ANOTHER SNAPSHOT-TEAM INDONESIA-FIELD HOCKEY COMPETITION-SEA GAMES 2015

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

SNAPSHOT – QUARTER FINAL INDOOR HOCKEY WORLD CUP 2015

Babak quarter final kejuaraan dunia hoki ruangan memang dahsyat. Leipzig Arena jadi saksi bisu dari sejumlah drama yang terjadi di lapangan permainan.  Rangkaian slide foto dibawah ini mungkin dapat bertutur banyak mengenai duel memperebutkan posisi terhormat pada babak semifinal.

This slideshow requires JavaScript.

OUTSIDE THE PITCH

Arena Leipzig, demikian nama tempat digelarnya kejuaraan hoki ruangan dunia. Bangunan megah multi-fungsi yang dibangun pada awal dekade 2000 tersebut punya kapasitas 8000 penonton. Selain menjadi saksi bisu even – even besar olahraga, arena Lepizig yang megah tersebut juga pernah menjadi panggung demostrasi kehandalan para musisi papan atas dunia. Sebut misalnya Shakira,Queen,Scorpions,Whitney Houston dan banyak lagi.

Selama berlangsungnya pertarungan para tim papan atas hoki ruangan dunia. Menarik pula disimak ragam kejadian yang terjadi diseputar Pitch lapangan permainan. Mulai dari ketegangan para Tactician menyaksikan strategi racikannya bergulir, mimik serius para juru foto, atau pula hebohnya para pendukung tiap tim. Rangkaian slide foto dibawah ini bercerita banyak mengenai sisi lain lapangan pertandingan. (Vatco)

This slideshow requires JavaScript.

IRAN MEMBANGGAKAN

Akhirnya ada juga tim asal benua Asia yang mampu mencapai babak semi-final kejuaraan hoki ruangan dunia. Beruntung dapat menyaksikan langsung peristiwa fenomenal tersebut dari tepi lapangan permainan. Sekaligus mengucapkan selamat kepada Shariatisaravi Hadi team manager Iran, figur yang penulis kenal baik sejak kejuaraan hoki ruangan Asia di Changhua Taiwan tahun 2014 lalu.

Iran membuktikan bahwa sebagai macan Asia mereka layak diperhitungkan. Pada laga babak perempat-final meski dengan cepat harus tertinggal 2 gol di menit – menit awal. Mereka mampu membalikan situasi untuk mengunci perlawanan Russia dengan skor akhir 8 – 5. Performa Iran banyak terbantu penampilan gemilang penjaga gawang Sasan Hatami Nejad yang tampil luar biasa. Entah apa jadinya nasib Iran tanpa pengawalan Goalie berusia 30 tahun dengan 20 Caps internasional tersebut.

Datang dengan materi pemain yang sebagian besar muka baru, konon kabarnya karena dampak konflik internal. Memperhatikan komposisi pemain bila tak salah ingat hanya 5 pemain ex piala Asia yang hadir di Leipzig (Sasan Hataminejad/GK,Chazanisharah Alireza/GK,Bahlooli Masoud,Navid Taherirad,Hamid Noraniyan).

Iran kali ini tidak diperkuat  oleh mesin gol Norouzadeh Reza,top scorer kejuaraan hoki ruangan Asia tahun 2014 lalu. Mereka maju perang dengan komposisi pelatih yang berbeda dibandingkan saat merajalela di Changhua. Di Leipzig Safei Esfandyar dipercaya menjadi peracik utama strategi Iran,menggantikan Nourani Rajab.

Demikianlah Iran memulai kampanye di Leipzig dengan tertatih- tatih. Pada hari pertama sebagai raja hoki ruangan Asia mereka harus mengakui keunggulan Austria dengan skor 7 – 2.  Nasib Iran semakin tak pasti. Juara bertahan Jerman melumat mereka pada laga kedua. Skor 11 – 3 memberikan gambaran signifikan jalannya laga yang tak berimbang.

Namun mereka kemudian menghidupkan peluang dengan meraih point kemenangan setelah mengalahkan Australia dengan skor 8 – 5. Berlanjut kemudian dengan catatan draw 3 – 3 dengan Republik Cheko. Meski dengan raihan point pas – pasan mereka lolos ke babak 1/4 final.

Andaikan nanti mereka gagal meredam Austria pada babak semifinal, pencapaian mereka kali ini tetap merupakan lompatan signifikan. Di Poznan Polandia 4 tahun lalu mereka hanya finish pada posisi peringkat 9 klasemen akhir.

1.K

LEIPZIG 2015

Butiran salju yang turun deras dari langit, bercampur dengan tiupan angin dingin yang menusuk adalah sambutan pertama kala tiba di stasiun kereta Leipzig, pada hari Selasa tanggal 3 Febuari 2015. Kota di timur Jerman tersebut, adalah akhir dari perjalanan 8 jam dengan menggunakan kereta api dari Amsterdam.

Di dalam stasiun Leipzig yang cukup besar dan nyaman, makan adalah strategi pertama yang dipilih untuk menghadapi etape berikutnya. Dalam kondisi cuaca yang sangat tak bersahabat bagi manusia tropis, pastinya sangat tak nyaman berjalan kaki menuju penginapan dengan perut kosong. Restauran cepat saji KFC, di pojokan stasiun Leipzig benar-benar bak sebuah Oase. Tempat balas dendam, mengingat makanan terakhir yang masuk adalah saat sarapan pagi di Amsterdam.

Posisi kota  Leipzig secara geografis terletak 150 Km sebelah Selatan Berlin. Ensiklopedi Wikipedia menyebutkan bahwa kota Leipzig telah menjadi kota perdagangan setidaknya sejak zaman Kekaisaran Romawi. Kota ini terletak di persimpangan Via Regia dan Via imperii, dua rute perdagangan penting pada masanya.

Pabrik pesawat tempur legendaris Messerschmitt Bf 109, salah satu ujung tombak Luftwafe ( angkatan udara Jerman) posisinya juga di Leipzig, menyebar di  3 lokasi yakni Heiterblick, Abtnaundorf dan Mockau.

Tak heran bila pada era perang dunia ke II, Leipzig menjadi sasaran gelombang serangan udara Amerika dan Inggris. Serangan paling dahsyat berdasarkan studi dokumenter digelar oleh  oleh Royal Air Force ( RAF) pada dini hari tanggal 4 Desember 1943 dan menewaskan lebih dari 1.800 jiwa. Sebagian besar pusat kota hancur.

Kedepannya selama sisa waktu perang dunia ke II, Leipzig tetap menjadi target serangan udara berat berikutnya. Seusai perang dunia Kota Leipzig menjadi salah satu kota utama di Jerman Timur dan kemudian ikut memainkan peran besar pula, dalam proses reunifikasi Jerman. Saat ini berdasarkan riset lembaga riset pemasaran GfK, adalah salah satu pusat ekonomi dan merupakan salah satu kota paling layak huni di Jerman.

Demikianlah selintas mengenai kota Leipzig. Namun perjalanan panjang menuju Leipzig sama-sekali bukan bertujuan untuk mengkaji sejarah kota Leipzig. Di kota ini tengah digelar kejuaraan hoki ruangan dunia ke 4 (Indoor Hockey World Cup 2015).

Itulah target sesungguhnya, kalau kata generasi sekarang “Sesuatu banget” bisa menyaksikan langsung pertarungan hoki ruangan kasta tertinggi planet ini. Memang pada era globlisasi ini, bisa saja menyimak even dahsyat tersebut via Live Streaming. Namun menyaksikannya langsung, adalah sebuah obsesi lama. Keinginan tersebut menjadi semakin besar setelah merasakan langsung atmosfir kejuaraan hoki ruangan Asia di Changhua Chinese Taipei tahun 2014 lalu.

Penasaran ingin menyaksikan langsung bagaimana tim hoki ruangan putera Iran, raja hoki ruangan Asia bertarung di level tertinggi. Mengabadikan momentum empat tahunan tersebut melalui lensa kamera tentunya adalah bagian lain yang juga cukup mengasikan. Disamping tentunya mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan para pelaku hoki ruangan dari mancanegara. Beberapa dari hasil bidikan lensa dapat dinikmati pada slide foto di bawah ini. (Vatco)

This slideshow requires JavaScript.

 

 

 

MENYONGSONG PARADIGMA BARU PEMBINAAN PENGPROV FHI JAKARTA

Suatu siang saya tersenyum membaca salah satu artikel pada blog pribadi Rhenald Kasali. Beberapa alinea paragraf menarik untuk dikutip, karena sangat mewakili apa yang saat ini terjadi pada lingkungan komunitas olahraga hoki di  Ibukota.Terutama pasca hadirnya kepengurusan baru Pengprov FHI Jakarta, menyusul dibekukannya kepengurusan lama oleh KONI DKI Jakarta penghujung tahun 2013 lalu.
Dahlan Iskan pernah menyebutkan dalam setiap perubahan selalu saja ada kelompok 10% yang baiknya “dieman-eman” (istilahnya) saja. Pokoknya mereka akan selalu menentang.  Di komunitas perubahan, kami biasa menyebut kelompok itu sebagai “oposan abadi”.  Kelompok ini unik dan kalau kita mengerti cara berpikirnya, sebenarnya bisa menjadi hiburan ketimbang menjadi lawan yang menegangkan. Mereka terdiri dari orang-orang yang bereaksi paling keras setiap kali ada perubahan.  Namun begitu hasil perubahan ada, pelahan-lahan mereka diam juga, lalu mengangkat kritik pada topik lain. Tetapi dasarnya tetap sama, senang diperhatikan, senang memarahi, senang dianggap pandai atau penting.  Ganggu sedikit, colek yang banyak, sukur-sukur bisa masuk tv, walau cuma sekali-kali. Itu sudah menghibur hati.  Sudah masuk dalam daftar CV untuk kegiatan lebih jauh.
“Criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body. It calls attention to an unhealthy state of things.”
(Winston Churchill)
Winston Churchill seperti kutipan di atas menyebutkan, sekalipun Anda tak setuju, kritik itu perlu. Ngga apa- apa, apalagi di abad transformasi, abad perubahan di negeri demokrasi.  Kritik katanya, ibarat rasa sakit dalam tubuh manusia, pertanda perlunya perhatian untuk merawat kesehatan. Hanya saja, ia juga pernah mengatakan kritik itu ada lima macam. Pertama, kritik yang tulus, bertujuan mengingatkan.  Kedua kritik yang bertujuan cari keuntungan. Ketiga, kritik untuk mengatasi rasa takut. Keempat, kritik cari perhatian. Dan kelima, kritik untuk menunjukkan identitas.
Entah mana dari lima macam kritik versi Winston Chuchill yang tepat dialamatkan pada beberapa individu kepengurusan Pengprov lama, yang gemar memberikan komentar tak bermutu di jejaring sosial. Mungkin poin keempat dan kelima yang paling tepat, ada kesan tak rela ketika harus mundur karena prosedur organisasi.
Benar kata Dahlan Iskan. Ini layak dieman-eman, lumayan bisa menghibur.  Kalau ilmuwan marah, selain ada yang benar, ada juga yang lucu.  Bukan logika yang dicari seperti layaknya ilmuwan sejati yang open mind, tapi kalimat nggak penting yang menyinggung perasaannya.  Kalimat itu dikutip dalam pesan twitter, lalu dikomentari dengan gaya dosen zaman dulu yang uring-uringan memeriksa paper mahasiswa.  Lalu dari situ diharapkan mendapat dukungan dari komunitas yang tentu saja menjawab dengan jenaka dan lucu-lucuan juga.  Sebuah pergumulan yang indah yang kadang membingungkan bagi yang lain.
Dalam rentang kepengurusan baru yang masih seumur jagung, Pengprov FHI Jakarta memprioritaskan untuk terlebih dahulu melakukan konsolidasi interen. Fokus ditujukan pada beberapa pekerjaan rumah yang sebelumnya tak sempat dikerjakan pengurus lama. Sebut misalnya memfasilitasi hadirnya kepengurusan Kota (Pengkot). Aktifitas tersebut berjalan simultan, berbagi konsentrasi dengan pelaksanaa Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) persiapan menuju PON 2016 mendatang.
Dalam rentang tersebut di atas, dua kegiatan internasional resmi dengan dukungan penuh KONI DKI Jakarta telah  berhasil diikuti. Masing – masing Asia Mens Indoor Hockey Championship di Changhua Taiwan dan yang terkini Singapore Indoor Hockey Challenge. Bukan perkara sederhana untuk menghadirkan tim di dua event tersebut, dibutuhkan kemampuan Lobby tersendiri untuk meyakinkan para pemangku kebijakan Asia Hockey Federation. Untuk Outdoor Hockey sementara ini memang belum ada event resmi yang tepat, karena akan sangat ironis jika Pengprov menyertakan tim hanya pada sebuah Event Fun Game. Lagipula “Nomenklatur” KONI DKI tidak memungkinkan pemanfaatan anggaran Pembinaan dan Prestasi (Binpres) untuk sekedar partisipasi pada event kelas festival. Kemungkinan besar, peluang untuk berpartisipasi pada event resmi Outdoor Hockey akan direncanakan pada tahun 2015 mendatang.
Liga Hoki Jakarta (LHJ) sejauh ini memang belum kembali berputar.Ini yang kini agaknya gemar dijadikan isu sensitif oleh kelompok 10% versi Dahlan Iskan seperti tersebut di atas. LHJ memang agak terlambat digelar, karena konsepnya perlu ditata ulang untuk dapat memberikan hasil maksimal bagi proses pembinaan, bukan sekedar kegiatan kompetisi yang asal digelar dengan siapapun dan darimanapun bisa ikut bermain.
Fakta terpuruknya tim – tim pelajar asal Jakarta pada beberapa event tingkat pelajar jadi bukti otentik bahwa ada yang salah dalam proses pembinaan prestasi. Ini mungkin yang ketika itu tidak dipahami. Format lama kompetisi LHJ yang menggabungkan klub – klub pelajar, sama sekali tidak bijaksana ditinjau dari sisi terminologi kepelatihan.Ada perbedaan signifikan yang ketika itu tidak disadari. Terminologi kepelatihan mengenal usia biologis dan usia latihan.
Penggabungan klub – klub pelajar tidak memberikan kesempatan pada para pemain usia pelajar, untuk mengembangkan potensinya. Kerap mereka cuma menjadi lumbung gol saat bertanding dengan klub – klub bermaterikan  pemain dengan usia biologis dan usia latihan yang lebih matang. Jelas tidak kondusif bagi perkembangan psikologis pemain.
Rencananya minggu pertama November 2014 mendatang LHJ akan kembali digelar dengan format baru yang lebih mengedepankan pembinaan olahraga hoki Ibukota. Kompetisi LHJ dari Jakarta dan untuk pembinaan pemain Jakarta, demikian paradigma baru yang hendak dihadirkan.Mari bersama kita sambut dan dukung paradigma baru kompetisi Liga Hockey Jakarta.Format baru kompetisi yang lebih berorientasi pada pembinaan.
Hasilnya memang tidak akan segera terlihat, berbeda dengan menanam rumput. Olahraga prestasi menganut terminologi yang sangat mendewakan sebuah proses.Karena produk akhir lahir berdasarkan kebenaran sebuah proses.