Bukan cuma rekor tidur di puncak Everest, Babu Chiri juga membukukan rekor sebagai pendaki tercepat. Ia  hanya butuh waktu 16 jam untuk mencapai titik tertinggi dunia, terhitung sejak meninggalkan base camp sampai ke puncak melalui lintasan sisi selatan.
Bersambung………

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s