KATAK DIBAWAH TEMPURUNG

10333714_1375330969422753_3636678396573706902_o

Sebuah demostrasi “Speed and Power Game”. Demikian pelajaran penting yang dipetik di kota Changhua, hari Minggu tanggal 16 Juni 2014 lalu. 15 gol tanpa ampun disarangkan para pemain Iran ke gawang Indonesia pada laga perdana, yang juga merupakan petualangan pertama negeri ini sepanjang sejarah di kancah hoki ruangan Asia. Beruntung  Indonesia masih mampu membalas, melalui sebuah serangan balik yang  berhasil  dikonversi menjadi gol oleh Airlangga. Skor akhir pertandingan tersebut adalah 15 – 1 untuk Iran.
Bukan soal kekalahan dengan 15 gol, yang menggelitik penulis untuk menurunkannya dalam bentuk artikel ini. Lebih pada menanggapi beberapa komentar bernada sumbang, di media sosial tanah air yang dengan bodohnya mengatakan bawa mengapa tidak memilih kalah dengan cara Walk Over,How Come ?.
Mari kita simak Pasal 4 tentang Juridiction butir (ii) “No person may conduct themselves in a manner or commit any act or omission which may prejudice the interest of hockey or which may bring the game of hockey into disrepute, demikian Code of Conduct menjelaskan tentang tidak dibenarkannya sebuah Walk Over.
Bagaimana implementasi Code of Conduct yang sebenarnya ?,. Pada sebuah pertandingan Internasional yang direkomendasikan oleh FIH dan AHF , saat Tehnical Meeting Code of Conduct yang sebelumnya sudah didistribusikan dan diyakini telah dibaca, wajib ditandatangani oleh seluruh perangkat tim ( T.Manager,Stand in – Manager,Coach,Ass Coach, Physiotherapist,Dokter dan pemain). Untuk selanjutnya diserahkan pada Tournament Director.
Dengan diserahkannya Code of Conduct tersebut berarti seluruh perangkat tim setuju terhadap semua aturan yang akan diterapkan pada sebuah kejuaraan. Demikian, jadi yang namanya Code of Conduct itu bukan asal diteriakan untuk sekedar keren-kerenan seperti yang sebelumnya terjadi di negeri kita, atau sebatas dipasang mirip iklan pada board di tepi lapangan permainan. Syukurlah era salah interpretasi itu akhirnya sudah berlalu.
Era globalisasi agaknya lumayan membantu segelintir individu dalam mencari jati diri, diaktualisasikan melalui komentar – komentar “ajaib” tanpa data empiris di dunia maya. Come on, apakah tidak tahu makna terdalam dari kata sportivitas. Sangat menyedihkan memang, karena usulan mengenai Walk Over tersebut di atas, disampaikan oleh seorang berpredikat sarjana olahraga.
Ini memang jelas masalah intelektual dan keterbatasan wawasan, bukan tidak mungkin Kazakhstan juga akan disarankannya untuk memilih kalah dengan cara WO juga.  Negeri pecahan Uni Soviet tersebut, juga harus menerima kenyataan kalah dengan 16 gol tanpa balas dari Iran. Lalu bagaimana dengan negeri jiran Malaysia yang juga digulung Iran dengan skor akhir 12 – 2, apakah mereka adalah tim nasional abal – abal, yang juga lebih baik memilih kalah WO ?. Katak dibawah tempurung adalah analogi tepat untuk mengilustrasikan kondisi tersebut.
Untuk diketahui Republik Islam Iran sejak kejuaraan hoki ruangan Asia digelar perdana di Ipoh Malaysia tahun 2008 lalu, sampai dengan edisi ke 4 penyelenggraan di Saraburi Thailand tahun 2012 lalu selalu berhasil tampil sebagai penguasa.  Pada edisi 1 di Ipoh,  Iran menghentikan ambisi tuan rumah Malaysia dengan skor 3 – 2. Kejuaraan hoki ruangan Asia sampai dengan edisi ke 3,  uniknya terus menerus berlangsung dengan Malaysia bertindak sebagai tuan rumah. Kota penyelenggaraaan juga tidak berubah, uniknya partai final selalu mempertemukan tim yang sama pula. Demikianlah, selama 3 tahun berturut – turut Malaysia harus selalu mengakui keunggulan Iran dengan skor yang sama  3 – 2 ( 2008,2009,2010).
Barulah pada kejuaraan hoki ruangan Asia ke 4 di Saraburi Thailand tahun 2012, posisi Malaysia sebagai runner up tergeser oleh Uzbekistan yang pada laga puncak lagi – lagi harus mengakui keunggulan Iran dengan 8 gol tanpa. Malaysia negeri dengan tradisi kuat olahraga hoki, pada even tersebut juga harus menerima kenyataan pahit digulung Iran dengan skor 8 – 2.
Prestasi negeri para Mullah ini dalam format hoki ruangan memang dahsyat.Mereka juga juara pada kompetisi hoki ruangan Asian Indoor Games di Macau tahun 2007, ketika itu mereka mengalahkan korea selatan pada laga puncak dengan skor 7 – 0. Lalu bagaimana prestasi mereka pada hoki lapangan ?.
Catatan menunjukan bahwa pada Asian Games Teheran tahun 1974, sebagai tuan rumah Iran hanya menempati posisi ke 6 yang merupakan peringkat terendah. Iran bahkan mengalami kekalahan 13 – 0 dari Pakistan yang kemudian keluar sebagai juara.
Rekam jejak Iran kemudian tak terdengar cukup lama, sampai kemudian mereka hadir pada kejuaraan Asia di Dhaka  Bangladesh tahun 1985 , saat itu mereka finish pada posisi ke 10 dari 10 negara peserta. Disinipun Iran mengalami kekalahan besar dengan 16 gol tanpa balas atas Pakistan.
Selanjutnya Iran kemudian dengan cerdik memilih lebih fokus pada pengembangan hoki ruangan. Didukung sarana dan prasarana yang luar biasa, konon kabarnya mereka memiliki 400 gimnasium berstandar internasional. Iran memiliki  tatanan kompetisi berjenjang,  termasuk sebuah liga nasional hoki ruangan yang diikuti oleh 16 klub. Jadi tak heran jika Iran kemudian tumbuh menjadi raksasa hoki ruangan Asia.
Namun penguasa Asia tersebut ternyata tertatih – tatih saat harus bertarung pada kasta tertinggi,kejuaraan hoki ruangan dunia. Langkah Iran tak lebih dari sebatas babak penyisihan pool. Pada pagelaran kejuaraan dunia hoki ruangan terakhir di Poznan Polandia tahun 2011 lalu, Iran yang  tergabung di pool B bersama Austria,Russia,Inggris,Republik Czech dan Amerika Serikat. Hanya mampu menempati posisi ke 5 babak penyisihan, dengan hanya mengumpulkan nilai 6.
Mereka dikalahkan Austria dengan skor 5 – 1, lalu harus mengakui keunggulan Republik Czech dengan skor 3 – 4. Mereka juga tak beruntung saat berduel dengan Inggris dan kalah dengan skor akhir 6 – 4. Nilai 6 yang diraih Iran adalah hasil dari 2 kemenangan, masing – masing diraih pada laga menghadapi Amerika Serikat yang berakhir dengan skor 6 – 2.  Iran pada even tersebut juga berhasil meraup poin penuh 3 seusai menjinakan Russia dengan skor 7 – 4 . Austria dan Russia dengan nilai 10, kemudian sama – sama melaju ke babak Semifinal  mewakili pool B.
Pada babak semifinal Russia terjungkal dengan 10 gol tanpa balas atas Jerman yang kemudian tampil sebagai juara. Jerman pada laga pamungkas berhasil membuyarkan ambisi tuan rumah Polandia dengan skor 3 – 2. Sebelum tersingkir pada laga puncak, tuan rumah Polandia pada partai semifinal menghentikan Austria dengan skor tipis 2 – 1. Posisi 3 akhirnya ditempati Austria setelah pada laga hiburan berhasil mengamankan asa tersisa untuk posisi peringkat ketiga, usai mengalahkan Russia dengan 5 gol tanpa balas.  Menarik menyimak apa yang disampaikan Tim menejer Iran – Hadi Saravi Shariati  “We are the best in Asia but we’re nothing in Indoor Hockey World Cup”.

CHANGHUA 2014 DAN KONTROVERSI TIM NASIONAL HOKI RUANGAN

Changhua, secara resmi dikenal sebagai Changhua City (Cina: 彰化市; pinyin: Zhanghua Shi; Wade-Giles: Chang-hua Shih, Peh-oe-ji: Chiong-hoa-chhi), adalah sebuah kota setingkat kabupaten. Selama berabad-abad Changhua adalah  pemukiman suku Babuza, suku pesisir pribumi Taiwan. Nama kota ini berasal dari kata asli Poasoa (karakter Han: 半线; Taiwan: POA ⁿ-soa ⁿ). Demikian penggalan dari penjabaran singkat Wikipedia tentang Changhua. Kota yang dicapai dua setengah jam perjalanan darat dari Tao Yuan international Airport.

Changhua merupakan akhir dari sebuah perjalanan yang lumayan melelahkan setelah sebelumnya didahului dengan 5 jam penerbangan dengan menggunakan jasa China Airlines. Demikianlah durasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kota tempat penyelenggaraan Kejuaraan Hoki ruangan Asia ke 5.

Bukan soal perjalanan menuju kota Changhua yang akan dikupas disini. Bukan pula mengenai hasil dari pertandingan perdana yang sudah dilakoni tanggal 15 Juni lalu saat harus mengakui keunggulan Malaysia dengan skor akhir 1 – 4, ataupun skor 1 – 15 saat harus merasakan keganasan daya gedor Iran – raja indoor hockey Asia pada hari kedua.

Komentar seru di jejaring sosial di tanah air adalah bagian yang justru ingin diluruskan disini. Setidaknya agar beberapa individu yang gemar memberikan coretan “tak jelas” di dunia maya faham mengapa negeri ini, dalam hal ini direpresentasikan oleh Federasi Hoki Indonesia (FHI), memaksakan untuk mengirimkan timnya pada kejuaraan hoki ruangan Asia ke 5. Pasti banyak yang tak tau bahwa ada nilai politis yang dijadikan titik bidik.

Untuk tujuan tersebut, dua event penting diburu pada medio 2014 ini. Pertama adalah kejuaraan hoki ruangan Asia dan berikutnya pada Agustus mendatang adalah Kejuaraan Hoki perempuan U – 21 Asia di Hongkong. Selain menunjuk Pengprov FHI DKI Jakarta, untuk event di Hongkong PP FHI sudah menunjuk pula Pengprov Papua ( http://m.rimanews.com/read/20140616/156405/koni-papua-diminta-bantu-pembinaan-cabang-hoki?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twiter ) untuk mewakili Indonesia. Kedua even tersebut punya nilai politis besar.

Pertanyaannya adalah apakah kebijakan penunjukan tersebut salah ?. Tentu saja tidak, karena kedua program ini sebelumnya telah disosialisasikan pada Munas FHI pada bulan Mei 2014 lalu. Dalam kondisi dimana perburuan aspek legalitas pengakuan internasional dari Asia Hockey Federation ( AHF ) menjadi prioritas utama, rasanya kebijakan tersebut sah saja, dalam arti membagi beban pembiayaan yang dipastikan memang tak murah. Dalam kondisi saat ini, dipastikan sulit untuk dapat ditanggulangi sendirian oleh PP FHI.

Agar diketahui untuk dapat tampil di kedua even tersebut saja, terlebih dahulu PP FHI harus melunasi hutang iuran keanggotaan yang tunggakannya sudah berusia 4 tahun, warisan PHSI. Ternyata iuran tahunan AHF ( 600 US $ ) jauh lebih mahal dibandingkan iuran FIH ( 123 euro ).

Komentar miring juga mempertanyakan apakah tim hoki ruangan DKI Jakarta layak mewakili Indonesia dalam event tersebut di atas. Tim hoki DKI Jakarta dengan materi pemain asal Universitas Negeri Jakarta, adalah juara pertama diseluruh even hoki ruangan penting di negeri ini. 6 gelar juara diraih sepanjang rentang bulan Mei 2012 sampai dengan bulan Mei 2014 lalu. Tim tersebut juga punya catatan prestasi bagus ( peringkat 4 ) saat even internasional Singapore Indoor Hockey Chalenge, October 2013 lalu. Dengan catatan bagus tersebut, Pengprov Hoki DKI dengan dukungan penuh KONI DKI Jakarta langsung menyanggupi tawaran FHI dan menempatkan kejuaraan hoki ruangan Asia ke 5 sebagai bagian dari persiapan menuju PON 2016 mendatang. Bertanding dengan kualitas lawan 3 kasta di atas, adalah sebuah proses pembelajaran penting yang sungguh sayang untuk dilewatkan.

Lalu bagaimana dengan kontroversi penggunaan istilah tim nasional ?. untuk  diketahui, bahwa tim nasional dapat dibentuk dengan beberapa cara. Pertama dengan memanggil pemain yang dianggap potensil, lalu menyatukannya dalam sebuah program pemusatan latihan nasional ( Pelatnas ). Biayanya jangan ditanya, dengan jalur ini pastinya akan menghabiskan anggaran setidaknya di atas 1 milyard rupiah.

Cara kedua adalah induk organisasi cabang olahraga menunjuk tim yang dianggap terkuat, berdasarkan rekam jejak prestasi. Dari sisi prestasi, seperti telah disebutkan di atas catatan tim hoki ruangan DKI Jakarta rasanya tak perlu diperdebatkan lagi karena sangat transparan.

Hal penting lain yang mungkin harus diketahui oleh para komentator media sosial, bahwa tim nasional Malaysia adalah tim Angkatan Tentera Malaysia (ATM). Jadi cara pembentukan tim nasional yang dilakukan hampir sama dengan yang dilakukan negeri ini. Demikian tulisan ini diturunkan, di era keterbukaan ini memang semua bebas untuk memberikan komentarnya via jejaring sosial namun ada baiknya bila itu dapat dilakukan dengan bijak, apalagi jika komentar dilakukan oleh seorang pendidik.

SNAPSHOT – OUTDOOR BASED CHARACTER BUILDING 2014

Gallery

This gallery contains 187 photos.

Tuntas sudah sebuah obsesi untuk mengulangi catatan prestasi yang dibuat pada tahun 2009 lalu. Peristiwanya memang serupa tapi tak sama, namun catatan yang digoreskan mungkin akan menjadi kenangan yang tak akan habis untuk diceritakan kembali oleh para pelakunya. Sebuah perkemahan … Continue reading