MENGENANG 24 TAHUN EKSPEDISI EVEREST KOPASSUS.

Bulan April memang selalu berbeda, khususnya bagi para mantan anggota tim ekspedisi Everest Kopassus Indonesia 1997. Meski peristiwa tersebut telah berlalu lebih dari dua Dasawarsa, kenangan kebersamaan dalam sebuah misi beraroma Mission Impossible tersebut membekas cukup dalam, sulit untuk dilupakan begitu saja.

Memang tidak berlebihan menyebutnya “Mission Impossible” sebagai sebuah misi yang hampir tak mungkin untuk bisa dituntaskan dengan sukses. Bahkan seorang pemandu pendakian profesional sekaliber Anatoly Boukreyev menyarankan rentang waktu persiapan satu tahun. Sebagai Durasi waktu minimal yang tak bisa ditawar. Itu disampaikan saat tatap muka perdananya dengan Mayjen TNI Prabowo di Makopassus Cijantung, penghujung tahun 1996 lalu.

Asumsinya dalam rentang waktu satu tahun, calon pendaki akan diasah melalui  rangkaian program penambahan pengalaman jam terbang pendakian. Medan latihannya adalah rangkaian simulasi ekspedisi pendakian puncak-puncak di jajaran pegunungan Himalaya, dengan ketinggian yang akan diarahkan secara progresif. Namun saran tersebut terpaksa diabaikan,menunda berarti memberi kesempatan kepada negeri Jiran Malaysia menjadi negara pertama di region Asia Tenggara yang mengibarkan bendera kebangsaannya di puncak Everest.

Memang harus diakui bahwa peluang keberhasilan tim, secara jujur ketika itu memang sangatlah kecil. Kekuatan utamanya adalah komposisi anggota tim saat itu, didominasi para prajurit baret merah dengan spesialisasi “Assault Climber” pendaki serbu terbaik. Walau miskin pengalaman pendakian, para prajurit elit tersebut punya motivasi berbeda, lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas. Mengenai peluang dalam bukunya yang berjudul  The Climb, kepada Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal  Prabowo Subianto, Boukreyev memproyeksikan “bahwa peluang kebehasilan hanya 30 % untuk menghadirkan satu pendaki Indonesia ke puncak Everest”.

Sejarah kemudian mencatat, bahwa prediksi Anatoly ternyata salah. Melalui jalur pendakian sisi selatan, bendera merah putih berhasil dikibarkan di puncak tertinggi dunia. Momentum tersebut, sekaligus memupus asa Malaysia untuk selamanya. Kelak peristiwa tersebut terbukti mampu menginspirasi generasi pendaki berikutnya. Pasca ekspedisi Everest Kopassus, 10 pendaki Indonesia tercatat sebagai Summiter Everest. Lebih dari itu, kini enam pendaki asal Mahitala Unpar (dua diantaranya perempuan) dan empat asal Wanadri berhasil menuntaskan pendakian 7 puncak tertinggi di 7 lempeng benua. Jumlah yang jauh di atas negara Asia Tenggara manapun.

Untuk memperingati momen tersebut, tahun ini bersama Rudi “Becak” Nurcahyo, penulis mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda.Dengan meminta para anggota tim memberikan komentarnya dalam bentuk rekaman video, dengan sudut pengambilan gambar ditentukan. Agar sesuai dengan skenario, Rudi Becak bahkan harus mengirimkan terlebih dahulu rekaman yang dibuatnya sebagai contoh.

Memang tidak mudah, karena berbicara didepan kamera bukan perkara sederhana. Beberapa diantaranya bahkan terpaksa diminta merekam dan mengirim ulang rekaman videonya, karena tidak sesuai dengan syarat yang telah ditentukan. Pada akhirnya kumpulan video pendek hasil rekaman berhasil terkumpul, kemudian disatukan dalam sebuah video berdurasi pendek. Memang masih jauh dari sempurna, namun setidaknya inilah testimoni pertama dari para mantan anggota tim, 24 tahun setelah peristiwa fenomenal tersebut berlalu.